Mas Kawin

Tolong disebarkan kepada teman-teman yang mau 28:56

Silahkan bergabung dengan mailing groups bahasaquran di groups.yahoo.com.

Pada akhir pekan ini, saya sekeluarga menghadiri acara pernikahan saudara sepupu istri saya. Upacara berlangsung dengan lancar dan kami bersyukur tidak ada hambatan dalam pelaksanaannya. Sebagaimana sebuah peristiwa dalam hidup dimana kita harus mengambil pelajaran, ternyata terdapat beberapa pelajaran yang dapat diambil dari prosesi pernikahan tersebut, meskipun ini bukan pertama kalinya saya mendatangi acara semacam ini dan prosesi yang sama pun pernah saya alami ketika menikah beberapa tahun yang lalu.

Pelajaran tersebut adalah pelajaran yang saya dapatkan, yang mungkin berbeda dengan orang lain dalam memaknainya. Dalam kesempatan ini saya hendak membahasnya satu per satu.

Pertama adalah tentang mas kawin atau mahar. Di dalam pernikahan tersebut, dikatakan bahwa mas kawin adalah emas seberat 20 gram dan seperangkat alat shalat.  Saya ingin membahas makna dari mas kawin. Seringkali kita mengartikan mas kawin adalah sejumlah emas atau uang yang diberikan dari pihak pria kepada pihak wanita ketika menikah. Di dalam masyarakat Minangkabau, setahu saya sebaliknya, mas kawin diberikan dari pihak wanita kepada pihak pria.

Pada hakikatnya mas kawin bukanlah sejumlah uang atau emas yang diberikan kepada pihak pria kepada pihak wanita pada saat pernikahan, tetapi mahar atau mas kawin adalah janji seorang pria untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarga atau istrinya selama umur pernikahan. Mas kawin atau mahar adalah janji seumur hidup selama usia pernikahan bukan hanya pada saat menikah. Marilah kita perhatikan Surat 4:4, Berikanlah mas kawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.

Mas kawin atau mahar pada pada hakikatnya adalah kewajiban pria untuk mencukupi kebutuhan ekonomi rumah tangga atau memberikan nafkah kepada anak dan istri dengan prinsip penuh kerelaan, tidak ada unsur paksaan, sesuai dengan kemampuan masing-masing, sebagaimana disebutkan dalam Surat 2:233,Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kami memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Prinsip pertama dalam hal mas kawin atau mahar adalah nafkah berupa kebutuhan ekonomi yang diberikan oleh seorang suami kepada seorang istri dengan azas suka rela, ma’ruf (bijaksana) dan saling bermusyawarah dengan kesanggupan masing-masing, tanpa adanya unsur paksaan dan tidak saling menyusahkan.  Namun jika seorang istri hendak ikut memikul tanggung jawab mencari nafkah atau bahkan bertindak sebagai tulang punggung ekonomi keluarga, maka asalkan berdasarkan prinsip tersebut diatas, maka suami selayaknya menerimanya dengan penuh kerelaan.

Prinsip kedua dalam hal mas kawin atau mahar adalah mahar tersebut tidak untuk “membeli” seorang istri. Membeli disini dapat diartikan secara luas di dalam al Quran dengan kata berzina. Bagaimana di dalam sebuah perkawinan yang sah, seorang suami dapat berzina dengan seorang istri?

Berzina memiliki makna yang lebih luas dari sekedar main serong dengan istri atau suami orang. Zina memiliki makna merugikan hak orang lain. Berzina dengan istri berarti merugikan hak seorang istri. Dengan memberikan nafkah atau mahar selama usia perkawinan, bukan berarti seorang suami memiliki hak untuk merugikan hak seorang istri atau dalam bahasaquran disebut sebagai menzinahi seorang istri, apalagi menjadikannya gundik-gundik atau “budak-budak” baru yang harus selalu menuruti keinginan suami, sebagaimana disebutkan dalam Surat 5:5, Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan orang-orang yang diberi al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barangsiapa yang kafir sesudah beriman maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat termasuk orang-orang yang merugi.

Lebih lanjut, larangan untuk melakukan zina ini berlaku kepada semua manusia, untuk tidak dirugikan haknya, sebagaimana disebutkan dalam Surat 17:32, Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.

Memberikan mahar atau mas kawin bukanlah jalan untuk mengatur-atur kehidupan seseorang pasangan, apalagi sampai merugikan haknya sebagai makhluk yang harus tunduk patuh kepada aturan Allah, sehingga baik sebelum maupun setelah akad nikah, perkawinan tidak menciptakan tuhan-tuhan baru yang disembah selain Allah, sebagaimana disebutkan dalam Surat 39:29, Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu seru selain Allah itu adalah makhluk (yang lemah) yang serupa dengan kamu. Maka serulah berhala-berhala itu lalu biarkanlah mereka memperkenankan permintaanmu, jika kamu memang orang-orang yang benar.

Kedua, pada prinsipnya manusia akan mendapatkan jodoh yang sesuai dengan dirinya, jodoh dengan jenis yang sama dengan dirinya, sebagaimana disebutkan dalam Surat 30:21, Dan diantara tanda-tanda kekuasan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.

Karena Allah memberikan jodoh dari jenis saya sendiri sehingga timbul kecocokan, maka kalau saya ingin mendapatkan jodoh orang yang baik, maka saya harus terlebih dahulu menjadi orang yang baik. Kalau kemudian saya mendapatkan jodoh orang yang buruk dan suka merugikan hak orang lain atau berzina termasuk kepada istri atau suaminya, maka hal yang terlebih dahulu saya lakukan adalah introspeksi diri, jangan-jangan saya mendapatkan jodoh semacam itu karena saya sendiri bukanlah orang yang baik.

Marilah kita perhatikan Surat 24:3, Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin.

Lebih lanjut, marilah kita perhatikan Surat 24:26, Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk aki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia.

Pada prinsipnya, jika ingin mendapatkan jodoh yang baik, maka perbaikilah diri kita terlebih dahulu, insya Allah virus baik ini akan menyebar diantara pasangan dan keluarga masing-masing. Lagi-lagi, ini tidak hanya berlaku pada saat hari akad nikah, tetapi selama usia pernikahan.

Ketiga, Allah memperbolehkan kita untuk menikah dengan orang-orang yang diberi al Kitab sebelum kita sebagaimana disebutkan dalam Surat 5:5, namun Allah melarang kita orang menikahi orang-orang musyrik sebelum mereka beriman, sebagaimana disebutkan dalam Surat 2:221, Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan seizin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.

Calon pasangan yang musyrik itu haram untuk dinikahi dan dijadikan belahan jiwa (Surat 33:4), karena sedikit banyak mereka akan mempengaruhi kita dan mengajak kepada kemusyrikan.  Sebagaimana telah dibahas sebelumnya, bahwa syaithan hanya dapat menguasai orang-orang yag musyrik, sebagaimana disebutkan dalam Surat 4:116-118, sehingga terdapat potensi yang besar di dalam keluarga kita bahwa keluarga kita akan menjadi makanan yang empuk bagi syaithan jika kita berjodoh dengan pasangan yang musyrik. Ciri-ciri ketika salah seorang atau kedua suami-istri, yang pada suatu saat akan berimbas kepada anak-anak, bahwa mereka memiliki sifat musyrik adalah ketika ada sifat-sifat syaithan dalam keluarga tersebut. Salah satu sifatnya misalnya adalah perselisihan dan percekcokan dalam rumah tangga dan tidak berkata-kata dengan baik dan halus, sebagaimana disebutkan dalam Surat 17:53, Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaithan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaithan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.

Perselisihan di dalam keluarga ini adalah sarana syaithan untuk mengajak anggota-anggota keluarganya ke neraka sebagaimana disebutkan dalam Surat 2:221. Janganlah dibayangkan neraka itu hanya nanti setelah mati, neraka itu adalah sekarang yaitu kehidupan dalam keluarga yang bagaikan berada di dalam neraka yang penuh dengan perselisihan dan percekcokan, jauh dari bayangan “rumahku surgaku” (baiti jannati).

Marilah kita perhatikan Surat 2:102, Dan mereka mengikuti apa yang dibacakan oleh syaithan-syaithan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada kedua malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan:”Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebablah itu janganlah kamu kafir”. Maka mereka mempalajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Da mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudarat kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukatnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahuinya.

Ketika muncul ciri-ciri sifat syaithan dalam keluarga termasuk perselisihan dan percekcokan, maka yang harus di diagnosa dengan tepat bukanlah gejala penyakitnya, tetapi akar penyakitnya yaitu adanya sifat musyrik di antara atau seluruh anggota keluarga sehingga rasa kasih sayang dan permusyawaratan tidak muncul. Sifat musyrik inilah yang perlu dikikis sehingga keluarga tersebut menjadi sejuk dan tenteram sebagaimana disebutkan dalam Surat 25:74, Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah  kepada kami pasangan-pasangan kami dan keturunan-keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.

Catatan:

1.    Angka diatas berarti rujukan ayat al Quran, 28:56 berarti surat ke-28 ayat ke-56, mohon dibaca langsung al Qurannya sebagai sumber kebenaran.

2.    Mohon dicek kalau ada kesalahan dalam nomor ayat al Quran nya dan mohon ditambahkan untuk kesempurnaan.

,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: