Memilah Ajaran dan Budaya

Tolong disebarkan kepada teman-teman yang mau 28:56

Silahkan bergabung dengan mailing groups bahasaquran di groups.yahoo.com.

Manusia hidup di dunia ini tidak dapat melepaskan dirinya dari pengaruh budaya yang menjadi kebiasaan hidupnya masing-masing. Budaya ini akan menghasilkan cara manusia berpakaian, berbahasa dan berpikir sehingga pola hidup manusia di muka bumi ini akan berbeda-beda. Misalnya, cara berpakaian orang Timur Tengah dengan orang Indonesia tentu saja berbeda. Tidak perlu jauh-jauh, meskipun sama-sama penduduk Jawa Tengah, cara berbahasa orang Solo dengan orang Tegal sudah jauh berbeda.

Perbedaan budaya juga dipengaruhi oleh kemajuan jaman dan teknologi. Budaya manusia modern dengan teknologi komunikasi yang canggih sekarang tentulah berbeda dengan teknologi komunikasi dengan menggunakan burung merpati jaman dahulu.

Perbedaan budaya ini merupakan hukum sunnatullah dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah sebagaimana disebutkan dalam Surat 30:22, Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.

Sehingga Allah berfirman, bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan dari budaya apa yang mempengaruhi pola hidupnya sehari-hari, namun dari tingkat ketakwaannya masing-masing sebagaimana disebutkan dalam Surat 49:13, Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Manusia yang paling takwa bukanlah manusia yang berpakaian dengan budaya tertentu, karena cara berpakaian itu adalah budaya, namun berpakaian takwa yang menutupi aurat atau potensi berbuat dosa, adalah pakaian ajaran, sebagaimana disebutkan dalam Surat 7:26, Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.

Manusia yang rahmatan lil alamiin atau memberikan rahmat kepada seluruh makhluk di alam semesta ini sebagaimana disebutkan dalam Surat 21:107, Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam, adalah manusia yang dapat menyesuaikan diri dengan beragam budaya dan dapat diterima oleh manusia yang berlainan budaya. Manusia yang rahmatan lil alamiin adalah manusia yang tidak merasa bahwa satu budaya memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari budaya yang lain di mata Allah.

Marilah kita memilah-milah bahwa di dalam menjadi suri tauladan bagi manusia, sebagaimana disebutkan dalam Surat 33:21,Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah, Nabi Muhammad dan para Nabi sebelumnya hidup di dalam budaya yang berbeda-beda, namun ajarannya tetap sama.

Nabi Muhammad hidup di dalam budaya Arab dimana cara berpakaian, berbahasa, berperilaku dan berpikir juga dipengaruhi oleh budaya Arab pada jamannya. Dalam membawakan ajaran Allah, pola hidup Nabi Muhammad tidak dapat dilepaskan dari kenyataan bahwa beliau hidup di lingkungan Arab dan harus menyesuaikan diri dengan budaya Arab, sebagaimana disebutkan dalam Surat 17:84, Katakanlah: “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing.” Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.

Namun demikian, Nabi Muhammad diperintahkan untuk membawa ajaran Allah yaitu al Quran, dimana ucapan beliau adalah wahyu, sebagaimana disebutkan dalam Surat 53:1-4, Demi bintang ketika terbenam. kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).

Sehingga kita perlu memilah, dimana Nabi Muhammad sebagai Nabi yang membawakan wahyu atau ajaran yang tidak akan pernah berubah dan berlaku sama di muka bumi, dan dimana Nabi Muhammad sebagai orang Arab yang memiliki budaya yang berbeda dan orang yang hidup pada abad ketujuh.

Misalnya, Nabi Muhammad makan kurma sejak kecil, karena makan kurma adalah budaya di Arab, namun makan kurma bukanlah ajaran. Kalau ada yang berkata bahwa makan kurma “Najwa” akan mendapatkan pahala karena menjalankan kebiasaan Nabi Muhammad, maka itu adalah kebiasaan Nabi Muhammad sebagai budaya dan bukan sebagai Nabi, karena sebelum menjadi Nabi, Beliau juga sudah makan kurma.

Namun beliau memberikan ajaran dalam hal makan, yaitu Surat 20:83, Makanlah di antara rezki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu, dan janganlah melampaui batas padanya, yang menyebabkan kemurkaan-Ku menimpamu. Dan barangsiapa ditimpa oleh kemurkaan-Ku, maka sesungguhnya binasalah ia. Nabi Muhammad kemudian menjelaskannya dengan bahasa yang mudah dimengerti, yaitu makanlah ketika kamu lapar dan berhentilah makan sebelum kamu kenyang. Penjelasan dengan bahasa yang mudah dimengerti ini karena pada saat itu manusia masih memiliki pola pikir yang relatif sederhana dan ajaran al Quran ini harus sampai bahkan kepada orang yang paling bodoh, sehingga mungkin dijelaskan mengenai penghitungan kalori dalam makanan misalnya. Manusia yang makan berlebihan, akan menuai kemurkaan Allah dalam bentuk penyakit. Inilah akibat melanggar ajaran. Namun sekali lagi, makan kurma adalah budaya dan bukan ajaran.

Contoh berikutnya, adalah membersihkan gigi dengan syiwak atau ranting pohon. Ini adalah budaya yang dipengaruhi oleh peradaban dan kemajuan jaman, karena pada saat itu sikat gigi dan pasta gigi belum ada. Oleh karena itu membersihkan gigi dengan syiwak tidaklah mendapat pahala. Budayanya adalah menggunakan syiwak, ajarannya adalah menjaga kebersihan.

Begitu pula dengan cara beliau berpakaian, ciri-ciri fisik dan sebagainya. Kita perlu memilah, mana ajaran dan mana budaya.

Banyak manusia dewasa ini yang merasa mengikuti Nabi Muhammad dengan mengikuti budayanya, namun pada akhirnya tidak menjadi manusia yang rahmatan lil alamiin karena tidak menerima budaya yang lain dan terkadang dianggap aneh atau tidak diterima di lingkungan budayanya karena tidak berbuat sesuai dengan keadaan atau lingkungan masing-masing.

Manusia yang mengikuti Nabi Muhammad dan para Nabi sebelumnya akan mengikuti ajarannya sehingga dapat hidup di segala lingkungan, diterima di segala lingkungan dan dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya kepada manusia berbagai macam budaya.

Di dalam al Quran, manusia akan dipersatukan dengan para Nabi jika mengikuti ajaran yang diwujudkan dengan perbuatan atau akhlak yang sama, bukan budaya yang sama, sebagaimana disebutkan dalam Surat 52:21, Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.

Lebih lanjut, kita juga perlu memilah ajaran dan budaya, sehingga kita tidak terjebak dalam perilaku menuhankan Nabi atau malaikat, namun menjadi manusia yang rabbani atau menuhankan Allah dengan tetap mempelajari dan mengajarkan al Quran, sebagaimana disebutkan dalam Surat 3:79-80, Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” Akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya. dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai tuhan. Apakah (patut) dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?”

Al Quran adalah kitab ajaran yang menjadi pedoman bagi seluruh manusia dengan berbagai macam budaya dan tidak memaksa manusia menjadi satu macam budaya. Oleh karena itu, saya menyarankan untuk menggunakan al Quran untuk memilah mana ajaran dan mana budaya.

Catatan:

  1. Angka diatas berarti rujukan ayat al Quran, 28:56 berarti surat ke-28 ayat ke-56, mohon dibaca langsung al Qurannya sebagai sumber k ebenaran.
  2. Mohon dicek kalau ada kesalahan dalam nomor ayat al Quran nya dan mohon ditambahkan untuk kesempurnaan.

,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: