The Postman – 3

Tolong disebarkan kepada teman-teman yang mau 28:56

Silahkan bergabung dengan mailing groups bahasaquran di groups.yahoo.com.

Menjadi seorang tukang pos perlu mengetahui kepada siapa surat harus disampaikan.

Pertama, kita perlu mengetahui bahwa al Quran adalah petuntuk bagi seluruh manusia. Seluruh manusia disini bukan hanya yang ber-KTP Islam. Al Quran adalah untuk seluruh umat, sebagaimana disebutkan dalam Surat 68:52, Dan Al Quran itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat. Lebih lanjut, al Quran adalah pedoman hidup manusia di muka bumi, sebagaimana disebutkan dalam Surat 45:20, Al Quran ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini.

Al Quran merupakan hidangan dari langit atau dalam al Quran disebut sebagai al Maidah (nama surat kelima dalam al Quran). Hidangan ini perlu diberikan kepada orang-orang yang membutuhkan makanan tersebut atau disebut sebagai orang yang miskin ilmu, anak yatim yaitu anak manusia yang tidak mendapatkan bimbingan  dan orang yang hidupnya tidak berpedoman kepada al Quran sebagai orang yang sedang ditawan oleh hawa nafsunya, sebagaimana disebutkan dalam Surat 76:8-9, Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.

Kedua, tingkatan manusia menerima al Quran bertingkat-tingkat. Ada yang menolak. Sayangnya ini merupakan sebagian besar meskipun tidak diakui secara eksplisit. Ada yang menerima sebagai informasi. Ada pula yang kemudian menerimanya sebagai petunjuk. Marilah kita perhatikan Surat 3:138, (Al Quran) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.

Bagi manusia yang menerima al Quran pun, tingkatannya bertingkat-tingkat.

Ada yang hanya takjub saja menerima al Quran, yang disebutkan dalam al Quran sebagai manusia berderajat jin, sebagaimana disebutkan dalam Surat 72:1, Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan. Inilah yang disebut sebagai sifat thawaf, atau hanya berputar-putar kebingungan atau takjub saja dengan aturan Allah.

Ada pula manusia yang kemudian tunduk patuh kepada amanat-amanat Allah ini dengan tingkatan yang berbeda-beda. Ada yang ketika surat tersebut disampaikan tukang pos, mereka menerima tetapi masih terdapat keragu-raguan, atau disebutkan sebagai ruku’ kepada ayat-ayat Allah. Ada pula yang ketika surat tersebut disampaikan, mereka menerimanya dengan sifat berserah diri atau muslim secara penuh atau disebut muhlisina lahuddin, atau disebutkand sebagai sujud kepada ayat-ayat Allah. Marilah kita perhatikan

Surat 2:125, Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud.”

Surat 22:26, Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): “Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumahKu ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku’ dan sujud.

Allah menghendaki kita dan orang-orang yang menerima surat dari Allah menempati peringkat teratas manusia menerima al Quran dengan langsung sujud. Tentu saja sujud disini bukan berarti sujud secara fisik, namun sujud dengan tunduk patuh menjalankan surat dari Allah tersebut, sebagaimana disebutkan dalam Surat 32:15, Sesungguhnya orang yang benar-benar percaya kepada ayat-ayat Kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih dan memuji Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong.

Allah menghendaki tidak ada penolakan atau keraguan kita kita menerima surat dari tukang pos, karena manusia yang memiliki keraguan dan ketidak tundukan, adalah manusia-manusia yang ingkar dan sombong. Allah tidak menghendaki kita menolak, memperdebatkan, sekedar takjub, hanya berkeliling-keliling saja di luar atau thawaf, ada keraguan sedikit saja, sekedar ruku’, tetapi Allah menghendaki kita masuk ke dalamnya dengan berserah diri secara total atau bersujud, sebagaimana disebutkan dalam Surat 84:20-21, Mengapa mereka tidak mau beriman? dan apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud,

Sebagai tukang pos, ketundukan tersebut perlu diawali oleh ketundukan para tukang pos sebelum menyampaikan surat. Sujud inilah ciri-ciri para tukang pos sebelumnya, sebagaimana disebutkan dalam Surat 19:58, Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.

Menjadi pertanyaan, mengapa manusia menerima al Quran dengan tingkatan yang berbeda-beda? Mengapa ada manusia yang menolak, ada manusia yang takjub dan berputar-putar kebingungan atau thawaf, ada manusia yang ruku’ dan ada manusia yang sujud kepada surat dari Allah?

Sebagaimana disebutkan dalam pembahasan sebelumnya bahwa tingkatan manusia menerima al Quran menggambarkan tingkatan kemusyrikan di dalam jiwanya. Manusia yang tingkat kemusyrikannya mentok, pastilah menolak al Quran, meskipun cara penolakannya tidak eksplisit atau selama hidupnya tidak akan pernah tersentuh petunjuk Allah melalui al Quran, meskipun terkadang dia hafal al Quran. Manusia yang tingkat kemusyrikannya tinggi, terkadang kita melihat ciri-cirinya suka memperdebatkan al Quran. Manusia yang tingkat kemusyrikannya menengah, akan ragu-ragu menerima al Quran, terkadang kita melihat dengan ciri-ciri menerima sebagian dan enggan menjalankan sebagian yang lain. Manusia yang kondisinya sudah zakat atau suci, meskipun dia tidak akan mengakuinya, akan menerima al Quran dengan bersujud secara total, ciri-cirinya akan menjadi tukang pos yang baik.

Marilah kita perhatikan Surat 56:77-79, Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.

Ketiga, jika tingkatan manusia dalam menerima al Quran bertingkat-tingkat dalam menerima al Quran dimana sebagian besar manusia akan menolak atau memperdebatkan al Quran karena kemusyrikannya, bagaimana menghindari potensi konflik dan perdebatan, padahal Allah tidak menghendaki al Quran diperdebatkan sebagaimana disebutkan dalam

Surat 40:34-35, Dan sesungguhnya telah datang Yusuf kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan, tetapi kamu senantiasa dalam keraguan tentang apa yang dibawanya kepadamu, hingga ketika dia meninggal, kamu berkata: “Allah tidak akan mengirim seorang (rasulpun) sesudahnya. Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang melampaui batas dan ragu-ragu. (Yaitu) orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang.

Surat 40:56, Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Surat 40:4, Tidak ada yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah, kecuali orang-orang yang kafir. Karena itu janganlah pulang balik mereka dengan bebas dari suatu kota ke kota yang lain memperdayakan kamu.

Surat 2:139, Katakanlah: “Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu; bagi kami amalan kami, dan bagi kamu amalan kamu dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati,

Menghindari perdebatan dan potensi konflik ketika menyampaikan surat dari Allah, para tukang pos perlu mengetahui bahwa manusia dalam menerima al Quran bertingkat-tingkat sesuai dengan tingkat kemusyrikannya, oleh karena itu para tukang pos perlu bermunajat kepada Allah untuk mengetahui di tingkat kemusyrikan berapa si manusia penerima surat.

Jika tingkatannya masih tinggi atau mentok, maka jangan dipaksakan untuk menerima surat dari Allah. Allah bahkan memperbolehkan para tukang pos untuk meninggalkan atau membiarkan orang semacam ini, dengan penuh kesabaran dan doa tentu saja, sebagaimana disebutkan dalam Surat 7:199, Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang jahil (bodoh). Sebagai catatan, kejahilan atau kebodohan ini bukanlah kedobohan secara intelektual, tetapi kebodohan secara spiritual.

Jika tingkatannya masih relatif tinggi atau menengah, jangan diberikan ayat-ayat yang berat. Orang yang kehausan jangan diberikan sirup yang kental, berikanlah air putih yang tawar.

Sebagaimana tukang pos yang baik, tidak semua manusia perlu diberikan surat karena bagi manusia yang kadar musyriknya mentok, surat ini hanyalah menghasilkan perdebatan yang tidak bermanfaat dan menghabiskan waktu, sebagaimana disebutkan dalam Surat 23:3, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna,

Allah memperbolehkan kita membiarkan manusia-manusia seperti ini ketika setelah kita sampaikan surat, mereka menolaknya, sebagaimana disebutkan dalam Surat 5:15, Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyi kan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan.

Sebagaimana tukang pos yang baik, kita perlu mengetahui prosedur operasional standar (SOP) dalam membawakan surat dari Allah, dimana al Quran tidak akan menyentuh manusia yang kadar kemusyrikannya mentok.

Sebagaimana surat, perlu ada perangko yang cukup agar surat tersebut sampai ke tujuan. Jika perangkonya hanya Rp100, sementara alamat yang dituju adalah Papua, padahal Big Boss PT Pos telah menetapkan bahwa minimal perangko ke Papua adalah Rp 5000, maka tukang pos yang tetap menyampaikan ayat kepada manusia yang perangkonya tidak cukup adalah tukang pos yang tidak tahu aturan. Akibatnya, dia akan menuai konflik, perdebatan dan penolakan yang tidak berguna. Kalau tidak percaya, silahkan dicoba sebagai pengalaman.

Surat Allah ini hanya untuk diberikan kepada manusia-manusia yang perangkonya cukup, sebagaimana disebutkan dalam Surat 4:58,Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

(bersambung)

Catatan:

 

1.    Angka diatas berarti rujukan ayat al Quran, 28:56 berarti surat ke-28 ayat ke-56, mohon dibaca langsung al Qurannya sebagai sumber kebenaran.

2.    Mohon dicek kalau ada kesalahan dalam nomor ayat al Quran nya dan mohon ditambahkan untuk kesempurnaan.

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: