Penyembelihan Hewan Qurban

Tolong disebarkan kepada teman-teman yang mau 28:56

Silahkan bergabung dengan mailing groups bahasaquran di groups.yahoo.com.

 

Sebentar lagi kita insya Allah dipertemukan dengan Idul Adha dimana kita akan berbondong-bondong menyembelih hewan qurban untuk kemudian dibagikan kepada orang miskin.

Suatu yang yang perlu kita pahami di dalam prosesi Idul Adha ini adalah tata cara ajaran Allah untuk menyembelih hewan qurban.

Didalam membahas topik ini, perlu terlebih dahulu disampaikan bahwa Allah adalah Tuhan yang tidak memiliki kepentingan (vested interest) atau membutuhkan makhluknya, termasuk manusia seperti saya, sayalah yang membutuhkan perlindungan dan segala sesuatu dari Allah, sebagaimana disebutkan dalam Surat 35:15, Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. Allah adalah Tuhan dimana saya diciptkana untuk menyembah-Nya, mengabdi penuh kepada-Nya, Dia tidak membutuhkan apapun juga dari saya, sebagaimana disebutkan dalam Surat 51:56, Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.Sekali lagi, memberi makan ini maknanya amat luas yaitu pemberian kepada Allah dalam bentuk apapun. Sehingga kalau kita berprasangka bahwa Allah akan senang jika kita rajin menyebut-nyebut namanya, apakah itu bukan prasangka bahwa Allah membutuhkan pujian dari manusia?

Melalui pemahaman diatas, maka sebagaimana email saya sebelumnya yang membahas bahwa Bismillahhir Rahmanir Rahim, lebih pas diartikan Dengan Ajaran (Ismi/Isme) Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, karena dengan pemahaman seperti itu, maka kita tidak sekedar menyebut-menyebut nama-Nya tetapi melaksanakan ajaran-Nya yang mengasihi dan menyayangi orang lain.

Demikian pula di dalam tata cara menyembelih hewan qurban. Seringkali disebutkan dalam al Quran bahwa hewan yang halal hanyalah yang ketika menyembelihnya disebut nama Allah, sehingga menimbulkan kesan bahwa hanya di daerah tertentu yang mengerti bagaimana mengucapkan basmalah dengan benar, kita boleh memakan hewan. Lebih unik lagi ketika kita mengetahui bahwa di tempat pemotongan ayam yang jumlahnya masal, karena tidak dapat diucapkan basmalah satu per satu, maka fungsinya digantikan oleh audio yang mengucapkan basmalah. Timbul prasangka pada diri kita bahwa selama sudah diucapkan kata-kata basmalah, maka Allah sudah senang dan ridho, kesannya Allah butuh diucapkan namanya ketika makhluknya disembelih.

Marilah kita perhatikan Surat 6:118-119, Maka makanlah binatang-binatang (yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, jika kamu berima kepada ayat-ayat-Nya. Mengapa kamu tidak memakan (binatang-binatang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. Dan sesunguhnya kebanyakan (dari manusia) benar-benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesunguhhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas.

Sengaja saya menyebutkan versi penterjemahan “disebut nama Allah” diatas sebagai apa yang berlaku secara umum. Padahal hakikat dari ISMU ALLAH atau ISMI ALLAH adalah AJARAN ALLAH. Sehingga pemaknaan ayat diatas seharusnya menjadi “Maka makanlah binatang-binatang (yang halal) yang dengan ajaran Allah ketika menyembelihnya” dan“Mengapa kamu tidak memakan (binatang-binatang halal) yang dengan ajaran Allah ketika menyembelihnya, padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya.

Menyembelih dengan ajaran Allah yang dimaksudkan diatas adalah prosesi dan tata cara menyembelih hewan yang dilandasi ajaran kasih sayang kepada seluruh makhluk Allah termasuk kepada hewan yang disembelih. Tata cara menyembelih hewan haruslah berdasarkan kasih sayang, tidak disiksa dan dianiaya. Apakah ada tata cara menyembelih hewan berdasarkan ajaran Allah di al Quran?

Marilah kita perhatikan Surat 22:36, Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syiar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka menyembelihnya dengan ajaran Allah (kasih sayang) dalam keadaan berdiri. Kemudian apabila telah roboh, maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepadamu, mudah-mudahan kamu bersyukur.

Jika diperhatikan ayat diatas, unta adalah perumpamaan hewan. Menyembelihnya dengan ajaran kasih sayang atau ajaran Allah  dan dalam keadaan berdiri tanpa unsur paksaan. Setelah nya harus ada jatah yang diberikan kepada orang miskin.

Lebih lanjut, prosesi ketika menyembelih sebaiknya didoakan sebagaimana disebutkan dalam Surat 11:56, Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dia-lah yan memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku diatas jalan yang lurus.

Jika seekor hewan disembelih dengan cara dipaksa dan bahkan dianiaya, seperti yang umumnya terjadi di Indonesia, atau disembelih tidak dengan kasih sayang, maka pada hakikatnya hewan sesembelihan itu tidak layak dikonsumsi manusia, karena tidak dilandasi oleh sesuatu perbuatan yang baik kepada makhluk Allah, sebagaimana disebutkan dalam Surat 16:115, Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembelih tidak dengan ajaran Allah; tetapi barangsiapa yang terpaksa memakannya dengan tidak menganiaya dan tidak pula melampaui batas, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Saya ingin menutup pembahasan ini dengan sebuah cerita berdasarkan pembahasan tersebut diatas dan silahkan mengambil kesimpulan sendiri.

Jika terdapat dua pemahaman yang berbeda bahwa yang disebut dengan ISMI ALLAH adalah nama Allah atau AJARAN ALLAH, maka mana dari keempat cerita ini yang haram untuk dimakan karena proses penyembelihan yang salah.

Pertama, sapi Indonesia keturunan Australia yang disembelih di masjid-masjid dalam rangka Idul Adha yang disembelih dengan menyebut nama Allah, tetapi cara menyembelihnya dengan kekerasan, paksaan, dianiaya, diikat, dijatuhkan bahkan tulang kaki hewan tersebut sampai patah, kemudian darahnya pun hanya dibuang ke got atau kali. Darah menyembur dengan deras dari leher sapi tersebut karena stress tinggi.

Kedua, sapi Australia yang disembelih di Australia dengan ajaran kasih sayang, dimana sebelum disembelih, sapi tersebut ditembak sudur atau otak belakangnya dengan angina sehingga pingsan, baru kemudian disembelih dengan tidak menyakiti dan menganiaya. Darahnya pun dikelola dengan standar kebersihan dan kesehatan yang tinggi. Darah tidak menyembur tetapi mengucur karena kerelaan sapi tersebut dan tidak stress.

Ketiga, ayam yang disembelih di rumah pemotongan ayam masal yang demi memenuhi ketentuan menyebut nama Allah, maka mereka menggunakan kaset audio yang selalu mengumandangkan nama Allah.

Keempat, orang Jawa yang memotong ayamnya dengan ajaran kasih sayang, namun dia menyebut nama Tuhannya dengan sebutan “Gusti Pangeran”.

Catatan:

1.    Angka diatas berarti rujukan ayat al Quran, 28:56 berarti surat ke-28 ayat ke-56, mohon dibaca langsung al Qurannya sebagai sumber kebenaran.

2.    Mohon dicek kalau ada kesalahan dalam nomor ayat al Quran nya dan mohon ditambahkan untuk kesempurnaan.

,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 165 other followers

%d bloggers like this: