Kembali ke Aliran Agama atau Aturan?

Tolong disebarkan kepada teman-teman yang mau 28:56

Silahkan bergabung dengan mailing groups bahasaquran di groups.yahoo.com.

Perdebatan antara Islam, Kristen dan Yahudi selalu menjadi topik yang seru dan mendapatkan perhatian. Setelah sholat Jumat biasanya pedagang buku agama berkumpul di masjid-masjid yang besar untuk menjual buku-buku, kaset-kaset dan piringan-piringan DVD dimana banyak di dalamnya tentang perdebatan Islam dan Kristen. Saya termasuk yang tertarik untuk membeli dan mengetahui apa yang terdapat di dalamnya. Kesimpulan saya, perdebatan ini pada akhirnya malahan akan menimbulkan kebencian dan perseteruan dan tidak akan menimbulkan kebaikan dan perdamaian. Tentu saja itu kesimpulan saya pribadi.

Di dalam al Quran, Allah sudah menyatakan bahwa Dia menginginkan kita berbeda-beda umat yang memiliki syariat yang berbeda-beda, sebagaimana disebutkan dalam Surat 5:48, Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.

Bahkan lebih lanjut, Allah juga berkehendak kita untuk melestarikan tempat beribadah syariat yang berbeda-beda ini sehingga menjadi kurang masuk akal jika kita tidak senang atau bahkan menghambat umat beragama lain membangun tempat ibadahnya di sekitar kita, sebagaimana disebutkan dalam Surat 22:40, (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah.” Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid- masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa,

Secara hukum sunnatullah, Allah telah menjadikan kita berbeda-beda umat dengan aturan yang berbeda. Tidak mungkin kita memiliki misi untuk menyatukan umat beragama di dunia. Setiap diri kita diperintahkan Allah untuk ikut salah satu syariat, namun tidak untuk terpecah belah atau memperdebatkan kebenaran syariat masing-masing, sebagaimana disebutkan dalam Surat 45:18, Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.

Namun kenyataannya, adanya agama yang berbeda-beda ini terbukti tidak membawa persatuan dan perdamaian. Kalau kita melihat orang mati yang sudah dikubur saja, kuburannya dibedakan menjadi kuburan Islam dan non-Islam. Orang Islam anti dikuburkan di sebelah orang non-Islam. Orang Cina tidak mau dikuburkan kalau tidak di pemakaman Cina. Kesannya di dalam kuburan mereka bisa arisan atau pengajian sesama agama. Kalau kita pergi di kompleks pemakaman seperti di Karawang, terdapat zona kuburan yang dibagi berdasarkan agama dan kepercayaan. Saya jadi tersenyum sendiri, orang mati saja masih tidak akur karena perbedaan agama, apalagi orang hidup.

Lebih jauh, hadirnya para Nabi bertujuan untuk meredakan perpecahan antara umat manusia, sebagaimana disebutkan dalam Surat 2:213, Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.

Misi Nabi adalah menyatukan umat manusia dengan modal dari Allah melalui al Kitab yang dibawanya. Para Nabi juga mengerti bahwa kepercayaan manusia yang berbeda-beda adalah sumber perpecahan yang utama. Kalau kita lihat lebih jauh, para Nabi sebenarnya tidak membawa label agama sendiri-sendiri. Agama Yahudi timbul setelah Nabi Musa wafat. Agama Kristen timbul sekitar 40 tahun setelah Nabi Isa wafat (dalam Injil disebutkan dalam peristiwa di Antiok, yaitu ketika mereka mulai dipanggil sebagai Kristen).

Agama Islam sebagai agama yang mengikuti syariat Nabi Muhammad juga timbul setelah Nabi Muhammad wafat karena sebenarnya Islam sudah ada sejak alam semesta ini diciptakan, bukan sejak Nabi Muhammad menjadi Nabi, sebagaimana disebutkan dalam Surat 3:83, Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri (ASLAMA-ISLAM) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan. Menjadi pertanyaan jika Islam adalah agama yang mengikuti syariat Nabi Muhammad, bagaimana alam semesta yang dianggap Allah Islam itu dalam mengikuti syariat Nabi Muhammad?

Bahkan disebutkan bahwa Islam sudah ada sejak Nabi Ibrahim, sebagaimana disebutkan dalam Surat 22:78, Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik- baik Penolong. Menjadi pertanyaan, jika Islam dianggap agama yang mengikuti syariat Nabi Muhammad, apakah Nabi-Nabi sejak Nabi Adam, apalagi Nabi Ibrahim mengikuti syariat Nabi Muhammad?

Banyak yang mengatakan bahwa al Quran tidaklah lengkap dan sempurna karena tidak memuat secara detail tentang ibadah ritual yang diajarkan oleh Nabi Muhammad di dalamnya, seperti misalnya cara sembahyang, cara puasa dan sebagainya. Saya mendukung pendapat Allah bahwa al Quran adalah sempurna, sebagaimana disebutkan dalam Surat 14:52, (Al Quran) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan-Nya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran. Al Quran justru sempurna ketika tidak memuat syariat-syariat ibadah ritual yang diajarkan oleh Nabi Muhammad di dalamnya karena al Quran berlaku untuk setiap umat sebagaimana  disebutkan dalam Surat 68:52, Dan Al Quran itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat. Ibadah-ibadah syariat tentulah sangat penting untuk dilakukan karena merupakan reminding system manusia dalam mengingat ajaran Allah, namun perbedaan ibadah-ibadah syariat janganlah dijadikan sumber perpecahan dengan mengatakan saya yang benar, yang lain salah.

Islam di dalam al Quran tidak diartikan sebagai suatu aliran kepercayaan. Islam di dalam al Quran dimaksudkan sebagai aturan, sebagaimana disebutkan dalam Surat 3:19, Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. Jika kita memahami tentang Islam, maka kita akan kembali kepada aturan Allah dengan tidak berselisih dan menuhankan kebenaran dengan memperbandingkan aliran-aliran kepercayaan di antara masyarakat.

Jika kita memahami Islam sebagai suatu aturan yang sempurna yang diatur Allah di dalam al Quran, maka kita memahami bahwa justru dengan al Quran kita menyelesaikan perselisihan dan tidak menimbulkan perselisihan yang baru, sebagaimana disebutkan dalam Surat 16:64, Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al Quran) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.  

Justru dengan al Quran kita menyatukan hati manusia dan tidak memecah belah dan bermusuh-musuhan, sebagaimana disebutkan dalam Surat 3:103, Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

Justru dengan al Quran kita tidak melayani perdebatan yang menimbulkan perpecahan, sebagaimana disebutkan dalam Surat 29:46,Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan katakanlah: “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri.”

Islam sebaiknya tidak diartikan sebagai sebuah aliran kepercayaan dimana pengikut-pengikutnya disebut sebagai muslim. Islam pada hakikatnya berarti aturan dan siapa saja yang berserah diri kepada aturan Allah disebut sebagai muslim. Penterjemahan muslim di dalam al Quran terjemahan sebagai orang yang beragama Islam atau merupakan bagian dari kelompok Islam perlu dilihat lebih lanjut. Islam versi kelurahan adalah ketika seseorang mengucapkan dengan lisan kalimat syahadat atau secara otomotis menjadi Islam ketika ayah dan ibunya juga ber-KTP Islam. Namun Islam versi Allah tidak berdasarkan atas cap kelurahan atau keturunan, muslim sejati versi Allah adalah ketika manusia telah menjalani hidupnya sesuai dengan aturan Allah yang murni dengan selalu membaca, mempelajari, memahami, melaksanakan, mensyiarkan dan melestarikan ajaran Allah., sebagaimana disebutkan dalam Surat 39:2, Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Quran) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.

,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: