Jarkoni

Tolong disebarkan kepada teman-teman yang mau 28:56

Silahkan bergabung dengan mailing groups bahasaquran di groups.yahoo.com.

Hari ini saya beserta keluarga mengunjungi ayah dan ibu saya. Selalu di dalam pertemuan dengan ayah, saya mengemukakan pengalaman berbagi pemahaman al Quran. Pagi tadi beliau memberikan nasehat dan pelajaran yang berharga bagi saya. Beliau mengatakan, hati-hati menyampaikan al Quran kalau kita tidak dapat dan sanggup melaksanakannya terlebih dahulu, lebih baik memahami al Quran sedikit tetapi dilaksanakan dibandingkan banyak memahami dan mengajarkan tetapi tidak melaksanakannya. Terdapat suatu istilah di Jawa yaitu “Jarkoni” atau “iso ngajar ora iso ngelakoni” yang berarti bisa mengajarkan namun tidak dapat melakukannya.

Saya sebagai seorang hamba Allah yang berada di dalam suatu sistem yang diatur oleh pedoman hidup yang namanya al Kitab atau al Quran, memang harus menerima dan memperlakukan al Quran dengan cara membaca, mempelajari, memahami, melaksanakan, mensyiarkan dan melestarikan atau seringkali disebut sebagai “6M”. 6M ini adalah suatu paket yang tidak dapat dipilih salah satu dan merupakan suatu urutan yang sebaiknya dijalankan kalau memang saya ingin mendapatkan kesuksesan hidup sebagai makhluk Allah.

Demikian pula di dalam menyampaikan ayat al Quran, tidak bisa ditawar lagi bahwa kita harus menjalankannya terlebih dahulu. Jangan sampai terjebak di dalam kondisi Jarkoni karena Jarkoni adalah suatu perilaku yang sangat dibenci oleh Allah, sebagaimana disebutkan dalam Surat 61:1-3, Telah bertasbih kepada Allah apa saja yang ada di langit dan apa saja yang ada di bumi; dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. Lebih lanjut, Allah juga menyampaikan sindiran kepada orang-orang yang suka menyampaikan ayat tetapi tidak menjalankannya, sebagaimana disebutkan dalam Surat 2:44, Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab? Maka tidaklah kamu berpikir?

Semakin saya menyampaikan ayat, jika tidak saya kerjakan terlebih dahulu, maka sebenarnya semakin besar kebencian Allah kepada saya. Hal ini tentu saja tidak membuat saya menjadikan takut untuk menyampaikan ayat, karena Allah juga akan memberikan status musyrik atau mempersekutukan Allah, jika saya enggan untuk menyampaikan ayat-ayat-Nya, sebagaimana disebutkan dalam Surat 28:87, Dan janganlah sekali-kali mereka dapat menghalangimu dari (menyampaikan) ayat-ayat Allah, sesudah ayat-ayat itu diturunkan kepadamu, dan serulah mereka kepada (jalan) Tuhanmu, dan janganlah sekali-sekali kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.Jika saya enggan untuk menyampaikan ayat, maka segala jerih payah beramal saleh yang selama ini saya lakukan akan sia-sia karena telah dicap musyrik oleh Allah, sebagaimana disebutkan dalam Surat 6:88, Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.

Tentang ucapan dan perbuatan ini, saya senang untuk menggunakan sebuah perumpamaan bahwa ucapan itu adalah saya yang bercermin di muka cermin datar dan perbuatan adalah refleksi atau pantulan yang terlihat di cermin tersebut. Semuanya serba sama dan sesuai. Tidak mungkin kaca itu berbohong dan mengubah-ubah obyek di muka nya. Ucapan dan perbuatan yang konsekuen dan kongruen ini pada akhirnya akan membentuk karakter yang baik sesuai dengan kehendak Allah.

Sebagai contoh dalam hal bersedekah. Cara yang paling baik di dalam menyampaikan ajaran bersedekah adalah dengan memberi contoh. Memberi contoh di sini artinya adalah memperlihatkan dengan terang-terangan atas sedekah yang kita lakukan dengan tujuan agar orang lain dapat mencontohnya dengan lebih baik, bukan dengan niat menyombongkan diri. Mari kita perhatikan Surat 2:271, Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Menampakkan sedekah dengan terang-terangan di dalam ayat diatas disebut sebagai baik sekali atau the best, sementara menyembunyikan sedekah disebut sebagai lebih baik atau better. Menjadi pertanyaan, lebih baik dari apa? Jawabannya adalah bersedekah dan tidak menampakkan untuk mengajak orang lain adalah better than nothing atau lebih baik daripada tidak bersedekah sama sekali.

Fenomena kesatuan antara penyampaian ayat al Quran dan perbuatan secara konsekuen dan kongruen ini perlu dibahas dalam dua aspek di dalam kehidupan kita. Pertama dari sisi orang yang menerima ayat. Kedua dari sisi orang yang menyampaikan ayat.

Pertama, dari sisi orang yang menerima ayat, saya melihat banyaknya orang-orang yang menjadikan mengaji menjadi aktifitas ucapan tanpa perbuatan. Banyak juga yang menjadikan mengaji al Quran sebagai sebuah hobi atau kegiatan mengisi waktu. Banyak ibu-ibu yang mengikuti pengajian di sana-sini karena ikut-ikutan dengan temannya untuk bersosialisasi. Ketika bertemu sepuluh tahun kemudian, mereka masih mengaji di tempat yang sama dengan ilmu yang tidak bertambah. Pengajian yang tidak disertai dengan perbuatan yang konkret dalam bentuk amal sholeh bersama-sama atau sendiri-sendiri adalah pengajian yang malahan menghasilkan kebencian di sisi Allah sebagaimana disebutkan dalam ayat diatas. Lebih lanjut, Allah tidak beserta orang yang suka mengaji, tetapi Allah beserta orang yang bertakwa dan berbuat baik, sebagaimana disebutkan dalam Surat 16:128, Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. Pengajian hendaknya disatu paketkan dengan program-program beramal saleh secara konkrit dan tidak hanya menghabiskan waktu mengkaji atau bahkan memperdebatkan ayat-ayat Allah. Ciri-ciri pengajian yang hanya mengkaji ayat-ayat Allah tanpa diikuti dengan program amal saleh yang konkrit adalah “pengajian abadi” dimana peserta pengajian yang tetap bodoh dan adanya ketergantungan kepada ustad selamanya. Insya Allah kita terhindar dari forum-forum pengajian abadi semacam itu.

Kedua, dari sisi penyampai ayat, saya juga melihat banyaknya pemuka agama yang tidak satu kata dengan perbuatan. Apa yang disampaikan tidak secara konsekuen, konsisten dan kongruen dilakukannya. Ayat-ayat Allah seringkali dipergunakan untuk kepentingan kelompok, golongan, politik, uang dan bahkan syahwat si penyampai ayat. Mereka menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang sangat murah, sebagaimana disebutkan dalam Surat 2:174, Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih.

Ada orang-orang yang seharusnya dijadikan panutan malahan mengambil keuntungan dari para jamaah atau orang lain baik, sebagaimana telah diperingatkan Allah di dalam Surat 9:34, Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim dan rahib-rahib (pemuka agama) benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih,

Oleh karena itu, sekali lagi diingatkan oleh Allah bahwa manusia-manusia panutan yang layak diikuti jika kita ingin mendapatkan petunjuk dari Allah adalah manusia-manusia yang tidak meminta upah apapun dalam menyampaikan ayat-ayat Allah, sebagaimana disebutkan dalam

Surat 6:90, Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah: “Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al-Quran).” Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh ummat.

Surat 36:21,  Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Manusia-manusia yang dapat dijadikan panutan adalah manusia yang terlebih dahulu suka bersedekah sebelum mengajak orang lain bersedekah, terlebih dahulu terbiasa beramal saleh sebelum mengajak orang lain beramal saleh, terlebih dahulu berserah diri kepada aturan Allah secara murni sebelum mengajak orang lain kepada al Quran.

Insya Allah kita dapat diperjalankan menjadi imam bagi orang-orang bertakwa yang dapat memberikan suri tauladan sebelum menyampaikannya sebagaimana disebutkan dalam ajaran Ki Hajar Dewantoro, ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani (dari belakang memberikan dukungan dan arahan, di tengah bersama-sama membangun prakarsa dan program-program dan di depan selalu memberikan suri tauladan yang baik)

Catatan:

1. Angka diatas berarti rujukan ayat al Quran, 28:56 berarti surat ke-28 ayat ke-56, mohon dibaca langsung al Qurannya sebagai sumber kebenaran.

2. Mohon dicek kalau ada kesalahan dalam nomor ayat al Quran nya dan mohon ditambahkan untuk kesempurnaan.

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: