Makanan Setan

Tolong disebarkan kepada teman-teman yang mau 28:56.

Silahkan bergabung dengan mailing groups bahasaquran di groups.yahoo.com.
Beberapa waktu yang lalu saya terlibat dalam pembicaraan yang hangat dengan kedua orang tua saya tentang bagaimana menghindari sifat-sifat yang buruk dalam diri kita. Sebelum membahas segala sifat yang buruk seperti kikir, sombong, tidak suka menolong, dengki, iri dan sebagainya, sangat perlu dibahas mengenai bagaimana sifat-sifat buruk itu dapat timbul dalam diri kita.

Di dalam al Quran, segala sifat yang buruk timbul karena pengaruh utusan Allah yang bernama syaithan. Di dalam bekerja, syaithan adalah utusan Allah yang tunduk kepada sistem dan hukum sunnatullah. Meskipun namanya syaithan, namun dia adalah makhluk Allah yang tunduk kepada aturan main yang telah ditetapkan. Oleh karena itu yang perlu kita pahami adalah bagaimana mengatasi akar permasalahan dalam mengikis sifat buruk dalam diri kita. Segala sifat buruk seperti iri, dengki, sombong dan sebagainya bukan akar permasalahan, itu semua adalah dampak.

Segala aturan permainan yang membahas mengenai akar permasalahan timbulnya sifat buruk ini telah dijelaskan oleh Allah secara gamblang di dalam al Quran, yang kita perlu lakukan adalah mempelajari dan memahaminya agar kita tidak termakan oleh permainan tetapi malahan dapat mengendalikan permainan hidup ini.

Di dalam al Quran, Allah telah menegaskan bahwa barang siapa yang tidak memahami aturan permainan, akan menjadi makanan syaithan dimana orang yang telah terkena akan terlihat dari sifat buruk di dalam dirinya, sebagaimana disebutkan dalam Surat 43:36, Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Quran), kami adakan baginya syaithan (yang menyesatkan) maka syaithan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.

Bagaimana aturan permainan tersebut?

Pertama, manusia diciptakan Allah untuk menyembah-Nya dan tidak untuk mempersekutukan-Nya, sebagaimana disebutkan dalam Surat 51:56, Dan aku tidak menciptkana jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

Kedua, yang disebut menyembah Tuhan adalah segala sesuatu yang mendominasi jiwa kita. Allah menerangkan bahwa yang perlu disembah adalah aturan-Nya, bukan sifat-Nya dan bukan pula wujud-Nya, sebagaimana disebutkan dalam Surat 39:1-2, Kitab (al Quran ini) diturunkan oleh Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (al Quran) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.

Ketiga, intisari dari al Quran adalah jalan yang lurus, yaitu mengembalikan manusia yang tadinya mempersekutukan Allah untuk kemudian kembali menyembah Allah secara murni, sebagaimana dilanjutkan dalam Surat 39:3, Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.Al Quran adalah aturan Allah yang membersihkan kita dari sifat kemusyrikan yang selama ini tidak kita sadari dan melekat tak terlihat.

Keempat, oleh karena itu al Quran disebut sebagai kitab suci al Quran, kebanyakan orang menyangka karena kitabnya sendiri yang suci sehingga memperlakukan al Quran sebagai sebuah benda yang suci. Padahal yang dimaksud al Quran sebagai kitab suci adalah sebuah kita yang mensucikan manusia-manusia yang membaca, mempelajari, memahami, melaksanakan, mensyiarkan dan melestarikannya dari sifat-sifat ketidak sucian yaitu sifat mempersekutukan Tuhan. Marilah kita memperhatikan Surat 56:77-79,Sesungguhnya al Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. Manusia yang memahami arti kesucian dari al Quran akan mengajarkan manusia mengikis sifat kemusyrikan dalam diri masing-masing yang merupakan tujuan diajarkannya al Quran itu sendiri, sebagaimana disebutkan dalam Surat 62:2, Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta kitab seorang Rasul di antara mereka yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.

Kelima, Allah telah membuat suatu aturan permainan yang sangat mendasar, namun sayangnya tidak diketahui kebanyakan manusia, bahwa syaithan hanya diutus Allah kepada manusia-manusia yang mempersekutukan-Nya. Manusia-manusia yang musyrik-lah jatah syaithan, sebagaimana disebutkan dalam Surat 4:116-118, Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang menghendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. Yang mereka sembah selain Allah itu, tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaithan yang durhaka. Yang dilaknati Allah dan syaithan itu mengatakan: “Saya benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba Engkau bahagian yang sudah ditentukan (untuk saya).”

Jika dicermati dengan seksama, jelas terlihat bahwa syaithan pun taat aturan main. Syaithan hanya mengambil jatah bahagian yang telah ditentukan untuknya, yaitu orang-orang yang mempersekutukan Allah. Syaithan akan diutus Allah hanya kepada orang-orang yang mempersekutukan-Nya, sebagaimana disebutkan dalam Surat 19:83,Tidakkah kamu lihat, bahwasanya Kami telah mengutus syaithan-syaithan itu kepada orang-orang kafir untuk menghasung mereka berbuat maksiat dengan sungguh-sungguh?

Jelaslah sudah bahwa mengapa syaithan-syaithan itu diutus kepada saya, anak, istri, keluarga, teman, bahkan masyarakat sebangsa dan senegara adalah bukan karena syaithannya atau Tuhan, tetapi karena perilaku kita sendiri yang sedang mempersekutukan Tuhan, jadi jangan salahkan syaithan atau Tuhan tetapi salahkanlah diri kita sendiri karena tidak sesegera mungkin mengikis sifat musyrik.

Dampak dari diutusnya syaithan tersebut kepada diri kita adalah segala sifat buruk yang ada dan bahkan kental dalam diri saya. Sifat-sifat ini tidak mungkin ada kalau tidak karena pengaruh syaithan. Tidak ada sifat buruk yang herediter atau menurun dari ayah ke anak dan dari anak ke cucu, yang ada sifat buruk ini menurun karena sang ayah, anak dan cucu memenuhi persyaratan yang sama untuk menjadi jatah syaithan, mereka sama-sama sedang mempersekutukan Allah.

Sebagaimana dokter melakukan pengobatan suatu penyakit, karakter atau sifat yang buruk jangan diobati gejala atau symptom-nya, tetapi obatilah akar permasalahannya. Hal mendasar dan pertama kali yang perlu dilakukan dalam mengikis sifat buruk adalah dengan mengikis kemusyrikan dalam diri kita. Inilah ajaran para Nabi dan Rasul kepada anak, kerabat dan kaumnya.

Lebih lanjut, jika kita sudah dan selalu mengikis kemusyrikan atau dalam bahasa al Quran disebut sebagai manusia yang mukhlis, maka saya, pasangan saya, anak saya, keluarga saya bahkan siapa saja sudah bukan menjadi jatah syaithan lagi, tetapi sudah berada dalam perlindungan Allah, sebagaimana disebutkan dalam Surat 15:39-42, Iblis berkata:”Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka. Allah berfirman: “Ini adalah jalan yang lurus, kewajiban Aku-lah (menjaganya). Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikuti kamu, yaitu orang-orang yang sesat.

Perlu saya garis bawahi kembali bahwa yang disebut sebagai jalan yang lurus di dalam al Quran adalah jalan menyembah Allah dan tidak mempersekutukan Dia, inilah manusia-manusia yang dijaga Allah dari godaan syaithan, sebagaimana disebutkan dalam Surat 3:51, Surat 19:36, Surat 43:64, Sesungguhnya Allah Dialah Tuhanku dan Tuhan kamu maka sembahlah Dia, ini adalah jalan yang lurus.

Sebagai penutup, marilah saya dan sahabat-sahabat melakukan introspeksi terhadap diri sendiri dan keluarga, apakah masih ada karakter-karakter atau sifat-sifat buruk akibat pengaruh syaithan dalam diri kita? Jika masih ada bahkan masih kental, maka perlu dilihat kembali pada aspek yang mana dan seberapa parahnya kita sedang mempersekutukan Tuhan kita masing-masing untuk cepat-cepat kita lakukan suatu upaya jihad pensucian jiwa sehingga pada suatu saat nanti kita dapat menemui Tuhan Yang Maha Suci, sebagaimana disebutkan dalam Surat 84:6, Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.

Catatan:
1. Angka diatas berarti rujukan ayat al Quran, 28:56 berarti surat ke-28 ayat ke-56, mohon dibaca langsung al Qurannya sebagai sumber kebenaran.
2. Mohon dicek kalau ada kesalahan dalam nomor ayat al Quran nya dan mohon ditambahkan untuk kesempurnaan.

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: