Bersyukur Bukanlah Berterimakasih

Tolong disebarkan kepada teman-teman yang mau 28:56

Silahkan bergabung dengan mailing groups bahasaquran di groups.yahoo.com.

Ketika dahulu saya mengadakan perjalanan umroh ke Arab Saudi, di bandara Arab Saudi seringkali terdengar pengumuman dari petugas yang selalu diakhiri dengan kata “SYUKRON” yang artinya dalam bahasa Arab adalah terima kasih.

Ketika kita membuka al Quran, Allah menghimbau manusia untuk selalu bersyukur dan kita mengartikannya sebagai perintah untuk selalu berterima kasih kepada Allah.

Marilah kita membahas mengenai konsep syukur menurut al Quran.

Pertama, Allah adalah Tuhan yang tidak membutuhkan apapun dari makhluk-Nya, termasuk kesyukuran makhluk-Nya, sebagaimana disebutkan dalam Surat 14:8, Dan Musa berkata: “Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah) maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”

Kedua, kesyukuran manusia kepada Allah adalah bukan untuk Allah, tetapi untuk dirinya sendiri, sebagaimana disebutkan dalam

Surat 32:12, Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”

Surat 27:40, Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.”

Ketiga, manusia yang bersyukur akan diberikan tambahan nikmat oleh Allah dan manusia yang tidak bersyukur akan diazab oleh Allah, sebagaimana disebutkan dalam Surat 14:7, Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”

Keempat, bersyukur kepada Allah bukanlah dengan berterima kasih kepada Allah saja, karena arti syukur dalam bahasa quran bukanlah berterima kasih tetapi menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, sebagaimana disebutkan dalam Surat 76:1-3, Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.

Bersyukur kepada Allah bukanlah dengan mengucapkan terima kasih kepada-Nya, tetapi dengan mengikuti dan menjalankan dengan konsekuen dan istiqomah segala hukum-hukum Allah dalam al Quran dengan terus membaca, mempelajari, memahami, melaksanakan dan mensyiarkan al Quran selama hidup, sebagaimana disebutkan dalam Surat 5:89, Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya).

Marilah kita perhatikan Surat 31:14-15, Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

Di dalam ayat ini disebutkan bahwa kita diperintahkan untuk bersyukur kepada Allah dan kepada dua orang ibu bapak. Maksud dari perintah bersyukur disini bukanlah dengan berterima kasih, namun dengan mengikuti hukum-hukum Allah yang terdapat di dalam al Quran dan mengikuti perintah orang tua.

Di saat kita masih kanak-kanak dan belum mengenal hukum-hukum Allah, kita diperintahkan untuk bersyukur kepada orang tua dengan mengikuti perintahnya. Merupakan tugas orang tua lah untuk membimbing anak-anaknya kepada hukum-hukum Tuhan agar anak-anak kita menjadi manusia yang selalu bersyukur kepada Tuhan.

Jika orang tua memaksa kita untuk hanya bersyukur kepadanya dan tidak kepada Tuhan dengan mempersekutukan-Nya dengan hukum orang tua, maka kita diwajibkan untuk tidak bersyukur kepada orang tua, namun tetap berbuat baik kepadanya, karena pada akhirnya hanya kepada Allah lah kita kembali.

Konsep bersyukur kepada Allah dan kepada orang tua ini juga berlaku untuk setiap manusia. Janganlah kita bersyukur kepada manusia dengan mengikuti perintahnya, tetapi bersyukurlah kepada Allah. Tidak dilarang untuk bersyukur kepada manusia dengan mengikuti perintahnya selama tidak bertentangan dengan kesyukuran kita kepada Allah dengan mengikkuti hukum-hukum Allah di dalam al Quran, sebagaimana disebutkan dalam Surat 9:24, Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.

Manusia yang bersyukur di mata Allah bukanlah manusia yang paling banyak mengucapkan hamdalah, tetapi manusia yang berpegang teguh dan menjalankan hukum-hukum Allah yang diturunkan kepadanya, sebagaimana disebutkan dalam Surat 7:144, Allah berfirman: “Hai Musa, sesungguhnya Aku memilih (melebihkan) kamu dan manusia yang lain (di masamu) untuk membawa risalah-Ku dan untuk berbicara langsung dengan-Ku, sebab itu berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.”

Manusia yang banyak bersyukur dengan ucapan tetapi tidak bersyukur dengan menjalankan hukum-hukum Allah bukanlah manusia yang diridhoi Allah, sebagaimana disebutkan dalam Surat 61:2-3, Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?

Logikanya, jika Allah tidak membutuhkan kesyukuran manusia maka bersyukur kepada Allah yang sebenarnya bukanlah mengucapkan terima kasih namun dengan mengikuti hukum-hukum Allah untuk kepentingan diri kita sendiri terutama pada waktu kita kembali mempertanggung jawabkan perbuatan kita nanti.

Kelima, di dalam al Quran, Allah memberikan banyak sekali peringatan kepada kita tentang kebesaran-Nya melalui ciptaan-ciptaannya untuk mengingatkan agar kita bersyukur dengan mengikuti hukum-hukum Allah. Silahkan dibaca Surat 55 (Ar Rahman) dimana berulang kali diperingatkan tentang kebesaran Allah agar kita tunduk patuh kepada hukum-hukumnya di dalam al Quran.

Keenam, jika kita telah mengubah konsep syukur dari sebelumnya berterima kasih menjadi mengikuti hukum-hukum Allah dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya di dalam al Quran, maka kita akan bersyukur setiap saat, bukan hanya ketika kita mendapatkan rezeki atau anugerah dari Allah.

Sumber kesyukuran kita bukanlah terletak dari didapatkannya nikmat Allah berupa kekayaan, rezeki dan sebagainya. Sumber kesyukuran kita adalah atas hidup yang diberikan oleh Allah dan dimana kita menjalankan kesyukuran ini dengan panca indera (pendengaran, penglihatan, perasaan, perabaan, penciuman dan akal pikiran) untuk melaksanakan hukum-hukum Allah, sebagaimana disebutkan dalam:

Surat 32:9, Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.

Surat 16:78, Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.

Surat 67:23, Katakanlah: “Dia-lah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati.” (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur.

Sebagai penutup, terdapat tiga konsep syukur di dalam al Quran.

Pertama, syukur manusia kepada manusia yang lain dengan mengikuti perintah dan larangan manusia tersebut. Sebagai contoh, rasa syukur kita kepada orang tua dengan mengikuti segala perintah orangtua. Namun kesyukuran terhadap manusia ini tidak boleh melanggar dan diatas kesyukuran kita kepada Allah.

Kedua, syukur manusia kepada Allah dengan tunduk patuh kepada hukum-hukum Allah dengan melaksanakan perintah dan larangan-Nya di dalam al Quran dan terus menerus membaca, mempelajari, memahami, melaksanakan dan mensyiarkannya selama hidup.

Ketiga, syukur Allah kepada manusia dengan melaksanakan hukum-hukumnya, dimana manusia yang bersyukur akan ditambah nikmatnya dan manusia yang kufur akan diazab sesuai dengan hukum-hukumnya di dalam al Quran. Allah akan mensyukuri dan meridhoi hamba-hambanya yang bersyukur sesuai dengan hukum-hukumnya di dalam al Quran, sebagaimana disebutkan dalam

Surat 4:147, Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman ? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.

Surat 42:23, Itulah (karunia) yang (dengan itu) Allah menggembirakan hamba- hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh. Katakanlah: “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.” Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.

Surat 2:158, Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi’ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-‘umrah, maka tidak ada dosa baginya[103] mengerjakan sa’i antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.

Surat 35:29-30, Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anuge- rahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.

Catatan:

1.      Angka diatas berarti rujukan ayat al Quran, 28:56 berarti surat ke-28 ayat ke-56, mohon dibaca langsung al Qurannya sebagai sumber k ebenaran.

2.      Mohon dicek kalau ada kesalahan dalam nomor ayat al Quran nya dan mohon ditambahkan untuk kesempurnaan.

,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: