Lauh Mahfudz (2)

Tolong disebarkan kepada teman-teman yang mau 28:56

Silahkan bergabung dengan mailing groups bahasaquran di groups.yahoo.com.

 

Setelah kita membahas tentang apa itu Lauhul Mahfuzh dalam tulisan sebelumnya, mungkin timbul pertanyaan di benak pembaca yaitu jika semuanya hingga daun yang gugur telah ditetapkan di Lauhul Mahfuzh dan segala sesuatu hingga yang sekecil-kecilnya sudah ditetapkan dalam Lauhul Mahfuzh, lalu untuk apa kita berbuat dan berusaha?

Jika posisi kita di surga dan neraka sudah ditentukan di dalam Lauhul Mahfuzh, lalu untuk apa berbuat baik?

Apa perbedaan tentang apa yang diatur Allah di dalam al Quran dan apa yang diatur Allah dalam Lauhul Mahfuzh?

Jika al Quran adalah kitab yang sempurna sebagaimana dijelaskan dalam Surat 6:114-116 dan Surat 14:52, lalu mengapa perlu ada kitab lain yang disebut Lauhul Mahfuzh?

Mungkin untuk lebih mudah, kita dapat mempergunakan ilustrasi seperti ini:

Alat hitung kalkulator memuat memori program tentang perhitungan. Jika kita memasukkan 2+2, maka akan keluar hasil 4. Jika kita memasukkan 6-9, maka akan keluar hasil -3.  Memori program perhitungan di dalam kalkulator adalah seperti Lauhul Mahfuzh, buku manual dari kalkulator yang menjelaskan cara kerja kalkulator tersebut adalah seperti al Quran dan memasukkan bilangan dalam kalkulator tersebut adalah pilihan manusia. Jika keluar angka plus, maka itu hasil yang baik atau diridhoi Allah dan jika keluar angka minus, maka itu hasil yang buruk atau tidak diridhoi Allah.

Posisi manusia di surga atau neraka tidak ditetapkan sebelumnya dalam Lauhul Mahfuzh, karena jika ditetapkan maka dimana letak keadilan Allah? Al Quran menunjuki bahwa syarat masuk surga adalah beriman dan beramal saleh yang sesuai dengan manual al Quran dan syarat masuk neraka adalah mempersekutukan Allah. Bagi manusia yang telah masuk surga atau telah masuk neraka, maka dia akan menemui bukti bahwa manual al Quran adalah benar dan dia telah membuktikan kebenaran al Quran itu dalam kitab yang nyata yang kemudian setelah terjadi akan tertulis dalam Lauhul Mahfuzh.

Lauhul Mahfuzh adalah kitab yang nyata yang akan membuktikan kebenaran dari al Quran. Saya pada dasarnya sekarang ini sedang menentukan kitab Lauhul Mahfuzh saya sendiri yang kemudian ditulis oleh para malaikat pencatat, sebagaimana disebutkan dalam Surat 80:19, di tangan para penulis (malaikat).
Jika saya beriman dan beramal saleh, maka kelak pasti saya akan mendapatkan kebenaran al Quran yang akan menjadi kitab Lauhul Mahfuzh bagi saya. Kebenaran al Quran akan mengikuti hukum sebab akibat dimana nasib saya yang akan tertulis di dalam kitab Lauhul Mahfuzh akan sepenuhnya bergantung dari perbuatan saya saat ini, apakah sesuai dengan al Quran atau tidak.

Nasib saya yang akan tertulis dalam kitab Lauhul Mahfuzh akan tergantung dari kehendak saya untuk mendapatkan kehendak Allah sebagai manusia yang diridhoi. Jika kehendak saya dilaksanakan sesuai dengan kehendak Allah, maka saya pasti akan menjadi manusia yang dikehendaki Allah, sebagaimana disebutkan dalam:

Surat 35:15, Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.

Surat 81:29,   Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.

Jika saya melaksanakan kehendak saya berdasarkan hukum Allah di dalam al Quran, maka Allah pasti akan menghendaki saya, sebagaimana tertulis di dalam hukum sebab-akibatnya di Lauhul Mahfuzh.

Misalnya, jika saya bertaubat sesuai dengan melakukan proses taubat sesuai kehendak Allah di dalam al Quran sebagaimana disebutkan dalam Surat 66:8, Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”,

maka pasti saya kemudian akan diampuni Allah, sebagaimana disebutkan dalam Surat 2:284, Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Kemudian ketika saya benar-benar nantinya akan mendapatkan ampunan dan menjadi manusia yang beruntung karena diampuni Allah, maka itu akan tertulis dalam kitab Lauhul Mahfuzh.

Demikian pula yang terjadi ketika misalnya kita ingin mendapatkan petunjuk Allah, sebagaimana disebutkan dalam Surat 24:46,Sesungguhnya Kami telah menurunkan ayat-ayat yang menjelaskan. Dan Allah memimpin siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.

Masalahnya, ampunan dan petunjuk itu akan merupakan akibat dari suatu proses taubat dan menjemput hidayah yang diridhoi Allah. Sebagai akibat, maka segala sesuatunya akan terjadi setelahnya atau di waktu kemudian, bukan sebelumnya. Banyak manusia yang sekarang meraba-raba, apa betul proses taubat yang dilakukannya pasti diampuni Allah dan apa betul sekarang saya telah dalam posisi ditunjuki Allah ke jalan yang lurus dan mendapatkan kesejahteraan kalau detik ini saya dipanggil Allah?

Disinilah perlunya kita beriman kepada al Quran sebagai sumber kebenaran akan hukum sebab akibat yang ada, dimana petunjuknya ada di al Quran, sebabnya ada di perbuatan kita dan akibatnya akan tertulis di Lauhul Mahfuzh.

Disinilah kita tidak boleh ragu-ragu terhadap kebenaran hukum sebab akibat di dalam al Quran, sebagaimana disebutkan dalam:

Surat 6:114-116, Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Quran) kepadamu dengan terperinci? Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al Quran itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu. Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merobah robah kalimat-kalimat-Nya dan Dia lah yang Maha Mendenyar lagi Maha Mengetahui. Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).

Surat 1:1-2, Alif laam miin. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa,

Disinilah kita perlu beriman bahwa Allah adalah yang paling mematuhi hukumnya sendiri dan Maha Menepati Janjinya, sebagaimana disebutkan dalam Surat 4:122Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan saleh, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah telah membuat suatu janji yang benar. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya dari pada Allah?

Beriman kepada aturan Allah sangat diperlukan karena sebagaimana hukum sebab-akibat, maka akibat akan terjadi ketika sudah terjadi sebab dimana terjadinya akibat akan membutuhkan suatu waktu, bisa berlangsung cepat, bisa juga relatif lebih lama. Namun akibat tidak mungkin dapat terjadi keluar dari hukum sebab-akibat. Hanya kalkulator yang error-lah yang menampilkan 2+2=5, dan hukum Allah tidak mungkin error.

Kebenaran al Quran akan membutuhkan waktu untuk tertulis di dalam Lauhul Mahfuzh, sebagaimana disebutkan dalam Surat 38:88,Dan sesungguhnya kamu akan mengetahui (kebenaran) berita Al Quran setelah beberapa waktu lagi.

Banyak orang yang menyangka bahwa shadaqallahul adzim atau berarti “Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya” adalah kalimat yang diucapkan ketika selesai membaca al Quran, padahal shadaqallahul adzim adalah kalimat yang terjadi atau kita ucapkan ketika sudah mengalami kebenaran firman Allah di dalam al Quran dalam kehidupan yang nyata.

Dan ketika kita mengalami apa yang diatur dalam al Quran karena sebab perbuatan yang kita lakukan sebelumnya dan kemudian berkata “shadaqallahul adzim”, pada detik itulah takdir kita tertulis di dalam kitab Lauhul Mahfuzh.

Semoga kalimat shadaqallahul adzim dalam hidup kita, ketika kita mati dan ketika kita dibangkitkan hingga selama-lamanya merupakan kalimat yang penuh dengan kesyukuran dan bukan kalimat yang penuh dengan penyesalan. Amiin.

Catatan:

  1. Angka diatas berarti rujukan ayat al Quran, 28:56 berarti surat ke-28 ayat ke-56, mohon dibaca langsung al Qurannya sebagai sumber k ebenaran.
  2. Mohon dicek kalau ada kesalahan dalam nomor ayat al Quran nya dan mohon ditambahkan untuk kesempurnaan.

, ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: