Kesanggupan, Kemampuan, Keadaan (bagian pertama)

Tolong disebarkan kepada teman-teman yang mau (Surat 28:56)

Silahkan bergabung dengan mailing groups bahasaquran di groups.yahoo.com

Saya dan keluarga sangat beruntung ketika di awal Januari yang lalu dapat menonton secara langsung pertunjukan Musikal Laskar Pelangi. Sebuah pertunjukan opera musikal live baik penyanyi maupun orchestra-nya . Pertunjukan ini adalah pertunjukan opera musikal yang 100% Indonesia, namun kualitasnya tidak kalah dibandingkan dengan opera di Broadway Amerika atau Moulin Rouge di Paris.

Pertunjukan musikal tersebut diilhami oleh kisah nyata Andrea Hirata, yang kemudian dibukukan dalam serial Laskar Pelangi, seorang anak miskin dari Pulau Belitong, yang kemudian memiliki mimpi yang setinggi langit, tekad yang sekuat baja dan kerja keras yang tanpa lelah, untuk meraih cita-citanya menjadi manusia yang nasibnya berubah. Andrea menamakan tokoh dalam pertunjukan dan bukunya dengan nama Ikal karena rambutnya yang ikal seperti dirinya. Kebetulan Andrea merupakan satu almamater di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, meskipun dia kemudian beruntung untuk melanjutkan beasiswa ke Universitas Sorbonne, Paris, dan saya terkena dampak krisis moneter sehingga tidak beruntung merasakan bangku kuliah di luar negeri.

Dalam kisah tersebut, ada pula tokoh yang bernama Lintang, seorang anak terpandai di kelas, terutama dalam hal matematika, yang memenangkan lomba cerdas cermat dan mengalahkan anak-anak kaya dari sekolah ternama. Lintang kemudian terpaksa berhenti sekolah karena ayahnya meninggal dunia dan harus mengurus adik-adiknya yang masih kecil. Meskipun tidak melanjutkan sekolah, namun pada saat dewasa, Lintang dapat menjadi pengusaha yang cukup sukses dan membalas dendamnya dengan mengantarkan anaknya kepada jenjang yang lebih tinggi dibandingkan dirinya.

Jika diambil pelajaran lebih mendalam, kisah kedua anak sukses ini sebenarnya dapat dipotret berdasarkan al Quran. Al Quran memiliki ajaran yang sama. Manusia diajak Allah untuk menggantungkan cita-cita setinggi langit. Namun cita-cita berbeda dengan mimpi. Banyak dari kita sebenarnya sedang bermimpi tetapi tidak sedang bercita-cita.

Cita-cita adalah mimpi yang diwujudkan dengan komitmen kuat, kerja keras, sistem yang baik dan doa. Cita-cita yang tanpa disertai oleh komitmen kuat, kerja keras, sistem yang baik dan doa, hanyalah mimpi yang tidak membawa kita kepada kesuksesan. Cita-cita dalam al Quran disebut sebagai kesanggupan atau wus’ah, sebagaimana disebutkan dalam Surat 23:62, Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya, dan pada sisi Kami ada suatu kitab yang membicarakan kebenaran, dan mereka tidak dianiaya.

Sebagaimana sifat Allah yang sangat demokratis dan memberikan pilihan kepada manusia, maka Allah tidak “membebani” manusia dengan kesuksesan hidup melainkan sekedar kesanggupannya (Surat 2:286). Ada manusia yang sanggup hanya menjadi khalifah bagi dirinya sendiri, ada manusia yang sanggup menjadi khalifah RT/RW, ada manusia yang sanggup menjadi pemimpin di negaranya atau bahkan memenuhi kemauan Allah untuk menjadi khalifah di muka bumi (Surat 2:30 35:39 6:165).

Kesanggupan atau cita-cita tergantung diri kita sendiri. Meskipun Allah Maha Mengetahui isi hati kita, namun kita perlu menyatakan kesanggupan ini di hadapan Allah.

Itulah makna dari la yukalifulla nafsan illa wus’aha atau Allah tidak akan membebani setiap jiwa melainkan sekedar kesanggupan atau cita-citanya. Siapa yang cita-citanya rendah, tidak akan dibebani oleh pekerjaan yang besar, siapa yang cita-citanya tinggi, maka dia memiliki titik modal awal untuk menjadi orang besar.

Kemudian, ketika kita mewujudkan kesanggupan ini dengan komitmen yang kuat, dengan kerja keras, dengan sistem yang baik dan doa, maka Allah akan memberikan kemampuan atau modal untuk menggapai kesanggupan kita. Modal itu dapat berbentuk rezeki, pendidikan, waktu dan sebagainya. Namun perlu diketahui, karena Allah membenci kesia-siaan (Surat 3:190-191), maka modal kemampuan yang diberikan Allah tidak akan pernah melebihi kesanggupan atau cita-cita kita. Kemampuan yang diberikan melebihi kesanggupan akan menjadi kesia-siaan. Seseorang yang berkesanggupan menjadi supir bis, tidak akan pernah diberikan kemampuan untuk menjadi pilot pesawat. Seseorang yang berkesanggupan untuk menjadi Ketua RT/RW, tidak akan diberikan kemampuan untuk menjadi Presiden, dan seterusnya.

Ketika kita telah diberikan Allah kemampuan untuk menggapai cita-cita, maka kita perlu mensyukuri kemampuan tersebut dengan optimal atau sepenuhnya, sebagaimana disebutkan dalam Surat 6:135, Katakanlah: “Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, sesungguhnya akupun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik di dunia ini. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak akan mendapaatkan keberuntungan.

Misalnya, Allah memberikan kemampuan waktu yang dapat dimanfaatkan untuk menggapai kesanggupan atau cita-cita, maka untuk mensyukuri kemampuan waktu ini, kita tidak boleh membuang waktu dengan percuma, dengan nongkrong-nongkrong tidak jelas dan melakukan segala sesuatu yang tidak bermanfaat, sebagaimana disebutkan dalam Surat 3:190-191, Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

Manusia yang mensyukuri kemampuan yang telah dianugerahkan Allah kepada mereka, maka Allah yang memiliki sifat Maha Mensyukuri (Surat 2:158  4:147 35:30 35:34 42:23) kemudian akan menambahkan kemampuan tersebut sehingga kita lebih mudah menggapai kesanggupan yang telah kita canangkan kepada Allah, sebagaimana disebutkan dalam Surat 14:7, Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”

(bersambung)

, ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: