Anak Angkat

ImageTolong disebarkan kepada teman-teman yang mau 28:56.

Silahkan bergabung dengan mailing groups bahasaquran di groups.yahoo.com.

Kalau dilihat silsilah keluarga, salah seorang kakek buyut saya di Solo merupakan seorang kyai yang banyak orang menganggapnya memiliki kelebihan-kelebihan tertentu, meskipun dirinya sendiri tidak ingin disebut kyai dan tidak memiliki pesantren atau murid-murid.

Pada suatu hari, ibu saya yang masih kecil diajak bersilaturahmi oleh kakak ibu saya ke rumah kakeknya ini. Mengingat kakak ibu saya ini sudah menikah cukup lama dan belum dikaruniai anak, maksud kedatangan beliau ke rumah kakeknya adalah untuk minta didoakan agar segera mendapatkan anak. Namun uniknya, begitu pintu halaman dibuka oleh kakek buyut ini, sebelum maksud kedatangan ibu saya dan kakaknya diucapkan, kakek buyut ini sudah langsung mengucapkan sesuatu dalam bahasa Jawa, “Nduk, ojo khawatir ora nduwe anak, sak jane anak yatim sak ngalam dunyo iku anakmu sing sejati, mongko openono koyo anakmu dewe”, atau dalam bahasa Indonesia artinya, “Anak perempuanku, jangan khawatir tidak mempunyai anak, sebenarnya anak yatim sedunia ini adalah anakmu yang sejati, maka perliharalah mereka seperti anak kandungmu sendiri”.

Oleh karena itu, ketika minggu lalu ada seorang sahabat saya yang menanyakan, “Apakah boleh mengangkat anak dalam Islam?” Pertanyaan ini beliau ajukan karena ada seorang ustad yang mengatakan bahwa mengangkat anak itu haram dalam Islam.

Di dalam al Quran, Allah memberikan pengakuan terhadap anak angkat, yang berarti bahwa mengangkat anak orang lain dan memeliharanya seperti halnya anak kandung sendiri diperbolehkan, sebagaimana disebutkan dalam Surat 33:4-5, Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya; dan Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zhihar itu sebagai ibumu, dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataan di mulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar). Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka , maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Di dalam al Quran, ibu dari Nabi Musa juga diilhamkan Allah untuk melarungkan anaknya di Sungai Nil karena hasil munajatnya kepada Allah untuk tidak khawatir dan bersedih hati atas nasib anaknya, karena pada akhirnya Nabi Musa kecil akan diangkat anak oleh Firaun, sebagaimana disebutkan dalam Surat 28:7-9, Dan kami ilhamkan kepada Ibu Musa,”Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul. Maka dipungutlah ia oleh keluarga Firaun yang akibatnya dia menjadikan musuh dan kesedihan bagi meraka. Sesungguhnya Firaun dan Hama beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah. Dan berkatalah isteri Firaun:”(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat bagi kita atau kita ambil ia menjadi anak”, sedang mereka tiada menyadarinya.

Memperhatikan cerita tentang diangkatnya Nabi Musa oleh Firaun sebagai kehendak Allah, dapatlah diambil kesimpulan bahwa mengangkat anak diperbolehkan dalam al Quran, bahkan sangat dianjurkan karena mengurus anak yatim yang lemah tak berdaya adalah cerminan ketakwaan kepada Allah, sebagaimana disebutkan dalam Surat 4:9, Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) meraka. Oleh sebab itu hendaklah mereka  bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.

Meskipun diperbolehkan bahkan dianjurkan namun dengan adilnya Allah melalui al Quran tetap mempertahankan silsilah seseorang dengan tetap memerintahkan orang tua angkat untuk memanggil dan memberitahukan kepada anak angkat tentang siapa ayah dan ibu kandungnya.

Menjadi sebuah pertanyaan, jika pasangan suami istri sudah mengangkat seorang anak dan anak tersebut dipelihara sebagai anak kandungnya, mengapa perlu tetap diberitahukan kepada anak tersebut siapa ayah dan ibu yang sebenarnya?

Di dalam hal ini, Allah juga bersikap adil kepada ayah dan ibu kandung dari anak angkat tersebut. Anak angkat memiliki kewajiban pula untuk berbuat baik kepada ayah dan ibu kandungnya meskipun mereka tidak sanggup untuk memeliharanya.

Seringkali, peristiwa ketika ayah dan ibu angkat memberitahukan tentang keberadaan ayah dan ibu kandung si anak angkat merupakan peristiwa yang berpotensi menimbulkan keguncangan jiwa bagi anak angkat dan juga seluruh anggota keluarga yang lain, terutama jika terdapat anak kandung di dalam keluarga tersebut. Ayah dan ibu angkat perlu bijaksana dalam melakukan pengungkapan ini dengan menekankan bahwa kedudukan manusia di muka bumi ini sama dan pada dasarnya Allah melihat keturunan tidak berdasarkan hubungan darah, tetapi berdasarkan jalur ketakwaan yang terikat dengan perbuatan yang sama, sebagaimana disebutkan dalam Surat 52:21, Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.

Secara bijaksana orang tua angkat juga disarankan untuk memperlakukan anak kandung dan anak angkat ini secara setara namun sekali lagi dengan tetap tidak menghilangkan silsilah keturunan dari anak angkat tersebut. Tentu saja hal ini tidak mudah karena merupakan perubahan mindset bagi orang tua angkat dan seluruh anggota keluarga.

Pertanyaan berikutnya, lalu mengapa di dalam al Quran, posisi anak angkat diperlakukan berbeda, misalnya dalam hal warisan sebagaimana disebutkan dalam Surat 4:11-12?

Pertama, sepanjang pengetahuan saya, di dalam ayat tersebut tidak pernah disebutkan bahwa Allah membedakan antara anak kandung dan anak angkat, karena Allah hanya menyebut anak. Banyak orang yang menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan anak adalah anak kandung, namun sebenarnya tidak pernah disebutkan secara jelas.

Kedua, harap dibaca kembali modul mengenai wasiat dan warisan, dimana warisan adalah hukum Allah atas pembagian harta dari orang yang wafat yang belum sempat dibagi kepada para ahli warisnya, dimana posisi wanita setengah dari posisi pria, sementara wasiat adalah hukum Allah atas pembagian harta dari orang yang masih hidup, dimana prinsipnya adalah keadilan, dimana selayaknya anak yang berkekurangan mendapatkan bagian yang lebih banyak daripada yang berkecukupan dengan dasar musyawarah secara ma’ruf tanpa memperhatikan gendernya. Jika orang tua khawatir akan keadilan bagi anak kandung dan anak angkatnya atas harta yang akan ditinggalkannya ketika dia wafat, maka sebaiknya harta dibagi dengan berdasarkan wasiat dan bukan warisan, sehingga tidak meninggalkan ketidak adilan bagi anak angkat namun juga tidak menimbulkan kecemburuan bagi anak kandung.

Catatan:

  1. Angka diatas berarti rujukan ayat al Quran, 28:56 berarti surat ke-28 ayat ke-56, mohon dibaca langsung al Qurannya sebagai sumber kebenaran.
  2. Mohon dicek kalau ada kesalahan dalam nomor ayat al Quran nya dan mohon ditambahkan untuk kesempurnaan.
  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: