Prioritas Utama Mendidik Anak

Tolong disebarkan kepada teman-teman yang mau 28:56

Silahkan bergabung dengan mailing groups bahasaquran di groups.yahoo.com

 

Setiap orang tua yang waras pasti menyadari bahwa pendidikan anak adalah salah satu prioritas utama dalam hidup dan tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya menjadi anak yang tidak sukses dunia dan akhirat. Meski sadar akan pentingnya pendidikan anak, namun tidak sedikit orang tua yang memiliki pendapat bahwa pendidikan adalah tanggung jawab guru dan sekolah. Banyak dari orang tua yang tidak membentuk karakter anak-anak karena tidak sempat atau tidak memiliki pengetahuan tentang hal itu, sehingga menyerahkan sepenuhnya kepada pihak-pihak luar. Kewajiban untuk mendidik anak adalah kewajiban orang tua, bukan kewajiban guru dan sekolah, sebagaimana disebutkan dalam Surat 4:9, Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.

Saya mungkin termasuk juga lalai selama ini untuk mendidik anak dengan cara yang diatur oleh Tuhan. Untungnya saya belum terlambat karena anak-anak saya masih kecil-kecil. Kelalaian ini bukan disebabkan oleh kehendak saya sendiri atau tidak sempat meluangkan waktu, namun karena sebelumnya saya tidak memahami aturan Tuhan di dalam mendidik anak.

Perlu diingat bahwa perintah untuk mematuhi orang tua haruslah dimulai dari perintah orang tua untuk mematuhi Allah. Bersyukur kepada orang tua haruslah dimulai dari kesyukuran orang tua kepada Allah, dimana syukur berarti mematuhi segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, sebagaimana disebutkan dalam Surat 31:13, Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.

Pengetahuan baru yang saya dapatkan sesuai al Quran dalam mendidik anak adalah prioritas dalam mendidik anak dan membentuk karakter anak.

Di dalam al Quran, prioritas terpenting untuk mendidik anak yang merupakan tanggung jawab setiap orang tua, bukan guru sekolah atau guru ngaji, adalah mendidik anak-anak untuk tidak mempersekutukan Allah. Tidak mempersekutukan Allah selayaknya menjadi pengajaran pertama dan yang utama kepada setiap anak manusia, apalagi anak kita sendiri. Saya dahulu termasuk orang tua yang lalai dalam hal ini, namun insya Allah di sisa waktu saya, inilah pengajaran utama yang akan saya turunkan kepada setiap anak manusia, terutama anak saya sendiri.

Kalau kita menengok di dalam al Quran, Allah mengutip Luqman di dalam mengajar anak-anaknya tentang bagaimana beliau mengajarkan agar anak-anaknya tidak mempersekutukan Allah dan menjadikan pengajaran ini menjadi yang utama, mengajarkan anak-anaknya untuk bertanggung jawab atas setiap perbuatan dan menjadi manusia yang memiliki karakter yang baik, sebagaimana disebutkan dalam Surat 31:12-20, Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.

Tidak mempersekutukan Allah ini juga menjadi prioritas utama Nabi Ya’qub ketika mengajarkan anak-anaknya sehingga ketika beliau sakratul maut pun, pesan inilah yang diberikan kepada anak-anaknya, sebagaimana disebutkan dalam Surat 2:133, Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.”

Tidak mempersekutukan Allah ini juga menjadi prioritas utama Nabi Ibrahim kepada anak-anaknya, sebagaimana disebutkan dalam Surat 2:132, Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” Sebagai catatan, muslim seringkali diartikan sebagai memeluk agama Islam, padahal muslim lebih tepat diartikan sebagai orang yang berserah diri sepenuhnya kepada aturan Allah yang bersih dari kemusyrikan atau sifat mempersekutukan Allah, sebagaimana disebutkan dalam Surat 39:2-3, Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Quran) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.

Kalau kita melihat fakta sejarah dan apa yang disebutkan dalam al Quran bagaimana Nabi Ibrahim menjadi kesayangan Allah (lihat Surat 2:125), bagaimana Nabi Ibrahim menjadi imam manusia (Surat 2:124) serta bagaimana Nabi Ibrahim menjadi suri tauladan bagi manusia (Surat 33:21 60:4) adalah karena beliau merupakan manusia yang tidak mempersekutukan Allah. Seluruh manusia, bahkan Nabi Muhammad pun diperintahkan Allah untuk mengikuti Nabi Ibrahim, sebagaimana disebutkan dalam Surat 16:120-123,Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan), (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh. Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.

Nabi Ibrahim tidak hanya sukses menjadikan dirinya menjadi manusia kesayangan Allah, tetapi juga sukses mengantarkan anak-anaknya dan bahkan keturunannya menjadi Nabi dan Rasul untuk menjadikan imam bagi manusia yang mengantarkan diri dan orang lain menjadi manusia-manusia yang tidak mempersekutukan Allah.

Sebagaimana telah dibahas dalam topik sebelumnya yang berjudul “Meraih Cahaya Allah”, mempersekutukan Allah tidak sesempit menyembah patung dan klenik. Mempersekutukan Allah bermakna sangat luas dan juga sangat tipis. Sifat mempersekutukan Allah tidaklah terlihat kasat mata. Ia bagaikan semut hitam, berjalan di batu hitam, di malam yang gelap dan tanpa cahaya dari Allah, kita bagaikan memakai kacamata hitam. Sifat ini tidak terlihat kalau kita tidak mempergunakan al Quran.

Tentu saja mendidik anak untuk menjadi manusia yang tidak mempersekutukan Allah tidaklah dengan konsep semata dan tidak mungkin secara instan. Ini adalah suatu proses yang membutuhkan ketauladanan orang tua dan melalui perilaku perbuatan sehari-hari.

(Bersambung)

Catatan:

1.    Angka diatas berarti rujukan ayat al Quran, 28:56 berarti surat ke-28 ayat ke-56, mohon dibaca langsung al Qurannya sebagai sumber kebenaran.

2.    Mohon dicek kalau ada kesalahan dalam nomor ayat al Quran nya dan mohon ditambahkan untuk kesempurnaan.

, , ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: