Pelajaran Dari Ramadhan

Tolong disebarkan kepada teman-teman yang mau 28:56

Silahkan bergabung dengan mailing groups bahasaquran di groups.yahoo.com.

Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syaitan. dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku.

Dengan ajaran Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Tidak terasa, Ramadhan tahun ini hampir meninggalkan kita. Hari ini pemerintah beserta organisasi kemasyarakatan Islam masih berbeda pendapat tentang penentuan kapan hari Idul Fitri agar kita dapat berlebaran.

Ada seorang teman yang sudah terlanjur mengundang acara open house untuk berlebaran menjadi batal. Banyak ibu-ibu yang terlanjur memasak ketupat dan opor ayam menjadi basi. Lebih pahit lagi pengusaha katering dan event organizer yang terlanjur mengadakan acara takbiran bersama dan menerima order lebaran menjadi batal atau tertunda. Semua sibuk dengan acaranya masing-masing, semua sibuk dengan keperluannya masing-masing.

Marilah kita keluar dari semua hiruk pikuk ini untuk kemudian merenung sejenak. Marilah kita ber-‘itikaf di tengah kehingar bingaran kita dalam memaknai Idul Fitri.

Al Quran mengajak kita terkadang untuk keluar dari hingar-bingarnya kehidupan untuk melakukan perenungan. Sebagai sebuah perumpamaan, kita bahkan diajak pergi menuju ke gua, sebuah tempat yang jauh dari hingar bingarnya kehidupan untuk kemudian merenung, sebagaimana disebutkan dalam Surat 18:16, Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu.

Diceritakan kepada kita, bahwa ketika Nabi Muhammad melakukan perenungan, beliau pergi ke gua Hira’ untuk kemudian berdialog dengan malaikat Jibril yang mewujud sebagai manusia sempurna. Saya kebetulan sudah pernah mengunjungi tempat ini beberapa tahun yang lalu dan diperlukan waktu sekitar 45 menit untuk mendaki gunung yang sangat terjal dengan tingkat elevasi tinggi, saya membayangkan sulitnya Nabi Muhammad untuk hanya sekedar keluar dari kehidupan Mekkah yang penuh dengan kemusyrikan.

Diceritakan kepada kita, bahwa ketika Nabi Musa melakukan perenungan, beliau pergi ke Gunung Tursina dimana di dalamnya terletak Lembah Thuwa (Silahkan diperhatikan Surat 20:9-41, Surat 4:164, Surat 7:142-149).

Diceritakan kepada kita, bahwa ketika Nabi Ibrahim melakukan perenungan, beliau pergi ke sebuah Gunung dimana beliau berdialog dan bermunajat dengan Allah sebagaimana diceritakan dalam Surat 6:75-79.

Diceritakan kepada kita, bahwa ketika Maryam melakukan perenungan, beliau pergi ke tempat yang jauh dari kota untuk kemudian menemui malaikat Jibril (Surat 19:16-17).

Tentu saja hari ini kita tidak perlu ke puncak untuk melakukan perenungan karena mungkin di puncak jauh lebih ramai dibandingkan di Jakarta. Terkadang di masjid pun sangat ramai sehingga bagaimana mau merenung atau ber-‘itikaf?

Apa yang kita renungkan tentang Ramadhan kali ini?

Keseluruhan proses di dalam Ramadhan pada dasarnya adalah suatu simbol yang di baliknya terkandung makna yang sarat dengan nilai-nilai ke-Tuhanan. Marilah kita membahasnya satu per satu.

Pertama, Ramadhan itu artinya adalah membakar, dalam hal ini bukan membakar secara fisik, tetapi membakar secara non-fisik. Ramadhan artinya adalah membakar dosa. Ramadhan adalah proses pensucian jiwa dari dosa-dosa.

Kedua, dosa yang dibakar di dalam bulan Ramadhan adalah dosa-dosa yang besar dan yang kecil. Dosa-dosa yang besar yang dibakar di bulan Ramadhan adalah dosa kemusyrikan dalam bentuk mempersekutukan Allah. Bentuk mempersekutukan Allah yang paling berkerak di dalam jiwa manusia adalah dalam hal kepemilikan dimana kita merasa bahwa apa yang dititipkan Allah kepada kita adalah milik kita sendiri sehingga kita seringkali lupa untuk bersedekah setiap hari. Untuk pembahasan ini silahkan dibaca kembali tulisan sebelumnya dalam mailing list ini yang berjudul “Meraih Cahaya Allah”.

Ketiga, dosa-dosa yang di Ramadhan-kan atau dibakar adalah melalui proses berbuat baik, sebagaimana disebutkan dalam Surat 11:114, Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.

Dosa-dosa tersebut dibakar melalui sedekah sebagaimana disebutkan dalam Surat 2:271, Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Keempat, dosa-dosa lain yang dibakar di dalam bulan Ramadhan ini adalah dosa merugikan hak orang lain dengan memohon maaf kepada siapa saja yang pernah kita sakiti, kita rugikan dan kita dzolimi baik secara sengaja maupun tidak.

Keempat, ketika kita berada dalam proses pembakaran dosa secara terus menerus, maka di tengah proses tersebut, yang disimbolkan dengan tanggal 17 Ramadhan, suatu titik dimana pulsa kita mencukupi, maka Allah akan mulai memberikan petunjuk kepada kita melalui penurunan kepahaman atas al Quran yang disebut sebagai Nuzulul Quran, sebagaimana disebutkan dalam Surat 56:77-79,Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.

Nuzulul Quran hanya diberikan kepada manusia-manusia yang telah membebaskan dirinya dari sifat pelit dan tidak mau bersedekah sebagaimana disebutkan dalam Surat 2:268-269, Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui. Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).

Jika pulsa kita di dalam membakar dosa kemusyrikan ini telah cukup, maka menjadi kewajiban Allah-lah untuk memberikan petunjuk al Quran nya kepada kita, sebagaimana disebutkan dalam Surat 2:272, Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan).

Nuzulul Quran disebut sebagai malam, karena itu merupakan simbol kondisi manusia yang gelap gulita sebelum mengenal al Quran sebagai petunjuk hidupnya, sebagaimana disebutkan dalam Surat 14:1, Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.

Ramadhan disebut sebagai bulan, karena  sifat bulan itu sendiri adalah cahaya yang memantul untuk menerangi malam yaitu kegelapan hidup kita, sebagaimana disebutkan dalam Surat 10:5, Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.

Pada saat Ramadhan dimana kita membakar dosa kemusyrikan inilah pulsa kita mencukupi untuk mendapatkan petunjuk berupa kepahaman atas ayat-ayat Allah, sebagaimana disebutkan dalam Surat 2:185, (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

Titik dalam hidup dimana pulsa kita mencukupi karena sedang dalam proses Ramadhan inilah yang disebutkan dalam al Quran sebagai malam Lailatul Qadar, yaitu suatu titik di dalam hidup dimana terjadi pencerahan dan peralihan dari kegelapan menuju kepada terang benderang. Tentu saja, Lailatul Qadar ini tidaklah terjadi pada saat malam hari di tanggal ganjil setelah tanggal 17 Ramadhan sebagaimana diajarkan kepada kita selama ini. Semua gambaran itu hanyalah simbol perumpamaan, Lailatul Qadar dapat berlangsung kapan saja sepanjang tahun, selama pulsa kita mencukupi untuk mendapatkan pencerahan hidayah Allah.

MArilah kita perhatikan Surat ke-97 Al Qadr, di malam kemuliaan dimana manusia yang mulia yaitu manusia yang paling bertakwa (Surat 49:13) akan dipertemukan dengan al Quran yang mulia (Surat 56:77 41:41) melalui utusan Allah malaikat Jibril yang mulia (Surat 81:19). Manusia yang sebelumnya berada pada kondisi malam yang gelap gulita tanpa petunjuk Allah, karena pulsanya sudah mencukupi, kemudian diberikan hidayah Allah dalam bentuk petunjuk             Al Quran laksana cahaya (Surat 42:52) yang sangat terang benderang (Surat 4:174) bagaikan seribu bulan (Surat 97: 1-5). Pada malam itu diturunkanlah Ruhu Fiha atau Ruh Allah dalam bentuk kepahaman kita atas al Quran karena nama lain dari al Quran adalah Ruh Allah (Surat 42:52) sebagaimana Nabi Adam ditiupkan Ruh Allah ke dalam Sudur nya (Surat 38:72).

Malam ini akan terjadi secara terus menerus kepada manusia yang memenuhi persyaratan dari Allah dan pulsanya cukup sampai kemudian kepahaman al Quran itu dikumpulkan (Surat 75:16-19) ke dalam sudurnya (Surat 29:49) secara bertahap (Surat 25:32 dan Surat 17:106) sehingga al Quran itu yang sebelumnya bacaan cerita dongeng yang tidak dimengerti menjadi suatu ayat-ayat yang bayyinat atau menjelaskan dan menjadi hudan atau petunjuk hidup. Ketika kita telah melalui titik Lailatul Qadar ini, maka al Quran yang sebelumnya berbentuk bahasa Ajam atau bahasa asing yang tidak kita mengerti kemudian menjadi bahasa Arab yang kita mengerti (Surat 16:103) dan pahami dengan sempurna (Surat 14:52). Al Quran yang sebelumnya berbentuk bahasa Arab atau bahasa yang harus di ‘I-rab atau diurai (Surat 12:2), melalui peristiwa Lailatul Qadar dimana Allah mengirimkan Ruhu Fiha atau Jabarul yang menjabarkan al Quran ini, kemudian al Quran ini dapat kita pahami karena kita dapat mengurai makna yang sebenarnya (Surat 41:3).

Semua ini bermula dari Lailatul Qadar, inilah titik kulminasi pulsa yang cukup sekaligus titik pencerahan manusia atas petunjuk dan hidayah Tuhannya.

Kelima, ketika kemudian kita telah menemui Nuzulul Quran di dalam proses Ramadhan, ketika kemudian kita telah menemui Lailatul Qadar di dalam proses Ramadhan, maka ayat-ayat Allah itu akan terkumpul di sudur kita dan menjadi landasan serta pedoman dalam menjalani hidup (Surat 45:20) dimana kita tidak lagi ragu-ragu dalam menjalaninya (Surat 2:1-5 dan Surat 6:114-116).

Ketika semua petunjuk Allah itu perlahan telah berpindah kepahamannya dari buku al Quran ke dalam sudur kita, maka barulah kita menemui akhir proses Ramadhan yang disebut sebagai Idul Fitri. Sebagaimana telah dibahas sebelumnya, Idul Fitri bukanlah kembali kepada kesucian karena Allah telah melarang kita untuk merasa suci (Surat 53:32)

Lebih lanjut, kembali kepada suci di dalam al Quran disebut sebagai zakat dan bukan fitri atau fitrah. Jadi secara bahasaquran, Idul Fitri tidak dimaknai sebagai kembalik kepada suci tetapi kembali kepada fitrah.

Menurut konsep yang benar, meskipun mungkin akan berpotensi berlainan dengan kebanyakan konsep umat Islam di muka bumi ini, Idul Fitri itu selayaknya diartikan sebagai kembali kepada fitrah aturan Allah yang murni yaitu al Quran, aturan yang lurus, aturan yang tidak berubah dari sejak dahulu (ad-Dinul Qoyyimah), tidak menambah-nambah, tidak mengurangi, lurus dan kaffah. Itulah makna Idul Fitri yang sesungguhnya meskipun telah disebutkan dalam Surat 30:30-32, kebanyakan manusia tidak memahami makna Idul Fitri yang sesungguhnya.

Kebanyakan manusia memahami makna Idul Fitri sebagai kembali suci seperti bayi sehingga kita semua merasa bersih dari dosa pada saat Hari Raya Idul Fitri padahal merasa suci semacam ini dilarang oleh Allah dan konsepsi ini telah membuat kita setiap tahun melewati Idul Fitri namun semakin jauh dari fitrah Allah yaitu al Quran.

Manusia yang memaknai Idul Fitri sebagai kembali ke aturan Allah yang murni adalah manusia yang melewati proses Ramadhan dengan sebenarnya karena dia akan mengendalikan hawa nafsunya dengan aturan Allah dalam al Quran sehingga dia memiliki nafsul muthmainah atau nafsu yang terkendali.

Akhir dari Ramadhan adalah kembali menyembah Tuhan dengan kembali kepada aturannya yang murni dengan bersujud kepada aturannya sebagaimana disebutkan dalam (Surat 85:21, Surat 19:58, Surat 68:43, Surat 32:15).

Marilah kita jadikan setiap hari sebagai Ramadhan dalam membakar dosa dengan selalu berbuat baik dan bersedekah, marilah kita jadikan setiap hari sebagai Nuzulul Quran dalam meng-install firman Allah ke dalam diri kita, marilah kita jadikan setiap hari sebagai Lailatul Qadar berupa pencerahan dengan hidup yang bertujuan dan Idul Fitri untuk kembali menyembah Tuhan dengan melaksanakan aturan-Nya. Jangan jadikan hari raya Idul Fitri sebagai akhir dari Ramadhan.
Selamat ber-Idul Fitri, selamat kembali kepada sunnatullah, kembali kepada hukum Allah, kembali kepada aturan Allah dengan terus menerus membaca, mempelajari, memahami, melaksanakan, mensyiarkan dan melestarikan al Quran.

Insya Allah kita diangkat menjadi manusia yang mulia di sisi Allah SWT (Surat 21:10 43:44).

Minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan bathin.

Catatan:

1.  Angka diatas berarti rujukan ayat al Quran, 28:56 berarti surat ke-28 ayat ke-56, mohon dibaca langsung al Qurannya sebagai sumber kebenaran.

2.  Mohon dicek kalau ada kesalahan dalam nomor ayat al Quran nya dan mohon ditambahkan untuk kesempurnaan.

,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: