Agama Islam atau Aturan Islam

 Di dunia ini, Islam ada dua jenis. Pertama, Islam  versi identitas yang ada diKTP, di paspor, di  dokumen-dokumen yang dikeluarkan oleh negara  atau kalau diIndonesia, dapat dikatakan sebagai  Islam versi kelurahan. Kedua, Islam versi Allah

sesuai dengan definisi dalam al Quran.

Saya dulu bertanya, tidak mungkin Islam itu berdasarkan keturunan. Kalau bapak
ibunya Islam, maka anaknya lahir dan tertulis dalam akte kelahirannya beragama Islam. Kalau begitu, Allah tidak adil terhadap anak yang lahir dari bapak danibu yang beragama selain Islam, karena katanya agama yang diridhoi Allah hanyalah Islam, berarti ada anak yang lahir langsung diridhoi Allah dan ada anak yang lahir langsung tidak diridhoi Allah karena agama yang diridhoi Allah hanyalah Islam sebagaimana disebutkan dalam Surat 3:19, Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena
kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.

Agama sering disalah artikan sama dengan syariat. Agama Islam itu dipersempit maknanya hanya menjadi rukun Iman yaitu syahadat, sembahyang, zakat, puasa, haji plus rukun Iman yaitu iman kepada Allah, malaikat, kitab, Nabi dan Rasul, kiamat dan takdir. Karena penyempitan makna itu, maka orang berkorupsi tidak apa-apa, karena korupsi bukan bagian dari agama, terorisme tidak apa-apa, karena terorisme bukan bagian dari agama, merusak alam tidak apa-apa, karena merusak alam tidak diatur dalam agama. Padahal agama itu adalah aturan.

Islam sebagai sebuah aturan dibangun diatas tiga pilar utama yaitu Aslim, Islam dan Salam dimana ketiga memiliki akar kata yang sama. Aslim berarti tunduk patuh atau berserah diri kepada sistem Islam atau aturan Allah yang terdapat dalam al Quran dan hasilnya adalah kesejahteraan hidup dunia akhirat atau salam. Muslim adalah manusia yang bersikap aslim atau tunduk patuh atau sujud kepada aturan Allah.
Aturan atau agama Islam sudah ada sejak dahulu, atau disebut pula Ad Dinul Qoyyimah (aturan terdahulu) (Surat 98:5), aturan ini bukan ada sejak Nabi Muhammad SAW menjadi Nabi, aturan ini sudah ada sejak alam semesta diciptakan (Surat 3:83 81:27 38:87), dimana dalam al Quran selalu disebutkan sebagai agama Ibrahim yang lurus (millata hanifa) (Surat 22:78), karena Ibrahim adalah imam manusia (Surat 2:124) dan Ibrahim adalah manusia yang paling tidakmempersekutukan Allah (Surat 4:125).

Bahkan Nabi Muhammad SAW saja diperintahkan untuk mengikuti Ibrahim, sebagaimana disebutkan dalam Surat 16:120-123, Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan), (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. ya. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.

Islam yang sejati sebenarnya adalah aturan Allah atau Ad Din yang terdapat di
dalam al Quran, sehingga manusia diperintahkan untuk masuk ke dalam aturan Allah secara keseluruhannya atau kaffah, karena kalau tidak berarti sedang mengikuti langkah-langkah syaithan, sebagaimana disebutkan dalam Surat 2:208, Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu musuh yang nyata bagimu.
Dalam sebuah acara pemahaman al Quran dengan peserta ibu-ibu yang relatif miskin dan tidak berpendidikan di Posyandu, saya pernah ditanya, “Pak, kapan Allah mengakui saya sebagai orang Islam atau muslim?”. Saya menjawab, “Mengapa ibu bertanya seperti itu?”. Ibu tersebut menjawab, “Bahaya khan Pak kalau saya sekarang mati tetapi tidak dalam keadaan muslim?”. Pertanyaan ibu ini mengacu kepada Surat 3:102, Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benarnya takwa kepada-Nya; dan janganlah kamu mati melainkan dalam keadaan muslim.

 
Sebuah pertanyaan yang sederhana, namun sulit menjawabnya. Ketika itu saya menjawab,”Ibu disebut Islam ketika ibu sudah membaca, mempelajari, memahami, melaksanakan, mensyiarkan dan melestarikan aturan Allah atau al Quran, bukan ketika ibu sudah membaca syahadat.” Membaca (Surat 29:45 96:1), mempelajari (Surat 54:17 54:22 54:32 54:40 3:79), memahami (Surat 21:10), melaksanakan (Surat 24:1 28:85), mensyiarkan (Surat 2:159 2:174 28:87) dan melestarikan (Surat 15:9 35:32) adalah pra-syarat manusia diridhoi Allah sehingga mendapatkan gelar “muslim” (Surat 3:102) atau orang yang berserah diri dan tunduk patuh kepada aturan Allah atau “aslim” (Surat 3:83) sehingga dia akan mendapatkan “salam” atau kesejahteraan dunia dan akhirat (Surat 16:30-32).

Terus terang, meskipun saya dilahirkan dari kedua orang tua yang beragama Islam, tetapi saya ini boleh dikatakan muallaf, karena baru mengenal aturan Allah dua tahun yang lalu.

Jadi kita berada di posisi yang mana, Islam versi Allah atau Islam versi kelurahan?

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: