Pengetahuan Tentang Sabar (Bag. Pertama)

Tolong disebarkan kepada teman-teman yang mau 28:56

Silahkan bergabung dengan mailing groups bahasaquran di groups.yahoo.com.

Sabar sebagai sebuah konsep yang abstrak seringkali diartikan berbeda-beda. Orang Jawa seringkali mengartikan sabar sebagai nerimo ing pandum atau menerima apapun yang ditakdirkan sebagai suatu ketetapan dari Yang Maha Kuasa.

Ada pula yang mengartikan sabar sebagai sebuah sikap hidup yang pasrah kepada kehendak Tuhan. Kebanyakan orang juga tidak dapat membedakan antara sabar dengan ikhlas. Sabar adalah suatu konsep abstrak atau dalam bahasa Arab disebut ghaib karena belum diketahui maknanya dan sulit untuk menjelaskannya dan ketika sabar disandingkan dengan ikhlas sebagai sebuah konsep yang juga abstrak dan ditanya apa perbedaannya, jawaban atas keduanya seringkali menjadi tidak jelas.

Di dalam al Quran, Allah memerintahkan saya untuk memahami segala konsep dan petunjuk Allah dan tidak bersikap ikut-ikutan tanpa mengetahui maknanya, sebagaimana disebutkan dalam Surat 17:36, Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

Di dalam memahami al Quran, setiap ayat perlu diurai atau dijabarkan karena al Quran dijelaskan dalam bahasa Arab atau bahasa yang harus di ‘Irab atau diurai agar kita memahaminya, sebagaimana disebutkan dalam Surat 12:2,Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.

Sabar sebagai suatu konsep yang penting yang membawa kepada keselamatan hidup perlu dipahami dan dijelaskan sehingga saya mudah untuk melaksanakannya. Tanpa pengetahuan, maka kesabaran yang kita lakukan adalah bukan kesabaran yang diridhoi Allah, sebagaimana disebutkan dalam Surat 18:67-68, Dia menjawab: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama aku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?”

Sebagaimana al Quran menjelaskan segala sesuatu dengan perumpamaan agar kita selalu ingat dan gampang melaksanakannya, maka pada kesempatan ini saya hendak menjelaskan konsep sabar dengan suatu perumpamaan yang mudah diingat.

Jika saya sekarang berada di kota Jakarta dan hendak pergi ke Bandung, maka Jakarta adalah titik awal berangkat dan Bandung adalah tujuan perjalanan. Di Bandung, saya berencana hendak bertemu dengan seorang teman yang tinggal di sana. Teman saya ini berjanji untuk memberi saya uang banyak sesampainya saya di Bandung. Saya memilih untuk menggunakan bis mini travel. Ternyata karena musim mudik sudah usai, hanya ada lima orang di dalam kendaraan tersebut yaitu satu supir, satu kenek dan tiga orang penumpang. Di dalam perjalanan, kami menemui banyak gangguan dan hambatan. Mulai dari jalanan macet, ban bocor hingga motor yang bergesekan dengan kendaraan kami. Perjalanan saya memakan waktu tiga jam dan ketika hari sudah maghrib, saya sampai di rumah teman saya dan mendapatkan uang yang dijanjikan.

Perumpamaan diatas adalah perumpamaan perjalanan hidup atau proses manusia yang diridhoi Allah dalam meraih tujuannya. Marilah kita uraikan satu per satu perumpamaan tersebut.

Jakarta sebagai titik awal perjalanan itulah hidup saya saat ini atau juga berarti niat saya ketika hendak mencapai tujuan.

Bandung sebagai tujuan perjalanan itulah apa yang disebut sebagai ridho Allah. Jika saya hendak mendapatkan ridho Allah, maka hendaknya saya meluruskan tujuan dari sebuah proses atau hidup secara keseluruhan hanya untuk menuju dan mencari ridho Allah, sebagaimana ikrar yang terus saya kumandangkan ketika sembahyang yang disebutkan dalam Surat 6:162-163, Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).”

Jika saya menghendaki segala proses dalam hidup termasuk keseluruhan hidup saya diridhoi Allah, maka saya harus terlebih dahulu menetapkan tujuan hidup saya atau niat untuk melakukan segala proses hidup untuk semata-mata hanya mencari keridhoan Allah, sebagaimana disebutkan dalam Surat 4:125, Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya. Kata “kepada Allah” di dalam ayat ini di dalam bahasa Arab disebut sebagai wajhahu atau wajah-Nya.

Wajah Allah bukan berarti muka Allah, tetapi berarti ridho Allah, sebagaimana disebutkan dalam Surat 92:17-21, Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan (wajah) Tuhannya yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.

Setiap hari saya mengucapkan “inni wajahtu wajhiya” di dalam bacaan sembahyang, sebagaimana disebutkan dalam Surat 6:79, Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.

Arti daripada wajahtu wajhiya adalah saya ridho untuk mengharapkan ridho Allah karena wajah berarti ridho. Jadi manusia yang hendak mendapatkan ridho Allah, harus terlebih dahulu ridho kepada Allah, karena ridho adalah proses timbal balik yang diawali oleh saya terlebih dahulu, sebagaimana disebutkan dalam Surat 98:8, Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.

Sangat disayangkan, ternyata hanya sedikit manusia yang tujuan perjalanannya benar dengan semata-mata mencari keridhoan Allah. Bahkan dalam al Quran Allah meramalkan bahwa manusia yang selamat mencapai tujuan di “Bandung” hanya teramat sedikit, sebagaimana disebutkan dalam Surat 2:207, Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.Sebagian besar manusia adalah yang tujuannya tidak ke “Bandung” atau mencari ridho Allah, atau jika sudah benar tujuannya ke “Bandung”, akhirnya tidak sampai di “Bandung”.

Dalam cerita perumpamaan ini,  saya menggambarkan bis mini travel sebagai sabar. Sabar adalah kendaraan manusia yang diridhoi Allah dalam mencapai tujuan. Tidak ada kendaraan lain selain sabar yang dapat dinaiki manusia yang ingin mendapatkan ridho Allah karena Allah hanya beserta orang-orang yang menaiki kendaraan sabar.

Sabar adalah satu-satunya kendaraan dimana Allah beserta saya, sebagaimana disebutkan dalam Surat 2:153, Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

Sabar adalah kendaraan yang disukai Allah untuk saya naiki, sebagaimana disebutkan dalam Surat 3:146, Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.

Sabar adalah kendaraan untuk mewujudkan dan menunggu segala sesuatu terjadi sesuai dengan waktu dan kehendak Allah.

Jika saya menaiki kendaraan sabar, maka saya tidak akan meminta Tuhan untuk menurunkan keputusan sebelum waktunya, sebagaimana disebutkan dalam Surat 16:1, Telah pasti datangnya ketetapan Allah maka janganlah kamu meminta agar disegerakan (datang) nya. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan.

Jika saya menaiki kendaraan sabar, maka saya menyadari sepenuhnya bahwa memutuskan dan vonis hanyalah merupakan hak Allah. Seringkali saya melihat orang yang dengan mudahnya memvonis kafir dan musyrik kepada orang lain, padahal Allah Yang Maha Sabar saja menunggu hari akhir, sebagaimana disebutkan dalam Surat 22:17, Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shaabi-iin orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi dan orang-orang musyrik, Allah akan memberi keputusan di antara mereka pada hari kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu.

Jika saya menaiki kendaraan sabar, maka saya memahami bahwa membalas sesuai dengan amal perbuatan adalah hak Allah Yang Maha Sabar di hari pembalasan. Jika saya membalas kejahatan dengan kejahatan, maka kerugian adalah pada diri saya sendiri nanti di hari pembalasan.  Berada di dalam kendaraan sabar, hak yang diberikan Allah kepada saya membalas kejahatan dengan kebaikan sebagaimana disebutkan dalam Surat 5:45, Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka luka (pun) ada kisasnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak kisas) nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.

Ajaran Allah di dalam kendaraan sabar tidak hanya menolak perbuatan jahat dengan perbuatan yang lebih baik, namun juga menyadari bahwa orang tersebut melakukannya karena godaan syaithan dan jika saya ikut membalasnya dengan kejahatan, maka syaithan di dalam diri orang tersebut akan masuk dan bersemayam dalam diri saya. Maka atas perbuatan jahat seseorang, kita perlu menolaknya dengan perbuatan baik dan memohon perlindungan atas dirinya dan diriku, sebagaimana disebutkan dalam Surat 23:96-98, Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan. Dan katakanlah: “Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syaitan. Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku.”

Umumnya, jika perbuatan jahat seseorang saya tolak dengan tidak melakukan perbuatan jahat meskipun saya memiliki hak untuk itu, malahan saya menolaknya dengan perbuatan baik disertai dengan doa memohon perlindungan dari syaithan, maka hubungan orang tersebut dan saya akan membaik dan menjadi sabahat yang setia, sebagaimana disebutkan dalam Surat 41:34, Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.

Menaiki kendaraan bis mini travel menuju ke Bandung, itulah perumpamaan dari menaiki kendaraan sabar dengan tujuan mengharapkan ridho Allah, sebagaimana disebutkan dalam Surat 13:22, Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik),

(bersambung)

Catatan:

1.    Angka diatas berarti rujukan ayat al Quran, 28:56 berarti surat ke-28 ayat ke-56, mohon dibaca langsung al Qurannya sebagai sumber kebenaran.

2.    Mohon dicek kalau ada kesalahan dalam nomor ayat al Quran nya dan mohon ditambahkan untuk kesempurnaan.

, , ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: