Sabar

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar istilah “Kesabaranku sudah habis”,  “kesabaranku ada batasnya”. Seringkali kita bertanya bagaimana caranya bersabar menghadapi sebuah persoalan. Disisi lain kita juga kerap merasa ada kalanya suatu permasalahan mustahil dihadapi dengan sabar. Hal ini diakui oleh Allah sebagaimana dalam QS.17:11, QS.21:37, QS.2:45 sebagai berikut.

QS.17:11, “Dan manusia berdoa untuk kejahatan sebagaimana ia berdoa untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.”

QS.21:37, “Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. Kelak akan aku perlihatkan kepadamu tanda-tanda (azab)-Ku. Maka janganlah kamu minta kepada-Ku mendatangkannya dengan segera.”

QS.2:45, ” Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.”

Seorang teman bercerita tentang kesabaran menghadapi tingkah laku anaknya yang masih balita. Suatu hari ia kebagian tugas menemani anaknya seharian di rumah lantaran sedang tidak ada baby sitter. Sebagai seorang ayah, dia bisa merasakan betapa tidak mudah membujuk anaknya untuk mandi, makan, berpakaian. Disitu dia merasakan pula bahwa menerapkan sabar itu tidak semudah yang dipelajari. Terlebih lagi dia jadi berpikir pantas saja banyak terjadi tindak kriminal dari baby sitter terhadap anak yang diasuhnya. Sedangkan terhadap orang tuanya saja, seorang anak tidak selalu menurut, apatah lagi terhadap orang lain yang notabene berpendidikan rendah.

Di tempat lain, siang ini saya mengunjungi seorang teman (juga laki-laki) yang mempunyai anak hiperaktif. Berbeda dengan cerita diatas, teman yang satu ini sangat santai menghadapi tingkah laku anaknya. Tidak ada nada suara tinggi ketika anaknya membanting pintu, memecahkan balon, melompat-lompat di kursi bahkan berkata-kata kotor yang sebenarnya diucapkan anak tanpa dia paham artinya. Dia melayani anaknya bermain, mencarikan mainan anaknya yang tidak ketemu, membantu anaknya membuat kado-kadoan.

Berbicara tentang kesabaran, sabar berarti tidak mudah kecewa dan tidak mudah menyerah saat menghadapi situasi yang tidak sesuai dengan keinginan. Orang yang tidak sabar terlihat dari caranya menyikapi suatu hal. Mudah marah, mudah kecewa, putus asa, berprasangka buruk kerap kali melanda saat keinginan kita tidak terwujud. Semua sifat buruk di atas tentu saja bukan sifat asli manusia. Tidak lain sikap-sikap tersebut timbul sebagai gejala karena penyakit yang disebut syaitan. (Cek tulisan Pak Sonnie: Makanan Syaithan).

Hal mendasar yang harus kita ketahui bahwa Allah menganugerahi kita satu fasilitas dan memberikan kebebasan 100% untuk menggunakannya. Fasilitas itu ialah nafs/keinginan

QS.91:7-10, “dan jiwa (nafs) serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”

Berikutnya kita juga harus tahu bahwa musuh kita yang bernama syaitan mengetahui hal itu dan menjadikannya sebagai sasaran empuk untuk memasukkan godaan.

QS.22:52, “Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, setan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh setan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

Sehingga syaitan itu menjadi penyakit dalam diri kita yang jika tidak diobati akan senantiasa bertambah buruk sampai-sampai jiwa kita akan tertutup saking kotornya.

QS.22:53, “agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh setan itu, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar hatinya.  Dan sesungguhnya orang-orang yang lalim itu, benar-benar dalam permusuhan yang sangat.”

QS.2:10, “Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.”

QS.9:125, “Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir.”

Namun demikian, Allah yang maha pengasih dan penyayang telah memberitahukan cara untuk mengobati penyakit tersebut.

QS.10:57, “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.”

Al-Quran merupakan sumber pengetahuan, sedangkan pengetahuan merupakan satu-satunya cara untuk mengendalikan keinginan. Dahulu kita anggap uang merupakan hal paling berharga, sehingga keinginan kita tercurah untuk mendapatkan uang dan kekayaan agar dapat memenuhi berbagai kebutuhan. Segala cara ditempuh untuk mendapatkan uang. Setelah kita tahu bahwa Allah adalah tujuan tertinggi, kemudian keinginan utama kita bergeser kepada berjuang di jalan Allah. Uang tidak lagi dikumpulkan untuk berbangga-bangga, tetapi dikelola untuk kebutuhan sesama manusia. Demikian pula saat kita belum memahami peran orang tua terhadap anak, kita sering memaksakan keinginan kepada anak dan akan marah serta kecewa jika keinginan itu tidak terlaksana. Namun setelah kita faham bahwa anak bukanlah milik orang tua, kita jadi lebih pandai menyikapinya.

QS.18:68, “Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?”

Bagaimana kita bisa sabar menghadapi anak jika kita tidak memahami peran orang tua terhadap anak. Bagaimana kita dapat sabar ketika ditimpa musibah jika kita tidak benar-benar memahami makna dan fungsi dari musibah.

Demikianlah pentingnya ilmu pengetahuan, pentingnya terus belajar dan menggali Al-Quran sebagai sumber pengetahuan dan pedoman hidup.

QS.58:11, “Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majelis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

QS.9:122, “Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”

, ,

  1. #1 by bejono777 on July 24, 2012 - 11:18 pm

    kesabaran adalah sejata untuk menolak ajakan syitan yang terkutuk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: