Penyakit Jiwa (bagian kedua)

Tolong disebarkan kepada teman-teman yang mau 28:56

Silahkan bergabung dengan mailing groups bahasaquran di groups.yahoo.com.

Masih ingat dengan pembahasan sebelumnya yang berjudul “Jalur A dan Jalur B”?

Di dalam pembahasan tersebut, dijelaskan bahwa Allah berkomunikasi dengan manusia melalui tiga macam cara. Pertama, dengan perantaraan wahyu. Kedua, melalui bisikan di otak atau di belakang tabir. Ketiga, dengan mengutus utusan. Hal ini dijelaskan melalui Surat 42:51, Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana. (Sebagai catatan, di dalam al Quran terjemahan seringkali ditambahkan kata malaikat setelah utusan, padahal kata malaikat ini tidak ada dalam bahasa aslinya).

Substansi komunikasi Allah dengan manusia hanya dua macam, yaitu petunjuk-Nya di jalan lurus dan kesesatan, karena Allah selain menunjuki manusia, juga menyesatkan manusia, sebagaimana disebutkan dalam Surat 14:4, Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.

Sehingga, melalui ketiga cara komunikasi tersebut, Allah dapat menunjuki manusia ke jalan yang lurus dan dapat pula menyesatkan manusia ke jalan yang sesat.

Cara komunikasi pertama melalui wahyu.

Melalui wahyu di dalam al Quran, Allah dapat memberikan petunjuk kepada manusia, sebagaimana disebutkan dalam Surat 18:1-2, Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al-Quran) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya; sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal saleh, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik,

Namun melalui wahyu di dalam al Quran pula, Allah dapat menyesatkan manusia, sebagaimana disebutkan dalam Surat 2:26,Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?.” Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik,

Cara komunikasi kedua melalui bisikan di dalam pikiran.

Melalui bisikan di dalam pikiran, Allah dapat memberikan petunjuk kepada manusia dengan ciri-ciri terus-menerus bersedekah, berbuat ma’ruf dan mengadakan perdamaian, sebagaimana disebutkan dalam Surat 4:114, Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keredhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.

Namun melalui bisikan di dalam pikiran pula, Allah dapat menyesatkan manusia, sebagaimana antara lain dibahas sebelumnya tentang seseorang yang dilanda halusinasi, anxiety, obsessive compulsive atau schizophrenia. Terdapat banyak lagi bisikan lainnya yang menyesatkan manusia yang datangnya juga dari Allah, misalnya berbuat kikir, merugikan manusia, berbuat boros, dan sebagainya (silahkan dibaca email sebelumnya tentang rintangan hidup dan musuh manusia).

Cara komunikasi ketiga melalui utusan.

Allah adalah Tuhan Yang Maha Suci. Meskipun Allah bersifat Berdiri Sendiri dan Tidak Membutuhkan Makhluknya (Qiyamuhu Binafsihi), namun Dia tidak bekerja sendirian. Dia bekerja melalui utusannya.

Dalam menunjuki manusia ke jalan-Nya yang lurus, Allah mengutus hamba yang menjadi utusan-Nya yang diridhoinya, yaitu malaikat dan manusia, sebagaimana disebutkan dalam Surat 22:75, Allah memilih utusan-utusan-(Nya) dari malaikat dan dari manusia; sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.  

Allah mengutus malaikat (yaitu malaikat Jibril) dan manusia untuk menunjuki manusia lainnya kepada jalan yang lurus. Malaikat dan manusia yang dipilih Allah untuk menunjuki manusia lainnya ke jalan yang lurus adalah yang terisi oleh ayat-ayat Allah sehingga manusia tersebut menjadi kitab yang nyata dan berjalan serta menjadi cahaya Allah yang menunjuki manusia yang lainnya dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang, sebagaimana disebutkan dalam Surat 5:15-16, Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyi kan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.

Namun Allah juga Maha Adil, sehingga segala sesuatunya pasti berpasangan, sebagaimana disebutkan dalam Surat 51:49, Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.

Selain menunjuki manusia ke jalan yang lurus melalui utusan-Nya, Allah juga menyesatkan manusia melalui utusan-Nya yang lain yang bernama syaithan dan manusia, sebagaimana disebutkan dalam Surat 6:112, Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.

Jika dilihat dari perspektif ini, maka jelaslah sudah bahwa teman saya yang mengidap penyakit jiwa atau halusinasi dan mengakibatkan schizophrenia bahwa bisikan di dalam dirinya adalah bagian dari cara berkomunikasi Allah kepada manusia, yaitu dengan membisikkan pikiran-pikiran tersebut melalui utusan-Nya yaitu syaithan di dalam jiwanya (silahkan dibaca ulang pembahasan sebelumnya mengenai Jiwa).

Menjadi pertanyaan berikutnya, mengapa ada manusia yang ditakdirkan Allah menjadi manusia yang berpenyakit jiwa? Mengapa Allah mengutus syaithan untuk membisikkan pikiran-pikiran tersebut ke dalam jiwanya?
(bersambung)

Catatan:

1.  Angka diatas berarti rujukan ayat al Quran, 28:56 berarti surat ke-28 ayat ke-56, mohon dibaca langsung al Qurannya sebagai sumber kebenaran.

2.  Mohon dicek kalau ada kesalahan dalam nomor ayat al Quran nya dan mohon ditambahkan untuk kesempurnaan.

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: