Wirausaha

Tolong disebarkan kepada teman-teman yang mau 28:56

Silahkan bergabung dengan mailing groups bahasaquran di groups.yahoo.com.

Ada perbedaan pandangan tentang jiwa kewirausahaan. Ada yang berpandangan bahwa jiwa kewirausahaan itu adalah sesuatu yang dilahirkan, sebagaimana gen yang diturunkan secara turun temurun. Ada pula yang beranggapan bahwa jiwa kewirausahaan adalah bukan karena keturunan tetapi karena pendidikan. Mata kuliah kewirausahaan setahu saya diajarkan di fakultas ekonomi juga relative bariu-baru ini. Pada masa saya berkuliah dahulu, tidak ada mata kuliah tentang kewirausahaan. Mungkin karena dianggap, meskipun diajarkan tetap saja seseorang tidak akan mampu menjadi seorang wira usaha kalau tidak ada trah atau darah wira usaha yang mengalir.

Saya termasuk yang berpendapat bahwa wira usaha adalah dapat diajarkan. Ketika kita membuka dan mempelajari al Quran, Allah pun mengajarkan kepada kita tentang bagaimana kewirausahaan versi Allah.

Kewirausahaan adalah ilmu untuk menangkap peluang dan Allah mendidik kita untuk memulainya dengan sikap yang memperhatikan sebab-sebab rezeki yang berada di langit, sebagaimana disebutkan dalam Surat 51:20-23, Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezkimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu. Maka demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan.

Ketika kita memperhatikan ayat diatas, bahwa sebab-sebab rezeki itu berasal dari langit, itu bukan berarti berasal dari awan. Langit secara fisik dimaksudkan sebagai segala sesuatu diatas tanah, langit secara perumpamaan berarti manusia-manusia yang memiliki posisi lebih tinggi dibandingkan dengan kita. Manusia-manusia langit dapat berarti lebih berkuasa, lebih kaya, lebih pandai, intinya merekalah yang menguasai perekonomian. Manusia-manusia langit inilah yang menjadi sebab-sebab rezeki manusia-manusia bumi.

Rezeki datang dari pergaulan dan jaringan pertemanan. Secara lebih fokus, rezeki akan datang dari manusia-manusia langit, sehingga kunci dari rezeki adalah seberapa banyak dan seberapa dalam jaringan pertemanan kita dengan manusia langit. Inilah kunci yang selalu dipegang teguh oleh orang-orang Cina di dalam berusaha, mereka selalu mendekat kepada kekuasaan, sementara orang pribumi berusaha berebut menjadi pusat kekuasaan.

Dahulu ketika lulus kuliah, konsep ini saya sadari benar dengan membangun jaringan pertemanan dengan alumni-alumni yang sudah tua-tua. Terbukti, banyak sekali peluang bisnis terbuka.

Percuma kita dapat melihat peluang, kalau kita tidak mendapatkan akses untuk mengubah peluang tersebut menjadi kesempatan berwira usaha. Akses itu sekarang dimiliki oleh manusia-manusia langit. Sebagai manusia-manusia bumi, kita perlu sadar diri dan berupaya untuk memanfaatkan manusia-manusia langit ini untuk mengubah peluang menjadi kesempatan.

Selain kepandaian untuk memperhatikan peluang dan membuka akses kepada manusia-manusia langit, kewirausahaan adalah tentang membentuk suatu track record yang baik. Membangun kepercayaan manusia-manusia langit dan manusia-manusia bumi dengan karakter yang baik.

Banyak sekali Allah mengajarkan di dalam al Quran tentang membentuk karakter atau akhlak yang baik, marilah kita mengambil beberapa pelajaran mengenai siklus kewirausahaan dalam al Quran.

Pertama, bahwa Al Quran mengajarkan kita untuk merencanakan segala sesuatu dengan business plan yang baik, sebagaimana disebutkan dalam Surat 59:18, Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok; dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Kedua, bahwa Al Quran mengajarkan kita untuk melaksanakan apa yang telah direncanakan dengan semangat jihad atau kesungguhan, tidak hanya sekedar rata-rata, sebagaimana disebutkan dalam Surat 37:60-61, Sesungguhnya ini benar-benar kemenangan yang besar. Untuk kemenangan serupa ini hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja”

Ketiga, bahwa Al Quran mengajarkan kita untuk selalu menerima dan mengolah input untuk melakukan perbaikan terus menerus atas rencana yang telah dibuat, sebagaimana disebutkan dalam Surat 39:17-18, Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembah- nya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba- hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.

Keempat, bahwa Al Quran mengajarkan bahwa tujuan akhir dari suatu siklus wira usaha adalah tidak untuk memperkaya diri sendiri, tetapi untuk memberikan manfaat kepada sebanyak-banyaknya manusia yang lain, sebagaimana disebutkan dalam

Surat 21:107, Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.

Surat 13:17, Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.

Surat 59:7, Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.

Surat 65:7, Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.

(bersambung)

Catatan:

1.    Angka diatas berarti rujukan ayat al Quran, 28:56 berarti surat ke-28 ayat ke-56, mohon dibaca langsung al Qurannya sebagai sumber kebenaran.

2.    Mohon dicek kalau ada kesalahan dalam nomor ayat al Quran nya dan mohon ditambahkan untuk kesempurnaan.

,

  1. #1 by Riza on January 31, 2013 - 11:14 pm

    artikel yg sederhana tp bermanfaat sekaliii🙂

    • #2 by blogngaji on February 7, 2013 - 12:15 pm

      Selamat berkunjung Riza,

      semoga artikel2 kami selalu bermanfaat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: