Ulama Peneruh Para Nabi

Tolong disebarkan kepada teman-teman yang mau 28:56

Silahkan bergabung dengan mailing groups bahasaquran di groups.yahoo.com.

Seringkali dalam hidup ini kita merasa kurang percaya diri di hadapan Allah. Semua orang ingin dekat dengan Tuhannya, namun banyak orang merasa kurang percaya diri untuk dapat mendekat kepada Tuhan. Semua orang ingin dibimbing Tuhan, tetapi merasa kurang percaya diri ketika memohon untuk dibimbing. Semua orang ingin diampuni Tuhan, namun merasa kurang percaya diri ketika memohon ampunan langsung kepada Tuhan. Rasa kurang percaya diri yang menyebabkan terkadang kita membutuhkan orang lain dalam berinteraksi dengan Tuhan, padahal Tuhan kita dekat, hanya kita dijauhkan karena masih mempertuhankan yang lain, mempertuhankan orang lain.

Kita merasa bahwa orang lain yang kita anggap lebih dekat dengan Tuhan dapat mendekatkan diri kita dengan Tuhan kita, padahal seringkali keberadaan orang lain inilah yang menjauhkan kita dengan Tuhan, sebagaimana disebutkan dalam Surat 39:2-3, Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Quran) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.

Posisi ulama dalam kehidupan kita seharusnya menjadikan diri kita lebih dekat kepada Allah. Banyak orang menyangka bahwa ulama adalah penerus para nabi, padahal tongkat estafet untuk melaksanakan tugas Nabi diberikan kepada siapa yang dikehendaki Allah, sebagaimana disebutkan dalam Surat 2:105, Orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Tuhanmu. Dan Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi) rahmat-Nya (kenabian); dan Allah mempunyai karunia yang besar.

Menjadi pertanyaan, lalu siapa yang dikehendaki Allah untuk meneruskan perjuangan para Nabi ini? Ya jawabannya ulama itu sendiri, kalau definisi ulama adalah orang yang diberikan ilmu dari Allah, karena ilmu dan hikmah yang diberikan kepada para Nabi juga diberikan kepada manusia-manusia terpilih setelah beliau untuk meneruskan perjuangannya, sebagaimana disebutkan dalam:

Surat 4:166, (Mereka tidak mau mengakui yang diturunkan kepadamu itu), tetapi Allah mengakui Al Quran yang diturunkan-Nya kepadamu. Allah menurunkannya dengan ilmu-Nya; dan malaikat-malaikat pun menjadi saksi (pula). Cukuplah Allah yang mengakuinya.

Surat 11:14, Jika mereka yang kamu seru itu tidak menerima seruanmu (ajakanmu) itu maka ketahuilah, sesungguhnya Al Quran itu diturunkan dengan ilmu Allah, dan bahwasanya tidak ada Tuhan selain Dia, maka maukah kamu berserah diri (kepada Allah)?

Di dalam al Quran, definisi ulama adalah orang yang takut kepada Allah, sebagaimana disebutkan dalam Surat 35:28, Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.

Jika melihat kepada ayat tersebut diatas, pengakuan bahwa seseorang adalah seorang ulama tidak berdasarkan pengakuan dari manusia atau masyarakat melalui sebuah organisasi, partai, buku, atau apapun juga. Pengakuan bahwa seseorang itu adalah seorang ulama, seorang yang diberikan ilmu dari Tuhan, cukuplah datang dari Allah. Oleh karena itu ulama yang sebenarnya malahan tidak pernah mengaku dirinya ulama dan malahan merasa risih dengan mencegah jika dipanggil ulama oleh orang lain.

Terdapat suatu perbedaan antara ulama yang diakui Allah dan julukan ulama yang diakui manusia dan masyarakat. Perbedaan ini akan dibahas dengan maksud agar kita dapat memilih dan memilah sendiri dan agar kita dapat memposisikan diri secara proporsional ketika berinteraksi dengan “ulama” sehingga tidak malahan menjadikan ulama menjadi figur-figur yang menghalangi kita untuk mempertuhankan Allah semata.

Pertama, pengakuan bahwa seseorang itu ulama cukuplah datang dari Allah, sehingga ulama yang sebenarnya tidak memerlukan pengakuan dari manusia.

Kedua, hak untuk mensyiarkan ajaran Tuhan adalah hak sekaligus kewajiban setiap manusia yang memahami fungsinya sebagai pewaris para Nabi dan bukan hanya monopoli kepada orang-orang yang di dalam strata masyarakat dijuluki sebagai ulama, sebagaimana disebutkan dalam Surat 28:87, Dan janganlah sekali-kali mereka dapat menghalangimu dari (menyampaikan) ayat-ayat Allah, sesudah ayat-ayat itu diturunkan kepadamu, dan serulah mereka kepada (jalan) Tuhanmu, dan janganlah sekali-sekali kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.

Ketiga, Islam mengajarkan kita untuk tidak berlebih-lebihan dengan cara yang tidak benar dalam agama. Di dalam al Quran, Allah menceritakan Nabi Isa sebagai perumpamaan orang yang disembah orang lain. Cerita tentang Nabi Isa ini adalah cerita yang nyata setiap jaman karena al Quran bukanlah cerita yang dibuat-buat, sebagaimana disebutkan dalam Surat 12:111, Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. Oleh karena al Quran bukanlah cerita yang dibuat-buat, maka figur-figur yang dipertuhan ini akan selalu ada di setiap jaman.

Al Quran mengajarkan manusia untuk menjadi manusia-manusia yang menyembah Tuhan atau dalam bahasa Arab disebut sebagai RABBANIYAH yang bercirikan dengan semangat kesetaraan selalu belajar dan mengajarkan al Kitab, sebagaimana disebutkan dalam Surat 3:79, Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” Akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.

Al Quran tidak mengajarkan manusia menjadi manusia-manusia yang menyembah ulama atau dalam bahasa Arab disebut sebagai RAHBANIYYAH, sebagaimana disebutkan dalam Surat 57:28, Kemudian Kami iringi di belakang mereka dengan rasul-rasul Kami dan Kami iringi (pula) dengan Isa putra Maryam; dan Kami berikan kepadanya Injil dan Kami jadikan dalam hati orang- orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang. Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya. Maka Kami berikan kepada orang-orang yang beriman di antara mereka pahalanya dan banyak di antara mereka orang-orang fasik.

Keempat, orang-orang yang dijuluki ulama terkadang malahan menghalangi cahaya Allah masuk ke dalam manusia-manusia, motif ekonomi sebagai alasan utama, sebagaimana disebutkan dalam Surat 9:31-34, Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan- ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai. Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih,

(Sebagai catatan, dalam ayat diatas seringkali diterjemahkan sebagai orang alim Yahudi dan Nasrani, padahal kata-kata Yahudi dan Nasrani tidak disebutkan dalam bahasa Arabnya, mungkin karena yang menterjemahkan juga ulama)

Kenyataan ini banyak kita jumpai di lapangan. Ketika kita orang hendak belajar al Quran dipersulit dengan berbagai macam cara, ketika hendak mensyiarkan al Quran seringkali dianggap tidak pantas karena tidak punya kartu anggota ulama atau tidak berpenampilan seperti layaknya ulama. Lebih sakit lagi kalau kebenaran al Quran seringkali ditest dengan pendapat ulama, padahal bagi manusia yang sudah menemukan hidayah Allah, al Quran itu sudah sangat terang benderang.

Kelima, orang-orang yang dijuluki ulama ini juga seringkali, kalau tidak dapat dikatakan selalu, berbeda pendapat, sehingga menimbulkan banyak mazhab dan aliran. Sebenarnya ini bukan sesuatu yang buruk karena manusia memang diciptakan berbeda-beda pendapat, sebagaimana disebutkan dalam Surat 51:8, sesungguhnya kamu benar-benar dalam keadaan berbeda pendapat, namun menjadi buruk ketika pendapat-pendapat ini dijadikan sumber kebenaran. Oleh karena itu, himbauan agar manusia yang berbeda-beda aliran dan mazhab ini adalah kembali kepada fitrah aturan Allah karena ketidak murnian aturan dengan tidak menggunakan aturan Allah ini merupakan potensi bagi kita untuk mempersekutukan Allah secara aturan, sebagaimana disebutkan dalam Surat 30:30-32, Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.

Sebagai penutup, saya termasuk orang yang setuju jika dikatakan bahwa ulama adalah penerus para Nabi, namun julukan ulama bukanlah julukan yang diberikan kepada manusia, namun cukuplah Allah yang mengakui. Menurut hemat saya, orang yang tidak risih ketika dipanggil ulama justru bukanlah ulama yang sebenarnya karena mereka tidak mengetahui ilmu Allah. Orang yang tidak mencegah ketika dikultus individukan orang lain bukanlah ulama yang sesungguhnya karena mereka malahan menciptakan potensi kemusyrikan yang menjauhkan manusia dari Tuhannya masing-masing. Orang yang hobinya mengeluarkan hukum halal haram mungkin bukan ulama yang sejati, karena ulama yang sejati selalu bersandar pada sumber kebenaran dari Tuhan, sebagaimana disebutkan dalam

Surat 11:116, Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.

Surat 6:57, Katakanlah: “Sesungguhnya aku berada di atas hujjah yang nyata (Al Quran) dari Tuhanku, sedang kamu mendustakannya. Tidak ada padaku apa (azab) yang kamu minta supaya disegerakan kedatangannya. Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik.”

Surat 7:33, Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.”

Catatan:

1. Angka diatas berarti rujukan ayat al Quran, 28:56 berarti surat ke-28 ayat ke-56, mohon dibaca langsung al Qurannya sebagai sumber kebenaran.

2. Mohon dicek kalau ada kesalahan dalam nomor ayat al Quran nya dan mohon ditambahkan untuk kesempurnaan.

, ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: