Anak Yatim

Tolong disebarkan kepada teman-teman yang mau 28:56

Silahkan bergabung dengan mailing groups bahasaquran di groups.yahoo.com.

Melihat fenomena semangat yang tinggi dari sebagian anggota masyarakat untuk peduli terhadap anak yatim merupakan sesuatu yang menggembirakan. Dibangunnya banyak rumah yatim di Jakarta dengan tujuan yang baik yaitu menghubungkan antara para pemberi sedekah dengan anak-anak yang membutuhkan merupakan suatu hal baik yang perlu didukung dan terus dikembangkan.

Marilah kita membahas tentang mengapa Allah memberikan posisi anak yatim ini sedemikian penting di dalam Al Quran.

Pertama, seringkali anak yatim didefinisikan sebagai anak yang tidak memiliki bapak, anak piatu didefinisikan sebagai anak yang tidak memiliki ibu dan anak yatim piatu didefinisikan sebagai anak yang tidak memiliki bapak dan ibu. Di dalam perspektif Al Quran, figur bapak dan figur ibu merupakan sebuah perumpamaan. Bapak adalah perumpamaan sebagai manusia yang dapat dan bernaluri membimbing dan memberikan perlindungan, termasuk perlindungan ekonomi dalam mencukupi kebutuhan sehari-hari. Ibu adalah perumpamaan sebagai manusia yang dapat dan bernaluri memberikan kasih sayang.

Sehingga meskipun memiliki bapak namun jika anak tersebut tidak mendapatkan bimbingan dan perlindungan, terutama dalam hal ekonomi, maka dia dapat disebut sebagai anak yatim. Sebaliknya, meskipun tidak memiliki bapak, namun jika dia mendapatkan bimbingan dan perlindungan, baik dari ibu, kakek-nenek dan kerabat, maka dia tidak dapat disebut sebagai anak yatim.

Lebih lanjut, meskipun memiliki ibu namun jika anak tersebut tidak mendapatkan kasih sayang, maka dia dapat disebut sebagai anak piatu. Sebaliknya, meskipun tidak memiliki ibu, namun jika dia mendapatkan kasih sayang, baik dari ayah, kakek-nenek dan kerabat, maka dia tidak dapat disebut sebagai anak piatu.

Marilah kita perhatikan Surat 2:233, Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Karena yatim itu bukan berarti tidak memiliki ayah, tetapi orang yang tidak memiliki bimbingan dan perlindungan, terutama dalam hal ekonomi maka istilah yatim ini di dalam al Quran juga berlaku bagi wanita dewasa. Inilah terutama yang menjadi motivasi Nabi Muhammad untuk mengawini istri-istrinya, yaitu menolong wanita-wanita yang miskin dan membutuhkan perlindungan ekonomi, apalagi masih memiliki anak, sebagaimana disebutkan dalam Surat 4:127, Dan mereka minta fatwa kepadamu tentang para wanita. Katakanlah: “Allah memberi fatwa kepadamu tentang mereka, dan apa yang dibacakan kepadamu dalam Al Quran (juga memfatwakan) tentang para wanita yatim yang kamu tidak memberikan kepada mereka apa  yang ditetapkan untuk mereka, sedang kamu ingin mengawini mereka dan tentang anak-anak yang masih dipandang lemah. Dan (Allah menyuruh kamu) supaya kamu mengurus anak-anak yatim secara adil. Dan kebajikan apa saja yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahuinya. Meskipun perlu dicatat, bahwa menolong wanita yatim apalagi yang memiliki anak dengan cara mengawini ini bukanlah merupakan suatu cara yang berkeadilan kepada istri yang pertama, sebagaimana disebutkan dalam

Surat 4:3, Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.

Surat 4:129, Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Kedua, anak yatim adalah semua anak yang memerlukan perlindungan ekonomi, dimana ketika Allah menitipkan miliknya di dalam harta kita, maka sebagian dari harta tersebut sebenarnya tidak dapat kita pergunakan karena merupakan milik orang lain, sebagaimana disebutkan dalam Surat 51:19, Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.

Sebagian dari harta milik Allah yang dititipkan-Nya kepada kita merupakan hak orang miskin, baik yang meminta maupun tidak meminta. Diantara orang miskin ini ada orang yang disebut sebagai fakir miskin, yaitu orang yang tidak memiliki kemampuan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri karena orang dimana mereka bergantung kepadanya juga tidak memiliki kemampuan. Prioritas terpenting dari orang fakir miskin ini adalah anak yatim.

Oleh karena itu, Allah memerintahkan kita untuk tidak mencampur antara hak milik anak yatim dengan harta yang dapat kita pergunakan, sebagaimana disebutkan dalam Surat 4:2, Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu, adalah dosa yang besar.

Di dalam ayat diatas, kata yang dipergunakan adalah “berikanlah” bukan “berilah”. Berikanlah berarti bahwa kita sekedar melaksanakan hak mereka yang bukan memberi. Sehingga bagi manusia yang tidak melaknakan hak orang lain ini termasuk ke dalam golongan orang yang khianat akan amanat dan diancam akan diazab Allah, sebagaimana disebutkan dalam Surat 4:10, Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).

Bahkan Allah memasukkan orang yang tidak melaksanakan hak anak yatim ini sebagai pendusta-pendusta aturan Allah (agama) dan lalai dalam shalatnya, sebagaimana disebutkan dalam Surat 107:1-4, Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya dan enggan (menolong dengan) barang berguna.

Jika definisi anak yatim ini adalah anak yang tidak mendapatkan perlindungan ekonomi, maka sebenarnya tidak ada batasan usia dan anak yatim bukan berarti adalah anak-anak dari bayi hingga remaja, tetapi kakek-nenek yang tidak mampu berusaha, ibu-ibu hamil miskin yang tidak mampu membeli susu, orang cacat miskin yang tidak mampu bekerja, mereka ini semua adalah anak-anak yatim dimana Allah menitipkan harta mereka di harta kita.

Sekali lagi, anak yatim bukan dilihat dari usianya, namun dilihat dari apakah mereka memiliki kemampuan yang cukup dalam memenuhi kebutuhan fisik minimumnya.

Anak yatim juga merupakan anak yang tidak mendapatkan bimbingan, terutama dalam hal aturan Allah, sehingga anak-anak yatim dianggap sebagai anak yang lemah, sebagaimana disebutkan dalam Surat 4:9, Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.

Lemah di dalam ayat diatas bukan hanya lemah fisik karena kurang makan, tetapi juga lemah iman dan akhlak, sehingga merupakan kewajiban kita agar selain memberikan makanan fisik juga memberikan makanan non-fisik (al Maidah) dalam bentuk bimbingan, sebagaimana disebutkan dalam Surat 76:8-9, Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Miskin di dalam ayat ini bukan hanya berarti kekurangan ekonomi tetapi juga kekurangan bimbingan dan hidayah.

Ketiga, sebagai manusia yang bercita-cita menjadi khalifah Allah atau dalam bahasa Arabnya adalah wakil atau pengganti Allah di muka bumi, maka pola pikir kita haruslah menggunakan perspektif Allah di dalam memberikan sebuah aturan sehingga kita dapat berperilaku sesuai yang diharapkan sebagai seorang wakil.

Dilihat dari perspektif Allah, maka anak-anak yatim yang tidak memiliki perlindungan ekonomi dan bimbingan ini akan berpotensi merusak sistem dan keberlangsungan hidup manusia jika tidak ditangani secara baik. Banyak dari teman-teman yang mengurus anak-anak yatim mengeluh, mereka cenderung nakal dan berperilaku menyimpang. Potensi merusak ini sudah diketahui Allah sebagaimana disebutkan dalam Surat 2:220, tentang dunia dan akhirat. Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakalah: “Mengurus urusan mereka secara patut adalah baik, dan jika kamu bergaul dengan mereka, maka mereka adalah saudaramu; dan Allah mengetahui siapa yang membuat kerusakan dari yang mengadakan perbaikan. Dan jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia dapat mendatangkan kesulitan kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Sehingga mengurus anak yatim, lagi-lagi tidak tergantung umurnya, merupakan upaya perbaikan agar akhlak dan keberlangsungan hidup manusia, terutama jaman anak cucu kita nanti akan membaik. Mengurus anak yatim ini pada hakikatnya adalah mengadakan perbaikan dan mencegah kekejian dan kemungkaran di saat ini dan saat yang mendatang akibat perilaku manusia yang kurang perlindungan ekonomi, kurang bimbingan dan kurang kasih sayang.

Secara statistik ekonomi saja kita melihat korelasi positif antara krisis ekonomi dan meningkatnya kriminalitas di suatu masyarakat, bayangkan yang terjadi jika anak-anak yatim ini tidak kita urus dengan baik kemudian menjadi calon-calon kriminal di masa depan. Tunggulah terjadinya kerusakan yang lebih besar. Jangan biarkan generasi kita ke depan dirusak oleh anak-anak yatim karena kita tidak mengurus mereka dengan baik.

Marilah mengambil peran sebagai khalifah Allah sebagaimana disebutkan dalam Surat Adh Dhuha, Demi waktu matahari sepenggalahan naik, dan demi malam apabila telah sunyi (gelap), Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu. Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan). Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu , lalu (hati) kamu menjadi puas. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya. Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.

Catatan:

1.    Angka diatas berarti rujukan ayat al Quran, 28:56 berarti surat ke-28 ayat ke-56, mohon dibaca langsung al Qurannya sebagai sumber kebenaran.

2.    Mohon dicek kalau ada kesalahan dalam nomor ayat al Quran nya dan mohon ditambahkan untuk kesempurnaan.

, ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: