Khawatir akan kematian

Tolong disebarkan kepada teman-teman yang mau 28:56

Silahkan bergabung dengan mailing groups bahasaquran di groups.yahoo.com.

 

Baru-baru ini saya berbicara dengan teman saya yang beberapa bulan lalu terkena stroke ringan. Sahabat saya ini terbilang masih muda dan masih memiliki anak kecil, buah dari pernikahan yang usianya belum lama.

Pertanyaan yang saya ajukan kepadanya, “Apa yang kamu takutkan ketika mengalami serangan stroke dan ketika diambang kematian?”. Jawabannya tidak mengagetkan, “Kekhawatiran tentang bagaimana masa depan anak-anak saya yang masih kecil”.

Ketika teman saya ini menanyakan bagaimana pendapat saya tentang hal tersebut, maka saya menjawab ada lima hal penting dari jawaban teman saya itu di dalam al Quran.

Pertama, bahwa jawaban teman saya itu menunjukkan bahwa dia sebenarnya belum mengalami proses yang disebut dengan sakratul maut yang sebenarnya, dia belum mencapai ambang kematian yang sesungguhnya. Ketika manusia telah benar-benar mencapai titik sakratul maut, maka dia pasti tidak akan memikirkan nasib orang lain seperti anak dan istri. Manusia yang telah mencapai sakratul maut pasti akan menjadi manusia yang memikirkan dirinya sendiri.

Di dalam al Quran, bahkan disebutkan bahwa manusia yang mencapai sakratul maut akan menjadi sangat egois yang jika nasibnya buruk, maka dia bahkan tega untuk mengorbankan anak dan istrinya untuk masuk neraka, sebagaimana disebutkan dalam Surat 70:8-12, Pada hari ketika langit menjadi seperti luluhan perak, dan gunung-gunung menjadi seperti bulu (yang berterbangan), dan tidak ada seorang teman akrabpun menanyakan temannya, sedang mereka saling memandang. Orang kafir ingin kalau sekiranya dia dapat menebus (dirinya) dari azab hari itu dengan anak-anaknya, dan isterinya dan saudaranya, dan kaum familinya yang melindunginya (di dunia). Dan orang-orang di atas bumi seluruhnya kemudian (mengharapkan) tebusan itu dapat menyelamatkannya. Sekali-kali tidak dapat, sesungguhnya neraka itu adalah api yang bergolak.

Kedua, ketika masih ada rasa khawatir pada saat kita dihadapkan kondisi semacam ini, maka sebenarnya itu tanda-tanda yang kurang baik dimana masih banyak pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan dalam hidup ini, karena ciri manusia yang berpulang dengan sukses adalah ketika tidak ada rasa khawatir di dalam kehidupannya sampai dengan ajal menjemputnya, sebagaimana disebutkan dalam Surat 3:169-170, Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.  

Sebagaimana telah dibahas dalam pembahasan sebelumnya bahwa pertanyaan ketika kita mati adalah sejauh mana kita masih mempersekutukan Tuhan selama hidup ini  dan bahwa sejauh mana kita telah bersedekah (yang berasal dari kata shiddiq yang berarti benar) yang merupakan pembenaran atas ketidak musyrikan kita, terutama musyrik dalam hal kepemilikan. Oleh karena itu manusia yang dijemput kematian dalam keadaan khawatir adalah ciri manusia yang masih memiliki banyak pekerjaan rumah dalam hal sedekah yang belum dikerjakan, sebagaimana disebutkan dalam Surat 63:10, Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?”

Manusia yang mengalami kekhawatiran ketika dijemput ajal, maka berarti selama hidupnya kurang bersedekah, karena rasa khawatir akan dihilangkan Allah bagi manusia yang setiap saat selalu bersedekah, sebagaimana disebutkan dalam Surat 2:274, Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

Adanya kekhawatiran pada sahabat saya ketika terkena stroke ini sebenarnya adalah pertanda adanya kesempatan untuk menyelesaikan banyak pekerjaan rumah dalam hal membuktikan ketidak musyrikannya kepada Allah.

Ketiga, sebagaimana telah dibahas sebelumnya mengenai wasiat, manusia yang memahami al Quran tetap akan memikirkan nasib anak-anaknya, namun dengan cara yang berbeda dari apa yang teman saya pikirkan ini. Manusia yang memahami al Quran dan dirinya sedang mengalami sakratul maut, dia akan membuktikan kebenaran al Quran bahwa pertanyaan manusia yang sedang sakratul maut adalah pertanyaan tentang tauhid apakah selama hidup kita sedang mengesakan atau mempersekutukan Allah.

Oleh karena itu, ketika orang ini kemudian memikirkan anaknya, yang terpikir bukanlah siapa yang memberikan rezeki, siapa yang menyekolahkan dan sebagainya, tetapi yang pasti terpikirkan adalah apakah bagaimana mereka akan tumbuh menjadi anak yang mengesakan Allah bukan menjadi anak yang mempersekutukan Allah, sebagaimana disebutkan dalam Surat 2:133, Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.”

Ajaran kepada anak tentang mengesakan Allah tidak hanya diajarkan ketika sedang sakratul maut, namun juga selama hidup kita, sebagaimana disebutkan dalam Surat 31:12, Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”  

Mengingat sangat pentingnya ini diajarkan kepada  anak-anak, maka pada saat kematian menjemput pun, pesan inilah yang perlu disampaikan kepada anak-anak, istri dan kerabat.

Keempat, apa yang terdapat di sisi kita ini pada suatu saat akan lenyap, yang abadi adalah nafs manusia, sebagaimana disebutkan dalam Surat 16:96, Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. 

Rasa kekhawatiran untuk meninggalkan apa yang telah dititipkan Allah atas diri kita selama hidup ini akan menimbulkan perasaan memiliki dan sikap bakhil yang memperberat perpisahan kita dengannya, sebagaimana disebutkan dalam Surat 3:180, Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Kelima, jangan pernah berprasangka buruk kepada Tuhan bahwa rezeki anak dan istri kita adalah harus melalui saya sebagai seorang suami, sebagaimana disebutkan dalam Surat 15:20, Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezki kepadanya.  Boleh jadi sebenarnya rezeki itu adalah rezeki anak dan istri kita yang disalurkan Allah melalui diri kita dimana tanpa kita pun mereka akan mendapatkannya.

Saya ingin menutup pembahasan ini dengan pertanyaan kepada diri saya sendiri dan anda, masihkah kita merasa khawatir akan kematian? Kalau masih, berarti masih banyak pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan dalam pembuktikan tauhid ini kepada Allah.

 

Catatan:

1.    Angka diatas berarti rujukan ayat al Quran, 28:56 berarti surat ke-28 ayat ke-56, mohon dibaca langsung al Qurannya sebagai sumber kebenaran.

2.    Mohon dicek kalau ada kesalahan dalam nomor ayat al Quran nya dan mohon ditambahkan untuk kesempurnaan.

, , ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: