Bantuan Sosial vs Keadilan Sosial

Tolong disebarkan kepada teman-teman yang mau 28:56

Silahkan bergabung dengan mailing groups bahasaquran di groups.yahoo.com.

Beberapa waktu yang lalu dalam diskusi dengan seorang sahabat, kami membahas tentang bagaimana membuat program amal saleh yang baik dan dapat ditiru oleh banyak orang. Beliau mengatakan bahwa terdapat perbedaan yang mendasar antara beramal saleh dengan sistem yang baik dan beramal saleh tanpa menggunakan sistem dan terdapat pula perbedaan mendasar antara bantuan sosial dengan keadilan sosial.

Ketika ada orang yang miskin datang ke rumah saya atau ketika saya mendatangi orang miskin ke rumah nya dan kemudian saya membantu mereka, maka ini disebut sebagai bantuan sosial. Namun ketika saya dapat menjamin bahwa tidak ada orang miskin yang tidak dapat makan karena miskin, ketika saya dapat menjamin bahwa tidak ada orang miskin yang sakit tidak dapat berobat karena miskin dan ketika saya dapat menjamin bahwa tidak ada orang miskin yang tidak dapat bersekolah karena miskin, ketika saya dapat memberikan jaminan itu kepada orang miskin di lingkungan rumah saya, maka itulah yang disebut sebagai keadilan sosial.

Sistem jaminan keadilan sosial inilah yang diatur oleh Allah, sebagaimana disebut dalam Surat 59:7, Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.

Allah mengatur di dalam sistem keadilan sosial ini bahwa ujian keimanan bagi orang kaya adalah sejauh mana orang kaya tersebut menolong orang miskin, sementara ujian keimanan seorang yang miskin adalah sejauh mana orang miskin tersebut dapat menolong orang yang relatif lebih miskin, sebagaimana disebutkan dalam Surat 6:53, Dan demikianlah telah Kami uji sebahagian mereka (orang-orang kaya) dengan sebahagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata: “Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah Allah kepada mereka?” (Allah berfirman): “Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepadaNya)?”

Di dalam suatu masyarakat, ujian keimanan orang kaya adalah terletak pada sejauh mana dia dekat dengan orang miskin, kemuliaan seseorang adalah sejauh mana dia bermanfaat bagi orang lain, sebagaimana disebutkan dalam Surat 89:15-20,Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku.” Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”. Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin, dan kamu memakan harta pusaka dengan cara mencampur baurkan (yang halal dan yang bathil),

Allah mengatur bahwa seseorang akan dijauhkan dari api neraka jika dia sadar untuk membangun sistem jaminan keadilan sosial dengan menolong orang miskin dalam rangka mencari keridhaan Allah, sebagaimana disebutkan dalam Surat 92:17-21,Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.

Sebaliknya Allah mengatur bahwa seseorang yang tidak sadar fungsinya untuk memberikan bantuan sosial atau membangun suatu sistem jaminan sosial akan dimasukkan ke dalam neraka, sebagaimana disebutkan dalam Surat 69:30-36, (Allah berfirman): “Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Maha Besar. Dan juga dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin. Maka tiada seorang temanpun baginya pada hari ini di sini. Dan tiada (pula) makanan sedikitpun (baginya) kecuali dari darah dan nanah.

Menjadi pertanyaan mengapa Allah mengatur sistem surga dan neraka untuk kemudian menghubungkannya dengan sistem bantuan sosial dan keadilan sosial di masyarakat agar masyarakat yang kaya dan miskin saling tolong menolong?

Allah mengatur sistem jaminan keadilan sosial ini pada dasarnya untuk membangun suatu masyarakat yang madani (Madinah) dimana hubungan masyarakatnya harmonis dan tidak ada kesenjangan yang terlalu dalam antara kaya dan miskin sehingga tercipta suatu sistem berkeadilan sosial yang adil dan makmur atau disebut sebagai baldatun toyyibatul wa rabbur ghafur.

Mengubah dari suatu kondisi bantuan kepada kondisi keadilan sosial membutuhkan kerjasama diantara kita semua dan membutuhkan suatu sistem yang mudah diikuti orang lain, bahkan pada skala yang besar, membutuhkan kepemimpinan dan sistem kenegaraan yang berdasarkan hukum Allah yang juga diadopsi ke dalam Pancasila khususnya dalam Sila Keempat, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Mewujudkan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia berarti memberikan jaminan kepada orang miskin, tidak ada orang yang tidak bisa makan karena miskin, tidak ada orang yang tidak bisa mendapatkan pendidikan yang terbaik karena miskin dan tidak ada orang yan tidak dapat berobat karena miskin.

Fenomena Gubenur Jakarta yang baru Jokowi-Ahok yang dalam waktu dekat akan membagikan kartu pintar dan kartu sehat sebenarnya mewujudkan keadilan sosial bagi warga Jakarta. Menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua bagaimana kartu pintar, kartu sehat dan satu lagi sebenarnya kartu makan dapat menjangkau penduduk miskin di seluruh Indonesia. Jika jaminan keadilan sosial ini terjadi atas dasar Ketuhanan Yang Maha Esa dengan ajaran kasih sayang, maka sebenarnya Darussalam itu tidak perlu menunggu nanti setelah mati tetapi dapat kita rasakan saat ini.

Semoga Indonesia ke depan mendapatkan pemimpin yang mewujudkan Darussalam sebagaimana ramalan Ronggowarsito bahwa pemimpin Indonesia ke depan adalah Satrio Pinanditho Sinisihan Wahyu atau pemimpin yang seperti begawan yang selalu dibimbing oleh hukum-hukum Tuhan.

Catatan:

1. Angka diatas berarti rujukan ayat al Quran, 28:56 berarti surat ke-28 ayat ke-56, mohon dibaca langsung al Qurannya sebagai sumber kebenaran.

2. Mohon dicek kalau ada kesalahan dalam nomor ayat al Quran nya dan mohon ditambahkan untuk kesempurnaan.

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: