Cerita Seorang Sahabat

Tolong disebarkan kepada teman-teman yang mau 28:56

Silahkan bergabung dengan mailing groups bahasaquran di groups.yahoo.com.

Saya tertegun ketika bertemu dengan sahabat-sahabat yang terikat oleh misi yang sama ingin menyebarkan cahaya Allah di bumi Indonesia. Mereka menjelaskan banyak hal yang belum saya ketahui sebelumnya mengenai makna al Quran. Disinilah enaknya tidak ada guru dan murid, semua saling belajar dan semua saling mengajarkan, sebagaimana disebutkan dalam Surat 3:79, Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” Akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.

Sahabat saya ini menjelaskan bahwa istilah-istilah dalam al Quran itu tidak semuanya asli dari bahasa Arab, tetapi sebagian sebelumnya merupakan bahasa Ajam atau bahasa asing di luar Arab yang kemudian diadopsi menjadi bahasa Arab, sebagaimana disebutkan dalam Surat 16:102, Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata: “Sesungguhnya Al Quran itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad).” Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa ‘Ajam, sedang Al Quran adalah dalam bahasa Arab yang terang.

Bahasa Ajam atau bahasa asing ini kemudian diadopsi menjadi bahasa Arab, sebagaimana disebutkan dalam Surat 41:3, Sesungguhnya Kami menjadikan Al Quran dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya).

Al Quran dijadikan dalam bahasa Arab karena Nabi Muhammad adalah orang Arab dan harus menjelaskan wahyu Allah juga dalam bahasa Arab, sebagaimana disebutkan dalam Surat 14:4, Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.

Ketika Nabi Muhammad menceritakan tentang kisah Nabi Musa yang berbicara dengan Allah, beliau menceritakannya dalam bahasa Arab kepada kaumnya, padahal sebagaimana kita ketahui bahwa Nabi Musa adalah bangsa Israel yang berbahasa Ibrani, bukan Arab, sehingga percakapan Nabi Musa dengan Allah juga menggunakan bahasa Ibrani. Marilah kita perhatikan Surat 20:9-14 berikut ini yang diterjemahkan oleh Nabi Muhammad ke dalam bahasa Arab, Apakah telah sampai kepadamu kisah Musa? Ketika ia melihat api, lalu berkatalah ia kepada keluarganya: “Tinggallah kamu (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit daripadanya kepadamu atau aku akan mendapat petunjuk di tempat api itu.” Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil: “Hai Musa. Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada dilembah yang suci, Thuwa. Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.

Menjadi pertanyaan, jika bahasa Nabi Musa adalah bahasa Israel yaitu bahasa Ibrani, mungkinkah percakapan ini menggunakan bahasa Arab? Jika percakapan ini tidak menggunakan bahasa Arab, berarti malaikat Jibril juga menterjemahkan bahasa yang Ajam atau asing bagi Nabi Muhammad menjadi bahasa Arab? Berarti al Quran dalam bahasa Arab yang berada di hadapan sahabat-sahabatku juga merupakan terjemahan. Al Quran tidak anti terjemahan.

Lebih lanjut, sahabat saya ini menjelaskan bahwa ada terdapat pula kesamaan antara bahasa Jawa dengan bahasa Arab.

Kita dahulu sering diajarkan bahwa Patih Gajah Mada yang hidup pada abad 14 pernah bersumpah untuk mempersatukan Nusantara. Beliau bersumpah untuk tidak memakan buah Palapa sebelum mempersatukan Nusantara.

Sumpah ini beliau wujudkan dengan perjuangan yang luar biasa hingga seluruh kerajaan hingga ke Thailand tunduk di bawah kekuasaan Majapahit. Luar biasanya, ketika saya pada suatu saat berkunjung ke istana raja Thailand di Bangkok, terdapat relief di kerajaan tersebut dimana Raja Thailand menunduk dan memberikan upeti sebagai rasa ketundukan kepada Raja Majapahit. Hal ini tidak memalukan bagi mereka, malahan membuat mereka bangga. Kebanggaan atas ketundukan ini diakibatkan karena pendekatan yang digunakan oleh Patih Gajah Mada bukanlah dengan peperangan melainkan dengan menyatukan visi dan hati untuk bersatu.

Jika dilihat di dalam al Quran, sebenarnya cerita buah palapa lagi-lagi hanya perumpamaan, karena buah itu tidak ditemukan lagi saat ini. Jika buah itu merupakan buah yang sangat penting dan enak, hingga Gajah Mada bersumpah tidak akan memakan buah palapa, mengapa sekarang buahnya tidak ada?

Palapa di dalam bahasa Quran berarti mempersatukan hati dengan visi. Inilah sumpah yang dipakai oleh Patih Gajah Mada yang diceritakan dalam kitab Pararaton. Saya sangat meyakini bahwa Gajah Mada pada saat itu telah membaca dan mempelajari al Quran karena beliau melaksanakan isi Surat 3:103, Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu (FAALLAFA), lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

Di dalam al Quran, Palapa berasal dari kata FAALLAFA yang berarti mempersatukan hati dengan visi, sebagaimana juga disebutkan dalam Surat 8:63, Dan jika mereka bermaksud menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelindungmu). Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mukmin, dan Yang mempersatukan hati mereka (WAALLAFA) (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.

Jika Gajah Mada mempersatukan hati kerajaan di Nusantara dengan cara kekerasan dan bukan dengan visi, maka tidak mungkin ada relief di istana raja Thailand yang demikian bangganya menjadi bagian dari Nusantara.

Memang ada pula cerita perang Bubat dimana terjadi peperangan dengan kerajaan Sunda. Sebenarnya niat awalnya adalah mempersatukan hati sebagai bagian dari sumpah Palapa melalui pernikahan antara RAja Hayam Wuruk dengan anak Raja Kerajaan Sunda yang bernama Dyah Pitaloka, namun karena kesalah pahaman akhirnya yang terjadi adalah peperangan yang tidak direncanakan yang pada akhirnya juga disesali oleh Prabu Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada sendiri yang kemudian mengundurkan diri dan menghilang entah kemana.

Melalui kedua cerita tersebut ini, saya ingin mengajak kita semua untuk tidak fanatik kepada budaya Arab dan bersifat ke-Arab-Araban karena al Quran sendiri adalah penterjemahan dari kisah yang sebenarnya terjadi dalam bahasa yang lain sebagaimana contoh Nabi Musa tersebut diatas diambil. Cerita sumpah Palapa juga menunjukkan bahwa pada jaman itu beliau telah menerapkan al Quran meskipun banyak orang mengatakan Islam ala Arab belum masuk ke Indonesia. Penerapan ajaran al Quran pada jaman ini telah membuat bangsa ini sangat maju dan menguasai Nusantara.

Marilah kita fanatik kepada ajaran Allah dan bukan budaya Arab. Marilah kita terus mempelajari dan melaksanakan dan mensyiarkan al Quran sesuai dengan budaya dan keadaan masing-masing.

Marilah kita jadikan bangsa Indonesia ini bangsa yang maju yang dimulai dengan seorang pemimpin yang dapat mengucapkan dan mewujudkan sumpah Palapa kedua, yang mempersatukan hati rakyatnya dengan sebuah visi, sebagaimana disebutkan dalam Surat 3:110, Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.

Catatan:

1.    Angka diatas berarti rujukan ayat al Quran, 28:56 berarti surat ke-28 ayat ke-56, mohon dibaca langsung al Qurannya sebagai sumber kebenaran.

2.    Mohon dicek kalau ada kesalahan dalam nomor ayat al Quran nya dan mohon ditambahkan untuk kesempurnaan.

,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: