Lauh Mahfudz (1)

Tolong disebarkan kepada teman-teman yang mau 28:56

Silahkan bergabung dengan mailing groups bahasaquran di groups.yahoo.com.

 

Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (Surat 31:27)

Jika kita melihat tatanan kehidupan makhluk Tuhan di alam semesta ini, kita akan sangat takjub mengapa misalnya bintang-bintang itu tidak bertabrakan satu sama lain meskipun jumlahnya miliaran tak terhingga. Tatanan ini diatur oleh Allah dengan sangat rapi dan teliti. Tatanan ini diatur oleh suatu aturan yang pasti yang diciptakan Allah sebelum diciptakan-Nya makhluk-makhluk Allah.

Aturan itulah al Quran yang disebut sebagai peringatan bagi semesta alam, sebagaimana disebutkan dalam Surat 81:27, Al Qur’an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam dan Surat 38:87, Al Quran ini tidak lain hanyalah peringatan bagi semesta alam.

Al Quran merupakan petunjuk, sebagaimana disebutkan dalam 2:185, (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

Sebagaimana peta yang merupakan petunjuk jalan, maka al Quran juga merupakan petunjuk atas suatu yang nyata. Jika kita melihat Jalan Sudirman pada peta Jakarta, maka ketika kita datangi lokasi yang terdapat pada peta tersebut, maka kita akan melihat langsung wujud Jalan Sudirman tersebut lengkap dengan gedung-gedung yang tinggi di kanan kirinya. Demikian pula al Quran. Al Quran adalah bagaikan peta petunjuk atas sesuatu yang nyata. Al Quran merupakan lingkaran kecil yang merupakan bagian dari lingkaran yang besar dan merupakan petunjuk bagi lingkaran yang lebih besar. Lingkaran yang besar itulah yang dinamakan dengan Lauhul Mahfuzh.

Marilah kita membahas tentang apa itu Lauhul Mahfuzh.

Pertama, Lauhul Mahfuzh adalah kitab yang berisi ilmu-ilmu Allah, dimana tidak ada sesuatu apapun yang ghaib atau tidak diketahui, tidak ditetapkan dan tidak diatur oleh Allah, sebagaimana disebutkan dalam Surat 27:75, Tiada sesuatupun yang ghaib di langit dan di bumi, melainkan (terdapat) dalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfuzh).

 

Kedua, Lauhul Mahfuzh adalah kitab yang nyata yang ditunjuk oleh al Quran. Al Quran merupakan bagian dari Lauhul Mahfuzh, sebagaimana disebutkan dalam:

Surat 85:21-22, Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Quran yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh.

Surat 56:77-78, Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh),

Al Quran juga merupakan peringatan bagi seluruh manusia, sebagaimana disebutkan dalam Surat 45:20, Al Quran ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini.
Mungkin kita semua berpandangan bahwa al Quran diturunkan selama 22 tahun lebih pada masa Nabi Muhammad, namun jika kita perhatikan ayat diatas bahwa  al Quran merupakan peringatan bagi alam semesta yang sudah ada sebelum Nabi Adam dan al Quran merupakan petunjuk bagi manusia yang juga telah ada sejak Nabi Adam, maka sebenarnya al Quran diturunkan Allah kepada manusia sejak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad secara perlahan-lahan sesuai dengan peradaban manusia, sebagaimana disebutkan dalam:

Surat 17:106, Dan Al Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.

Surat 25:32, Berkatalah orang-orang yang kafir: “Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?”; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar).

Al Quran sudah tersimpan di Kitab Lauhul Mahfuzh, namun diturunkan kepada manusia sejak Nabi Adam dan disempurnakan hingga Nabi Muhammad secara perlahan-lahan.

Ketiga, Lauhul Mahfuzh merupakan kitab induk atau disebut juga sebagai ummul kitab, karena berisi al Quran dan kitab-kitab lainnya yang secara keseluruhan merupakan ilmu-ilmu Allah, sebagaimana disebutkan dalam Surat 43:4, Dan sesungguhnya Al Quran itu dalam induk Al Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah.

Keempat, Lauhul Mahfuzh juga berisi hukum ketetapan atau sunnatullah yang mengatur tatanan makhluk dan juga mengatur hukum sebab akibat yang penuh dengan kepastian dan keadilan, sebagaimana disebutkan dalam Surat 13:39, Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh mahfuzh).

Semua hukum sunnatullah Allah yang mengatur alam semesta dan manusia tercantum di dalam Lauhul Mahfuzh, yang merupakan ilmu-ilmu Allah, dimana tidak seluruhnya diturunkan kepada jin dan manusia, sebagaimana disebutkan dalam Surat 6:59, Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)”

Segala hukum sebab akibat juga merupakan bagian dari kitab Lauhul Mahfuzh.

Rezeki makhluk Allah misalnya, juga dicantumkan dalam Lauhul Mahfuzh, sebagaimana disebutkan dalam Surat 11:6,  Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).

Azab, bencana dan  Allah yang diturunkan kepada manusia juga merupakan bagian dari hukum sebab akibat yang tertulis dalam kitab Lauhul Mahfuzh, sebagaimana disebutkan dalam:

Surat 17:58, Tak ada suatu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh).

Surat 57:22, Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.

Hukum sunnatullah bahwa manusia tidak kemudian selesai pada saat kematiannya tetapi harus pula mempertanggung jawabkan perbuatan dalam hidupnya dan kemudian menanggung akibat dari perbuatannya, juga diatur dalam Lauhul Mahfuzh, sebagaimana disebutkan dalam:

Surat 36:12, Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).

Hukum sunnatullah bahwa tujuan hidup manusia seharusnya untuk mengabdi kepada Allah saja (lihat Surat 51:56 16:51-52) sehingga disumpah Allah untuk tidak mempersekutukan-Nya selama hidup (Lihat Surat 7:172-173) dan pada akhirnya pertanggung jawaban pada saat mati adalah dengan mempertanggung jawabkan ketidak musyrikan, juga tercantum dalam Lauhul Mahfuzh, sebagaimana disebutkan dalam Surat 7:37, Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Orang-orang itu akan memperoleh bahagian yang telah ditentukan untuknya dalam Kitab (Lauh Mahfuzh); hingga bila datang kepada mereka utusan-utusan Kami (malaikat) untuk mengambil nyawanya, (di waktu itu) utusan Kami bertanya: “Di mana (berhala-berhala) yang biasa kamu sembah selain Allah?” Orang-orang musyrik itu menjawab: “Berhala-berhala itu semuanya telah lenyap dari kami,” dan mereka mengakui terhadap diri mereka bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir.

(bersambung)

Catatan:

  1. Angka diatas berarti rujukan ayat al Quran, 28:56 berarti surat ke-28 ayat ke-56, mohon dibaca langsung al Qurannya sebagai sumber k ebenaran.

2.      Mohon dicek kalau ada kesalahan dalam nomor ayat al Quran nya dan mohon ditambahkan untuk kesempurnaan.

, ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: