Jalur A dan Jalur B (bag. 1)

Tolong disebarkan kepada teman-teman yang mau 28:56

Silahkan bergabung dengan mailing groups bahasaquran di groups.yahoo.com.

Memahami petunjuk Allah dalam al Quran diperlukan suatu kesadaran bahwa tidak semua manusia yang membaca al Quran akan dikehendaki Allah untuk diberi-Nya petunjuk, bahkan banyak sekali manusia yang mempelajari al Quran kemudian malahan disesatkan Allah. Oleh karena itu, melalui tulisan ini, saya hendak mengatakan kepada para sahabat seperjalanan, bahwa terdapat dua jalur dalam memahami al Quran, kita sebut saja sebagai jalur A sebagai jalur yang diridhoi dan diberi petunjuk Allah dan jalur B sebagai jalur yang dimurkai dan disesatkan Allah.

Kita perlu membedakan apakah itu Jalur A dan Jalur B serta mengidentifikasi apakah sekarang saya berada pada Jalur A atau Jalur B ketika sedang membaca, mempelajari, memahami, melaksanakan dan mensyiarkan ayat-ayat Allah.

Marilah kita membahas mengenai konsep Jalur A dan Jalur B ini.

Pertama, segala sesuatu di dunia ini diciptakan saling berpasangan, sebagaimana disebutkan dalam Surat 51:49,  Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.

Kedua, Allah berkomunikasi dengan manusia melalui perantaraan wahyu, bisikan dalam hati atau dengan mengutus utusan, sebagaimana disebutkan dalam Surat 42:51, Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.

Utusan Allah juga berpasangan. Utusan Allah yang diridhoi adalah malaikat dan manusia, sebagaimana disebutkan dalam Surat 22:75,Allah memilih utusan-utusan-(Nya) dari malaikat dan dari manusia; sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Sementara utusan Allah yang tidak diridhoi adalah iblis dan syaithan dari kalangan jin dan manusia yang tidak dipilih Allah menjadi utusan yang diridhoi-Nya, sebagaimana disebutkan dalam Surat 6:120, Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayatKu dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini? Mereka berkata: “Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri”, kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir.

Ketiga, Allah selain memberikan petunjuk kepada manusia juga menyesatkan manusia, sebagaimana disebutkan dalam Surat 14:4,Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.

Keempat, Allah berkomunikasi dengan manusia melalui tiga macam cara. Pertama adalah melalui wahyu atau al Kitab. Kedua, adalah melalui bisikan di dalam qalbu. Ketiga adalah melalui utusan. Allah dapat memberikan petunjuk atau menyesatkan manusia melalui al Quran, melalui bisikan dalam hati atau melalui utusannya.

– Melalui al Quran, Allah dapat memberikan petunjuk-Nya kepada manusia, sebagaimana disebutkan dalam Surat 5:16, Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.Tetapi melalui al Quran pula Allah dapat menyesatkan manusia yang dikehendaki-Nya, sebagaimana disebutkan dalam Surat 2:26,Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?.” Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah[34], dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik,
– Melalui bisikan di dalam qalbu, Allah dapat menujuki atau menyesatkan manusia, sebagaimana disebutkan dalam Surat 91:7-8, dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.
– Melalui utusan yang diridhoi-Nya, Allah dapat memberikan petunjuk-Nya kepada manusia, sebagaimana disebutkan dalam Surat 39:71, Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahannam berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Apakah belum pernah datang kepadamu rasul-rasul di antaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan dengan hari ini?” Mereka menjawab: “Benar (telah datang).” Tetapi telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang yang kafir. Selain mengirim utusan yang diridhoi-Nya, Allah juga mengirimkan utusan untuk menyesatkan manusia, sebagaimana disebutkan dalam Surat 19:83, Tidakkah kamu lihat, bahwasanya Kami telah mengirim syaitan-syaitan itu kepada orang-orang kafir untuk menghasung mereka berbuat ma’siat dengan sungguh-sungguh?

Kelima, karena sifat Allah Yang Maha Suci, maka dalam memberikan petunjuk atau menyesatkan manusia, Allah tidak bekerja sendirian namun melalui utusan-utusan-Nya.

Allah akan mengutus malaikat Jibril ke dalam qalbu manusia yang dikehendaki-Nya untuk diberikan petunjuk agar manusia tersebut dapat diberikan kepahaman atas al Quran dengan kepahaman yang diridhoi Allah. Banyak yang menyangka bahwa malaikat Jibril yang bertugas menurunkan wahyu sudah “pensiun dini” sejak Nabi Muhammad wafat, padahal malaikat Jibril terus bekerja untuk menurunkan wahyu kepada siapa yang dikehendaki Allah, sebagaimana disebutkan dalam

Surat 26:192-194, Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam qalbumu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan.

Surat 19:64, Dan tidaklah kami (Jibril) turun, kecuali dengan perintah Tuhanmu. Kepunyaan-Nya-lah apa-apa yang ada di hadapan kita, apa-apa yang ada di belakang kita dan apa-apa yang ada di antara keduanya, dan tidaklah Tuhanmu lupa.

Seringkali di dalam al Quran (termasuk dalam ayat ini), para ahli tafsir menambahkan kata-kata Muhammad dalam suatu ayat, padahal tidak terdapat kata Muhammad dalam tulisan bahasa Arab-nya, sehingga ayat ini berlaku untuk manusia yang dikehendaki Allah hingga akhirul jaman.

Allah juga akan mengutus syaithan untuk menyesatkan manusia dengan al Quran, sehingga kepahaman yang akhirnya kita dapatkan tidak sesuai dengan apa yang diridhoi Allah, sebagaimana disebutkan dalam Surat 26:210, Dan Al Quran itu bukanlah dibawa turun oleh syaitan- syaitan. Dan tidaklah patut mereka membawa turun AL Quran itu, dan merekapun tidak akan kuasa. Sesungguhnya mereka benar-benar dijauhkan daripada mendengar Al Quran itu.

Keenam, kita perlu membedakan apakah pengajaran al Quran atau ucapan seseorang yang sedang mengajari kita tentang ayat-ayat Allah itu termasuk Jalur A atau Jalur B.

Membedakan apakah al Quran yang diajarkan kepada kita termasuk Jalur A atau Jalur B adalah dengan melihat pada mekanisme tata krama membaca al Quran (silahkan dilihat kembali tulisan dalam mailing list ini berjudul Tata Krama Membaca al Quran). Salah satu contohnya, jika seseorang tidak mengajarkan dzikir ta’awudz atau membaca al Quran tidak diawali dengan ta’awudz, maka pasti dia tidak dilindungi Allah dari bisikan, godaan dan kedatangan jin, iblis dan syaithan yang terkutuk dan ujung-ujungnya akan tersesat dan menyesatkan.

Ciri lainnya, membaca al Quran pada akhirnya adalah berbuat untuk mewakili sifat Allah yang ar-Rahman karena Allah telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang, sebagaimana disebutkan dalam Surat 6:12, Katakanlah: “Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi.” Katakanlah: “Kepunyaan Allah.” Dia telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang. Dia sungguh akan menghimpun kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya. Orang-orang yang meragukan dirinya mereka itu tidak beriman.

Ajaran membaca al Quran dengan basmalah pada akhirnya adalah untuk mewakili Allah menjadi khalifah-Nya yang membawa sifat ar-Rahman dan ar-Rahiim, dan bukan sifat yang lain.

Membedakan apakah bisikan di dalam qalbu kita termasuk Jalur A dan Jalur B tidak dapat dilihat dari jenis suara hatinya, tetapi dari maknanya. Jalur A atau jalur yang diridhoi Allah hanyalah bisikan yang mengajak bersedekah, berbuat maruf dan perdamaian, sebagaimana disebutkan dalam Surat 4:114, Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keredhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.

(bersambung)

Catatan:

1.  Angka diatas berarti rujukan ayat al Quran, 28:56 berarti surat ke-28 ayat ke-56, mohon dibaca langsung al Qurannya sebagai sumber kebenaran.

2.  Mohon dicek kalau ada kesalahan dalam nomor ayat al Quran nya dan mohon ditambahkan untuk kesempurnaan.

, ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: