Baitullah Sejati Bukan di Makkah

Tolong disebarkan kpd teman2 yang mau 28:56.
Silahkan bergabung dengan mailing groups bahasaquran di groups.yahoo.com.
Beberapa teman saya ketika bulan puasa kemarin mengadakan perjalanan umroh ke Mekkah. Sengaja dipilih 10 hari terakhir, katanya demi meraih Lailatul Qadr yang katanya malam ganjil setelah tanggal 20 Ramadhan. Ketika bertemu, saya bertanya, apa motivasi umrohnya, rata2 mereka menjawab sama, ingin bertemu dengan Allah dan merasa bahwa ibadah di Mekkah itu rasanyaa khusyu’ banget, rasanya kita dekaattt sekali dengan Sang Pencipta. Kalau kita bertanya kepada jemaah umroh, rata-rata jawabannya sama, merasa dekat dengan Allah ketika berada di Mekkah karena Mekkah adalah Baitullah, Mekkah adalah rumah Allah.
Memang Baitullah secara syariat dan bangunan simbol ada di Mekkah, tetapi Baitullah dalam arti rumah Allah secara hakikat adanya dimana?
Allah akan diprotes oleh orang lumpuh, orang cacat, orang miskin, orang yang tempat tinggalnya jauh dengan Mekkah, kalau memang rumah Allah adanya di Mekkah. Bagaimana orang-orang ini bisa ketemu Allah? Dimana letak keadilan Allah karena orang yang ingin dekat denganNya harus jauh-jauh pergi ke Mekkah? Apalagi ada yang bilang, bahwa ketika musim haji, Allah sdg menerima tamu di Mekkah.
Dimana Masjidil Haram versi al Quran?
Darimana saja kamu keluar, palingkanlah wajahmu ke Masjidil Haram 2:149, dimana saja kamu berada palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram 2:150. Apakah Masjidil Haram ini adanya di Mekkah?
Apakah kita harus selalu memalingkan wajah ke arah Mekkah? Bagaimana dengan supir, pilot dan masinis? Ternyata kemanapun kamu menghadap, disitu ada wajah Allah 2:115. Berarti Allah ada dimana-2 dan tidak terikat dengan jarak dan arah. Tiap-2 umat mempunyai kiblatnya masing-2 yang ia menghadapnya, maka berlomba-lombalah kamu dalam berbuat kebajikan 2:148.
Jadi Masjidil Haram adanya dimana?
Secara bangunan Masjidil Haram dimana di dalamnya ada bangunan Baitullah berada di Mekkah, dimana itu dijadikan persatuan arah kita sembahyang.
Secara hakikat Masjid berarti tempat, Haram berarti suci, Bait berarti rumah. Baitullah berada di dalam Masjidil Haram. Rumah Allah berada di dalam tempat yang suci.
Allah adanya dimana?
Allah itu dekat, tidak jauh 2:186, dia bersama kamu dimana saja kamu berada 57:4, dia lebih dekat dari urat lehermu 50:16. Jadi dimana hakikat Baitullah itu? Hakikat Baitullah bertempat di jiwa manusia yang Haram atau suci. Tidak semua manusia. Baitullah bertempat di diri orang2 yang bertakwa dan berbuat baik 16:128. Menjadikan diri kita Baitullah berarti perlu menjadikan diri kita menjadi tempat persinggahan yang suci. Caranya dengan beriman, tidak mempersekutukan Allah 9:28 dan berbuat kebajikan 5:93. Cara bertemu Allah versi Allah adalah dg beriman dg beramal saleh 18:110 dg sungguh2 84:6.
Itulah hakikat Baitullah yang pertama. Nanti insya Allah akan saya lanjutkan dengan pembahasan hakikat Baitullah yang kedua pada email yang lain.
Terbukti bahwa Allah itu adil, termasuk kepada orang miskin, orang lumpuh, orang cacat dan orang yang tempat tinggalnya jauh dari Mekkah.
Kalau masih ada orang di sekitar saya yang bilang bahwa ke Mekkah untuk bertemu dengan Allah, kalau di Mekkah rasanya kita dekat dengan Allah,
saya tersenyum saja, jangan-2 itu Allah versi pemilik travel haji umroh, atau bahkan Allah versi Menteri Pariwisata Arab Saudi.
Note:
1. Angka diatas berarti reference ayat al Quran, 28:56 berarti surat ke-28 ayat ke-56, mohon dibaca langsung al qurannya sebagai sumber kebenaran.
2. Mohon dicek kalau ada kesalahan dalam no. ayat al Quran nya untuk kesempurnaa

,

  1. #1 by azis jaka saputra on August 6, 2012 - 9:57 am

    sesungguhnya yang di maksudkan palingkanlah wajahmu ke masjidil haram adalah pandangan hakikat bahwa syariat nya benar ada nya di kabah tapi pandangan hakikat nya yaitu tempat pertemuan yg suci disanalah benar2 tempatnya….
    dalam sembahyang pun kita harus selalu menghadap kesana dalam artian pandangan hakikat nya mi’raj ke baitullah…..
    di baitillah lah kita akan menghadap…..

    • #2 by blogngaji on August 9, 2012 - 10:57 pm

      boleh saja dikatakan seperti itu. karena sejatinya setiap ritual yang kita laksanakan merupakan simbol yang perlu dimaknai lagi, dan bukan tujuan. Keadaan yang terjadi saat ini ialah sebagian besar orang menjadikan ritual (syari’at) sebagai tujuan dimana saat ritual telah dilaksanakan dianggap urusan telah selesai. Padahal tidak demikian. oleh karena itu hal ini menjadi penting, kita harus memahami lebih dalam dari setiap ritual yang kita laksanakan. Demikian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: