Prioritas Mendidik Anak (bag. 3)

Tolong disebarkan kepada teman-teman yang mau 28:56

Silahkan bergabung dengan mailing groups bahasaquran di groups.yahoo.com

Ketiga, seringkali kita sebagai orang tua mengajarkan anak-anak kita untuk tidak meninggalkan kewajiban shalat, namun seringkali kita lupa bahwa membaca al Quran sama pentingnya dengan shalat, bahkan diletakkan terlebih dahulu dalam Surat 29:45, Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. Hakikat shalat dalam arti mendirikan shalat juga berarti mengingat aturan Allah sehingga shalat yang mencegah anak-anak kita dari perbuatan keji dan mungkar adalah ketika setiap saat anak-anak kita mengingat aturan Allah, sebagaimana disebutkan dalam Surat 20:14, Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.  

Menjadi pertanyaan, bagaimana mungkin shalat anak saya menjadi shalat yang benar jika aturan Tuhan tidak dikuasainya?

Aplikasi pengajaran untuk tidak mempersekutukan Allah secara aturan ini perlu ditanamkan dengan program yang jelas dengan mengajak anak-anak yang sudah mahir membaca untuk setiap hari sebelum tidur membaca satu dua ayat dalam bahasa Indonesia agar memahaminya dan kemudian menuliskan dan di akhir minggu membahasnya bersama dengan orang tuanya. Dengan kegiatan ini maka anak dan orang tua dapat menjadi orang-orang rabbani (orang yang menyembah Allah) karena selalu belajar dan mengajarkan aturan Allah, sebagaimana disebutkan dalam Surat 3:79, Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” Akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.

Anak-anak kita adalah wadah yang jernih dimana kita sebagai orang tuanya perlu mengisinya dengan cahaya Allah sehingga pada suatu saat nanti anak-anak ini menjadi cahaya Allah yang berjalan (kitabum mubin – kitab yang berjalan) dan menebarkan cahaya Allah kepada manusia lain.

Jika Allah memerintahkan kita untuk mempelajari aturannya secara kaffah, sebagaimana disebutkan dalam Surat 2:208, Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu, maka program untuk mengikis kemusyrikan secara aturan ini perlu diatur sedemikian rupa sehingga pada saatnya anak-anak kita akan menjadi cahaya Allah yang sempurna. Aplikasinya adalah dengan mengajak mereka membaca 2-3 ayat dalam satu hari dan menuliskan poin-poin dalam ayat tersebut yanga kan didiskusikan dengan orang tua di akhir minggu, sehingga ketika anak kita lulus SMA, lengkaplah sudah cahaya Allah dalam dirinya dan secara tidak sadar lengkap pula cahaya Allah di dalam diri orang tuanya.

Keempat, dalam hal mengikis musyrik perilaku dan perlindungan, anak-anak kita perlu diajari bahwa musuhnya bukanlah teman-temannya di sekolah, tetapi syaithan yang berada di dalam diri manusia termasuk di dalam diri orang tuanya. Oleh karena itu pengajaran tentang musuh manusia ini perlu diajarkan secara kaffah dengan disertai contoh-contoh di sekitar kita sehari-hari.

Anak-anak yang diajarkan ilmu tentang musuh hidup ini dengan benar akan sadar dan mengasihani teman-teman yang mengejeknya karena mereka sedang dipakai “musuh”, sebagaimana disebutkan dalam Surat 17:53, Dan katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. (Silahkan dibaca kembali modul mengenai “Musuh Manusia”).

Aplikasi dari pendidikan ini adalah dengan terus mempelajari modus operandi syaithan melalui apa yang dilihat dan dialaminya setiap hari, misalnya ketika sedang menonton televisi, anak-anak saya akan kasihan dan mendoakan saya ketika saya atau istri saya marah kepada mereka, karena sadar bahwa kami sebagai orang tua sedang dimanfaatkan syaithan.

Kelima, dalam mengikis musyrik figur, anak-anak perlu diajari untuk tidak menuhankan figur siapapun di dalam hidupnya termasuk figur orang tuanya sendiri. Orang tua harus dengan ikhlas melepaskan figurnya di hadapan anak-anaknya agar anak-anak belajar untuk tidak mengkultuskan manusia lain dalam kehidupannya kelak. Musuh yang terbesar dalam mengajarkan aspek kelima ini adalah hilangnya akal sehat dan tidak adanya diskusi dalam keluarga.

Saya bersyukur sejak kecil dibesarkan dalam keluarga yang menjunjung tinggi demokrasi dan ayah saya selalu mengajak diskusi atas segala hal dengan menghormati pendapat orang lain. Proses diskusi dengan prinsip kesetaraan dan semangat egalitarian ini penting untuk dihadirkan di tengah keluarga. Pendapat ayah bisa saja salah kalau argumentasinya tidak dapat dipertahankan berdasarkan akal sehat dan sebaliknya pendapat anak dapat menjadi acuan jika dia berdasarkan kepada aturan Allah di dalam al Quran. Keluarga yang berdemokrasi berdasarkan aturan Allah adalah awal dimana anak-anak akan menjadi orang-orang yang tidak menuhankan figur manusia lain di dalam kehidupannya kelak.

Aplikasi dari program kelima ini adalah dengan selalu bermusyawarah atas segala hal dan keikhlasan orang tua untuk melepaskan ego pribadi dan sifat otoriternya dan selalu mengedepankan akal sehat dan aturan Allah, sebagaimana antara lain disebutkan dalam Surat 3:159, Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

Di dalam al Quran, Allah mengambil cerita Ibrahim yang ketika diperintahkan Allah untuk menyembelih anak-anaknya (karena di dalam al Quran disebutkan Ismail dan di dalam Injil disebutkan Ishak), beliau mendiskusikan terlebih dahulu hal tersebut dengan anak-anaknya, sebagaimana disebutkan dalam Surat 37:102, Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Anak-anak yang dididik dengan sikap egaliter dan mengedepankan akal sehat dan aturan Allah ini akan selalu menjadi anak yang memperbaiki diri setiap saat karena mereka dapat menerima pendapat orang lain yang masuk akal dan sesuai aturan Allah dan mengakui secara fair jika dirinya salah karena diajarkan oleh orang tua yang juga selalu mengakui kesalahannya dan meminta maaf di hadapan anak-anaknya jika memang mereka salah.

Anak-anak yang dididik dengan sikap semacam ini tidak akan terpengaruh jika pada suatu saat kelak diajarkan untuk misalnya ajaran agama yang tidak sesuai dengan akal sehat dan aturan Allah, karena tidak ada figur siapapun dalam hidupnya yang selalu benar, kebenaran harus selalu dilandasi oleh suatu argumen yang berdasarkan akal sehat dan aturan Allah.

Catatan:

1.    Angka diatas berarti rujukan ayat al Quran, 28:56 berarti surat ke-28 ayat ke-56, mohon dibaca langsung al Qurannya sebagai sumber kebenaran.

2.    Mohon dicek kalau ada kesalahan dalam nomor ayat al Quran nya dan mohon ditambahkan untuk kesempurnaan.

, , ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: