Beruk Pemetik Kelapa

Tolong disebarkan kepada teman-teman yang mau 28:56

Silahkan bergabung dengan mailing groups bahasaquran di groups.yahoo.com.

Di daerah-daerah Sumatera, para petani kelapa seringkali melatih monyet-monyet atau sopannya disebut sebagai beruk, untuk membantu mereka memetik kelapa. Beruk-beruk ini dilatih para petani sehingga mereka bisa memiliki keahlian untuk memutar kelapa di batangnya sehingga kelapa-kelapa tersebut dapat dipetik dalam waktu yang relatif cepat. Beruk-beruk yang sudah terlatih bahkan dapat membedakan kelapa mana yang sudah matang dan memenuhi persyaratan untuk dipetik dan kelapa mana yang belum, sehingga hasil petikan mereka terseleksi dengan baik.

Di dalam melatih beruk-beruk ini, para petani mengajarkan bahwa bentuk kelapa itu bulat seperti bola dan bentuk seperti inilah yang dapat diambil. Para petani juga mengajarkan untuk mengenali bau dan bunyi kelapa yang sudah matang dengan mengetuk-ngetuk buah kelapa tersebut.

Karena metode pengajarannya seperti itu, maka ketika kemudian kita menghidangkan santan kelapa di hadapan beruk-beruk tersebut, maka beruk-beruk tersebut bersikap acuh tak acuh, karena santan kelapa dianggapnya bukan kelapa karena bentuknya yang berbeda. Mereka tidak mengenali bahwa santan kelapa itu adalah kelapa karena bentuk kelapa yang diajarkan kepada mereka adalah bulat seperti bola dan tidak berbentuk cairan seperti santan.

Kira-kira begitulah manusia menerima al Quran. Sebagian besar orang memahami al Quran seperti beruk pemetik kelapa yang hanya mengenal al Quran dari kulitnya saja. Sebagian besar orang memahami al Quran hanya sebatas kulitnya, karena inilah yang diajarkan oleh para pemuka agama sejak dahulu sebagaimana halnya beruk yang diajari oleh para petani. Ketika mereka dibawa kepada pemahaman bahwa santan itu adalah saripati daripada al Quran, maka mereka akan menolak karena tidak sesuai dengan pengajaran sebelumnya.

Padahal Allah sebenarnya menginginkan manusia untuk masuk ke dalam saripati al Quran dan tidak terjebak dengan kulitnya sehingga manusia itu tidak dapat mengambil makna yang mendalam dari ayat-ayat al Quran.

Jika diibaratkan kelapa, maka al Quran itu terbungkus oleh kulit yang berlapis-lapis yang disebut sebagai perumpamaan atau dalam bahasa Arab disebut sebagai amtsal. Al Quran adalah kitab yang penuh diselimuti oleh kulit-kulit perumpamaan dan seperti beruk pemetik kelapa, ketika dijelaskan makna di balik kulit perumpamaan tersebut, kebanyakan orang tidak menerimanya, sebagaimana disebutkan dalam:

Surat 30:58, Dan Sesungguhnya telah Kami buat dalam Al Quran ini segala macam perumpamaan untuk manusia. Dan Sesungguhnya jika kamu membawa kepada mereka suatu ayat, pastilah orang-orang yang kafir itu akan berkata: “Kamu tidak lain hanyalah orang-orang yang membuat kepalsuan belaka.”

Surat 17:89, Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulang kepada manusia dalam Al Quran ini tiap-tiap macam perumpamaan, tapi kebanyakan manusia tidak menyukai kecuali mengingkari (nya).

Surat 18:54, Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al Quran ini bermacam-macam perumpamaan. Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah.

Padahal Allah menginginkan manusia untuk mengupas kulit-kulit kelapa dalam bentuk perumpamaan tersebut dengan mempelajarinya melalui ayat-ayat lain yang menjelaskan sehingga menghasilkan santan yang merupakan saripati dari al Quran, sebagaimana disebutkan dalam Surat 39:27, Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam Al Quran ini setiap macam perumpamaan supaya mereka dapat pelajaran.

Manusia diharapkan Allah untuk tidak terjebak dengan perumpamaan-perumpamaan di dalam al Quran karena Allah juga menjadikan kulit-kulit perumpamaan tersebut sebagai cara-Nya dalam menyesatkan manusia melalui al Quran, sebagaimana disebutkan dalam Surat 2:26, Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?.” Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik,

Manusia diharapkan Allah untuk berpikir melalui kulit-kulit perumpamaan tersebut sehingga tidak terjebak tetapi akan mendapatkan takwil (bukan tafsir) dari perumpamaan-perumpamaan tersebut, sebagaimana disebutkan dalam Surat 59:21, Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.

Sengaja saya menerangkan disini bahwa manusia diharapkan Allah untuk mendapatkan takwil dan bukan tafsir al Quran karena takwil adalah makna yang sebenarnya atau santan dari kelapa. Proses mendapatkan takwil ini adalah melalui tafsir atau penjelasan  dimana penjelasan yang terbaik adalah tafsir langsung dari Allah melalui ayat-ayat al Quran yang lain karena Allah adalah sebaik-baik penjelas atau ahsanal tafsiraan melalui al Quran itu sendiri, sebagaimana disebutkan dalam Surat 25:32-33, Berkatalah orang-orang yang kafir: “Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?”; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar). Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya.

Kalau dapat diilustrasikan dengan mudah, proses membuka tabir ayat bil ayat adalah bagaikan membuka kulit demi kulit kelapa atau disebut sebagai tafsir yang pada akhirnya mendapatkan kesimpulan yang utuh mengenai makna atau santan kelapa yang disebut sebagai takwil, sebagaimana disebutkan dalam Surat 24:35, Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Proses mengupas kulit demi kulit dari ayat al Quran ini tidak dapat dilakukan manusia tanpa ilmu, sebagaimana disebutkan dalam Surat 29:43, Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.

Ilmu untuk mengupas kulit demi kulit kelapa ini adalah ilmu dari Allah yang didapatkan oleh manusia yang dikehendaki Allah untuk ditunjuki-Nya melalui ayat-ayat al Quran dan hanya manusia yang dikehendaki Allah-lah yang kemudian pada akhirnya mendapatkan santan kelapa tersebut, sebagaimana disebutkan dalam Surat 3:7, Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.

Ilmu untuk menakwilkan al Quran ini adalah ilmu Allah dan bukan ilmu manusia, sehingga meskipun kita hafal al Quran atau membaca al Quran setiap hari, jika tidak diturunkan Allah tentang ilmu untuk mengupas kulit demi kulit ayat al Quran, maka manusia tersebut tidak akan mendapatkan santan atau saripati al Quran yang menjadi petunjuk yang sebenarnya, sebagaimana disebutkan dalam:

Surat 4:166, (Mereka tidak mau mengakui yang diturunkan kepadamu itu), tetapi Allah mengakui Al Quran yang diturunkan-Nya kepadamu. Allah menurunkannya dengan ilmu-Nya; dan malaikat-malaikat pun menjadi saksi (pula). Cukuplah Allah yang mengakuinya.

Surat 11:14, Jika mereka yang kamu seru itu tidak menerima seruanmu (ajakanmu) itu maka ketahuilah, sesungguhnya Al Quran itu diturunkan dengan ilmu Allah, dan bahwasanya tidak ada Tuhan selain Dia, maka maukah kamu berserah diri (kepada Allah)?

Untuk lebih jelasnya mengenai bagaimana persyaratan Allah untuk mengupas kulit-demi-kulit atas al Quran, silahkan dibaca kembali tulisan berjudul “Meraih Cahaya Allah” dalam mailing list bahasaquran ini.

Jika dilihat manusia di bumi mempelajari al Quran dalam perspektif cerita beruk pemetik kelapa, maka jangan heran jika manusia di bumi ini sebagian besar seperti beruk pemetik kelapa yang ketika kita membawakan santan kelapa yang merupakan saripati al Quran, mereka akan menolaknya karena bertentangan dengan ajaran para petani yang mengajari konsep tentang kelapa dahulu, karena sebagian besar manusia adalah bodoh. Bodoh disini bukan berarti bodoh secara intelektual, namun bodoh karena tidak mendapatkan ilmu Allah dan tidak mengetahui cara dan persyaratan untuk mendapatkan ilmu Allah. Seorang profesor al Quran atau ahli tafsir mungkin bodoh di mata Allah dan tidak dapat menakwilkan al Quran karena mereka menafsirkan al Quran dalam keadaan tidak mensucikan jiwa dari kemusyrikan, sebagaimana disebutkan dalam Surat 56:77-79, Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.

Akhirnya, saya memohon maaf kalau mengambil perumpamaan beruk ini dianggap kasar, tetapi saya hanya bermaksud agar cerita ini membekas di jiwa kita, sebagaimana disebutkan dalam Surat 4:63, Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka.

Catatan:

1.  Angka diatas berarti rujukan ayat al Quran, 28:56 berarti surat ke-28 ayat ke-56, mohon dibaca langsung al Qurannya sebagai sumber kebenaran.

2.  Mohon dicek kalau ada kesalahan dalam nomor ayat al Quran nya dan mohon ditambahkan untuk kesempurnaan.

,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: