The Postman – 1

Tolong disebarkan kepada teman-teman yang mau 28:56

Silahkan bergabung dengan mailing groups bahasaquran di groups.yahoo.com.

 

Di dalam berbagai kesempatan untuk mengajak sahabat-sahabat di seluruh Indonesia untuk melestarikan dan terus waris mewarisi atas wahyu Allah, saya selalu membuat perumpamaan bahwa setiap diri kita memiliki kewajiban untuk menjadi utusan Tuhan yang menyebarluaskan ajaran-Nya di muka bumi. Allah sudah berjanji di dalam al Quran bahwa dia telah memilih manusia menjadi khalifah-Nya di muka bumi.

Khalifah memiliki berbagai macam arti, namun arti yang paling kuat dari khalifah adalah pengganti, sebagaimana disebutkan dalam Surat 10:14, Kemudian Kami jadikan kamu pengganti-pengganti (kholaifa) (mereka) di muka bumi sesudah mereka, supaya Kami memperhatikan bagaimana kamu berbuat. Di dalam ayat ini, disebutkan kholaifa yang berarti jamak dari khalifah atau pengganti.

Janji Allah untuk menjadikan manusia sebagai pengganti-Nya di muka ini merupakan janji yang pasti ditepati-Nya. Oleh karena itu, Allah tidak mungkin turun langsung ke bumi. Allah tidak mungkin melestarikan aturan-Nya yaitu Al Quran dengan turun langsung ke podium-podium masjid, ke mimbar-mimbar pengajian, ke acara-acara pemahaman al Quran, sambil berkata, “Perkenalkan, nama saya Allah, hari ini saya ingin mensyiarkan al Quran.” Itu suatu hil yang mustahal, kata Tarzan Srimulat.

Allah telah memilih manusia untuk mewakili-Nya, menggantikan-Nya sebagai khalifah untuk mengemban tugas dan tanggung jawab menyampaikan aturan-aturan-Nya itu kepada umat manusia di muka bumi. Manusia-manusia yang dipilih inilah merupakan tim Ilahi, sebagaimana disebutkan dalam Surat 15:9, Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. Disebut sebagai Kami di dalam ayat ini, karena memang tidak hanya Allah semata, tetapi Allah dengan aparatnya. Dengan manusia yang dipilihnya. Dengan kita. Dengan saya.

Inilah manusia yang dipilih Allah untuk diwariskan ajaran-ajaran-Nya sebagaimana disebutkan dalam Surat 35:32, Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.

Saya ingin menggaris bawahi bahwa tugas untuk melestarikan ajaran Tuhan ini tidaklah berhenti sejak Nabi Muhammad wafat, saya juga ingin menggaris bawahi bahwa tugas ini bukan monopoli ustad dan ulama. Tugas ini adalah tugas kekhalifahan kita, kalau memang kita ingin dianggap khalifah oleh Allah. Oleh karena itu proses pemilihan manusia yang merupakan penerus pekerjaan para Nabi dan Rasul ini tidak akan pernah berhenti, sebagaimana disebutkan dalam Surat 22:75, Allah memilih utusan-utusan-(Nya) dari malaikat dan dari manusia; sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Tense yang dipergunakan dalam ayat ini bukanlahpast tense atau masa lalu, tetapi  present continous tense atau masa kini yang akan datang.

Saya suka menggunakan perumpamaan bahwa penerus tugas para Nabi dan Rasul ini seperti seorang TUKANG POS.

Seperti seorang tukang pos, tugas kita adalah menyampaikan surat-surat Allah sebagai sebuah amanat yang harus disampaikan kepada manusia yang lain, sebagaimana disebutkan dalam Surat 5:67, Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.

Jika seorang tukang pos tidak menyampaikan surat yang diamanatkan kepadanya, maka ia adalah seorang tukang pos yang berkhianat kepada atasannya, sebagaimana disebutkan dalam Surat 8:27, Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.

Keimanan seorang manusia dimata Tuhannya bahkan dipertanyakan, karena ciri seorang manusia yang beriman adalah seorang manusia yang mau menjadi tukang pos, sebagaimana disebutkan dalam Surat 23:8, Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.

Seorang manusia yang tidak mau menjadi tukang pos berarti dia tidak menjadi karyawan dari perusahaan pos dimana Tuhan menjadi CEO-nya, sehingga dia dianggap berada di luar sistem perusahaan pos yang dianggap mempersekutukan Tuhan, sebagaimana disebutkan dalam

Surat 28:87, Dan janganlah sekali-kali mereka dapat menghalangimu dari (menyampaikan) ayat-ayat Allah, sesudah ayat-ayat itu diturunkan kepadamu, dan serulah mereka kepada (jalan) Tuhanmu, dan janganlah sekali-sekali kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.

Surat 2:159, Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila’nati Allah dan dila’nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela’nati, 

Banyak sekali diantara kita yang tidak menyadari peran dan tanggung jawab menjadi tukang pos, sehingga seumur hidup hanya menerima surat atau amanat dari orang lain dan tidak berusaha untuk menyampaikannya kembali kepada orang lain.

Selayaknya tukang pos yang bekerja kepada CEO perusahaan pos, maka tukang pos tidak diperkenankan meminta upah kepada penerima surat, apalagi menetapkan tarif kepada penerima surat. Ini adalah pelanggaran berat. Kartu merah. Tukang pos diperintahkan Big Boss untuk hanya meminta upah kepada-Nya.

Banyak sekali kita melihat di lapangan seorang yang mengaku sebagai penyampai amanat Allah, tetapi menetapkan tarif jutaan Rupiah yang memberatkan pihak yang mengundang. Jika ditanyakan kepada mereka tentang besaran tarif mereka, maka jawabannya, “Saya sih tidak menetapkan tarif tertentu tetapi yang sudah-sudah minimal Rp10 juta”, atau ketika kita memberikan sekedar uang transport, maka kita melihat perubahan raut wajah yang menjadi bersungut-sungut.

Seorang tukang pos bahkan diperintahkan Allah untuk mengatakan kepada penerima surat bahwa mereka tidak meminta upah apapun, selain mencari keridhaan Allah, sebagaimana disebutkan dalam:

Surat 6:90, Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah: “Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al-Quran).” Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh ummat.

Surat 38:86, Katakanlah: “Aku tidak meminta upah sedikitpun padamu atas da’wahku dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan.

Surat 11:29, Dan (dia berkata): “Hai kaumku, aku tiada meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanyalah dari Allah dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya mereka akan bertemu dengan Tuhannya, akan tetapi aku memandangmu suatu kaum yang tidak mengetahui.”

Surat 26:109, Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.

Surat 26:127, Dan sekali-kali aku tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.

Surat 26:145, Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu, upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.

Surat 26:164, Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semeta alam.

Surat 26:180, Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.

Surat 12:104, Dan kamu sekali-kali tidak meminta upah kepada mereka (terhadap seruanmu ini), itu tidak lain hanyalah pengajaran bagi semesta alam.

Surat 10:72, Jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah sedikitpun dari padamu. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (kepada-Nya).”

Upah yang dimaksudkan di sini dapat berbentuk apa saja, baik dalam bentuk uang atau amplop, penghargaan bentuk bentuk panggilan atau status tertentu, suara dalam pilkada atau partai politik atau organisasi tertentu. Pendeknya upah tersebut dapat berbentuk apa saja. Kita harus steril dari semua ini. Steril dalam semua konflik kepentingan atau vested of interest. Semua murni hanya mengharapkan ridho Ilahi dengan maksud agar penerima surat kemudian dalam mengambil jalan menuju Tuhannya masing-masing, sebagaimana disebutkan dalam Surat 25:27, Katakanlah: “Aku tidak meminta upah sedikitpun kepada kamu dalam menyampaikan risalah itu, melainkan (mengharapkan kepatuhan) orang-orang yang mau mengambil jalan kepada Tuhan nya.

Jika kita menyampaikan amanat Tuhan bebas dari vested interest, maka kita akan menjadi manusia yang bebas, tidak hanya menyenangkan hati penerima surat. Istilahnya, diusir pun tidak apa-apa.

Sebagai penerima surat, kita diajak untuk berpikir. Jika ada seseorang yang tidak mau dibayar, tidak terikat kepada suatu organisasi atau partai politik tertentu, tidak ada kepentingan apapun selain mengharapkan ridho Allah, menyampaikan amanat Allah secara murni dan konsekuen, lalu mengapa tidak diikuti dan malahan ditolak? Marilah kita perhatikan amanat Allah dalam Surat 11:51, Hai kaumku, aku tidak meminta upah kepadamu bagi seruanku ini. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah yang telah menciptakanku. Maka tidakkah kamu memikirkan(nya)?”

Allah sebagai Big Boss perusahaan pos telah menetapkan seorang tukang pos harus bebas dari kepentingan, dari vested interest.Kepentingannya hanyalah untuk mengajak manusia kembali menyembah Allah, sehingga ajaran tauhid menjadi dasar yang perlu diutamakan, sebagaimana disebutkan dalam Surat 16:36, Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).

Allah telah menetapkan bahwa hanya melalui tukang pos yang bebas kepentingan inilah kita akan mendapatkan surat yang benar. Hanya melalui tukang pos yang bebas “mita upah atau minta penghormatan” inilah manusia akan mendapatkan petunjuk, sebagaimana disebutkan dalam Surat 36:21, Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.

(bersambung)

Catatan:

 

1.    Angka diatas berarti rujukan ayat al Quran, 28:56 berarti surat ke-28 ayat ke-56, mohon dibaca langsung al Qurannya sebagai sumber kebenaran.

2.    Mohon dicek kalau ada kesalahan dalam nomor ayat al Quran nya dan mohon ditambahkan untuk kesempurnaan.

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: