Negara Hukum, Hukum Siapa?

Tolong disebarkan kepada teman-teman yang mau 28:56

Silahkan bergabung dengan mailing groups bahasaquran di groups.yahoo.com.

 

 Baru-baru ini di negara kita terjadi suatu peristiwa yang sangat memalukan dimana seorang petinggi negara mencoba menyogok seorang aparat hukum. Untungnya, sang aparat kemudian mengikuti hati nurani untuk tidak mengambil kesempatan tersebut. Hukum di Indonesia memang dikenal bisa diatur sedemikian rupa sehingga seringkali tidak berpihak kepada keadilan tetapi berpihak kepada sumber kekuasaan. Siapa yang mempunyai uang dapat membeli hukum dan siapa yang tidak mempunyai kekuasaan seringkali hanya terombang-ambing dalam ketidak adilan.

Apa yang terjadi di Indonesia sekarang ini adalah hukum yang dapat dibeli oleh kekuasaan, sebagaimana disebutkan dalam Surat 2:188, Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.

Dahulu sewaktu sekolah, guru saya pernah berkata, “Indonesia adalah negara hukum.” Saya masih ingat ketika itu langsung menunjuk tangan, “Bapak, apakah ada negara di dunia ini yang tidak berdasarkan hukum? Coba sebutkan satu negara sejak dahulu hingga sekarang yang tidak berdasarkan hukum?”. Tentu saja Bapak Guru saya ketika itu hanya terbengong-bengong dan tidak dapat menjawab.

Semua negara pastilah dibangun berdasarkan hukum, namun yang menjadi pertanyaan, hukum siapa yang dipakai? Apakah kita mempercayai kualitas lembaga pembuat hukum di negara kita dan orang-orang di dalamnya?

Di dalam al Quran, hukum hanya dua jenis, hukum Allah sebagaimana tercantum dalam al Quran dan hukum jahiliyyah, sebagaimana disebutkan dalam Surat 5:48-50, Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu, dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum Jahiliyah yangmereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?

Jahiliyyah bukan berarti kebodohan secara intelektual. Seseorang yang pandai secara intelektual namun tidak kembali kepada hukum Allah dapat disebut sebagai jahiliyyah. Sebaliknya seseorang yang bodoh secara intelektual, namun hidupnya berpedoman kepada hukum Allah, di mata Allah dia merupakan manusia yang ulil albab, atau mempergunakan akal.

Kehidupan di jaman Nabi Muhammad disebut jahiliyyah bukan karena kebodohannya, karena di masa itu Mekkah merupakan pusat kebudayaan dan berkumpulnya manusia di jazirah Arab. Mekkah ketika itu sudah memiliki struktur pemerintahan yang rapi yang tidak dapat dikatakan sebagai “pusat kebodohan”.

Abu Jahal atau dalam bahasa Arab berarti “Bapaknya Orang Bodoh”. Disebut Abu Jahal bukan karena kebodohan intelektualnya, karena sebetulnya gelar beliau lainnya adalah “Abu Hakam” atau “Bapaknya Hukum”, karena pada masa itu dia memegang peranan sebagai “Menteri Hukum” yang memutuskan segala sesuatu. Karena menggunakan hukum selain hukum Allah, meskipun terasa canggih di jamannya, dia dijuluki Nabi sebagai “Biangnya Kejahilan”.

Marilah kita bertanya, apakah Indonesia itu sudah menggunakan hukum Allah atau masih mempergunakan hukum jahiliyyah?

Marilah kita bertanya kepada diri sendiri, apakah kita sudah menjalani hidup berdasarkan hukum Allah atau hukum jahiliyyah?

 

Catatan:

  1. Angka diatas berarti rujukan ayat al Quran, 28:56 berarti surat ke-28 ayat ke-56, mohon dibaca langsung al Qurannya sebagai sumber k ebenaran.

2.      Mohon dicek kalau ada kesalahan dalam nomor ayat al Quran nya dan mohon ditambahkan untuk kesempurnaan.

, ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: