Nafsu Wahidah

Tolong disebarkan kepada teman-teman yang mau 28:56

Silahkan bergabung dengan mailing groups bahasaquran di groups.yahoo.com.

 

Di dalam proses pembuahan manusia, Allah selalu menggunakan kata-kata “Tuhanmu atau Dialah yang menciptakan kamu dari nafsu wahidah…”. Nafsu wahidah seringkali diterjemahkan sebagai diri yang satu atau Nabi Adam.

Marilah kita perhatikan:

Surat 4:1, Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri (nafsu wahidah), dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.

Di dalam Surat 4:1 diatas, disebutkan bahwa “….. Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari nafsu wahidah…”. Nafsu wahidah dalam ayat diatas diterjemahkan sebagai “diri yang satu” yang mengacu kepada Nabi Adam.

Lebih lanjut disebutkan pula bahwa “…. dari padanya Allah menciptakan zaujaha…” Zaujaha dalam ayat diatas diterjemahkan sebagai isteri.

Di dalam ayat diatas terdapat pula kata-kata “….. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta…”

Terdapat tiga hal yang hendak saya bahas dalam ayat diatas.

Pertama, nafsu wahidah secara hakikat dapat bermakna lebih dalam dari hanya sekedar Nabi Adam. Nafs berarti keinginan dan wahidah adalah satu. Nafsu wahidah berarti keinginan Allah yang satu dalam menciptakan manusia. Nafsu wahidah berarti visi dan misi Allah yang satu dalam menciptakan manusia.

Kedua, zaujaha memiliki makna pasangan atau seringkali disebut sebagai azwaja, bukan hanya sekedar istri, tetapi dapat bermakna suami.

Ketiga, kata-kata “….bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta…” sebagaimana telah dibahas dalam email sebelumnya bahwa arti asma Allah adalah isme Allah atau ajaran Allah karena Allah lebih berkepentingan saya untuk melaksanakan ajarannya dibandingkan rajin menyebut-nyebut namanya. Ajaran Allah adalah ar-Rahman dan ar-Rahim sebagaimana disebutkan dalam bismillahir rahmaanir rahim (dengan ajaran allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang). Jika kita mengambil kesimpulan ini, maka penjelasan selanjutnya bahwa kita harus menjaga hubungan silaturahim atau hubungan antar manusia dengan berdasarkan ajaran kasih sayang menjadi klop.

Jika pemahaman nafsu wahidah atau visi dan misi Allah yang satu ini dapat dipahami dengan benar, maka kita akan mengetahui maksud Allah untuk mengadakan manusia di muka bumi ini dengan visi dan misi yang satu (nafsu wahidah), yaitu agar manusia sejagad ini bertakwa kepada Allah dan berhubungan satu sama lain atas dasar ajaran kasih sayang. Dahsyat sekali.

Jika ada dua orang manusia yang saling bertengkar, maka itu tidak sesuai dengan nafsu wahidah, oleh karena itu pertengkaran tidak diridhoi Allah.

Jika ada dua suami istri berselisih, maka itu tidak sesuai dengan nafsu wahidah.

Jika ada murid dua sekolah tawuran, maka itu tidak sesuai dengan nafsu wahidah.

Jika ada dua partai politik berseteru, maka itu tidak sesuai dengan nafsu wahidah.

Dan jika ada dua negara berperang, maka itu juga tidak sesuai dengan nafsu wahidah.

Lebih lanjut, sebagai bagian dari visi dan misi yang satu atau nafsu wahidah, Allah juga memiliki keinginan agar ketika agar manusia tidak menyembah manusia yang lain, agar ketika ada bayi yang lahir di muka bumi ini tidak menjadi sesembahan manusia yang lain, termasuk ayah dan ibunya. Tidak boleh ada manusia di muka bumi ini yang dijadikan tempat pemujaan manusia yang lain, karena hanya Allah lah Tuhan yang layak untuk disembah.

Marilah kita perhatikan Surat 7:189-192, Dialah Yang menciptakan kamu dari nafsu wahidah dan dari padanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, isterinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami-isteri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata: “Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah kami terraasuk orang-orang yang bersyukur.” Tatkala Allah memberi kepada keduanya seorang anak yang sempurna, maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianugerahkan-Nya kepada keduanya itu. Maka Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan. Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhada-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatupun? Sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang. Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiripun berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan.

Banyak sekali orang tua yang ketika anaknya lahir tujuan hidupnya berubah, hidup demi anak, mencari nafkah demi anak, segalanya demi anak. Mereka khilaf bahwa seharusnya segala aktifitas alam hidup ini ditujukan semata-mata mencari keridhaan Allah. Ini tidak sesuai dengan nafsu wahidah atau visi dan misi Allah yang satu dalam menciptakan manusia.

Banyak pula orang yang menuhankan orang lain, seperti misalnya pemimpin partai atau pemuka agama. Mereka menjadi tuhan-tuhan selain Allah yang dapat mengatakan bahwa “ini dari Allah” dengan mengadakan hukum-hukum baru, sebagaimana disebutkan dalam Surat 2:79, Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.

Jika ada manusia yang mempertuhan manusia lain mulai dari sifat yang terlihat sampai yang tersembunyi, maka Allah Yang Maha Mengetahui akan mengatakan bahwa ini tidak sesuai dengan nafsu wahidah atau visi dan misi Allah yang satu dimana ketika Dia menciptakan manusia, malahan manusia ciptaan-Nya itu menjadi sesembahan manusia yang lain.

Alangkah mulianya jika saya dan sahabat sekalian dapat memahami visi dan misi Allah yang satu sehingga kita dapat hidup di dalamnya, mewujudkan visi dan misi Allah yang satu, dimana manusia bertakwa dan tidak mempersekutukan Allah dan selalu berhubungan satu dengan yang lain berdasarkan ajaran-Nya yaitu kasih sayang.

 

Catatan:

1. Angka diatas berarti rujukan ayat al Quran, 28:56 berarti surat ke-28 ayat ke-56, mohon dibaca langsung al Qurannya sebagai sumber kebenaran.

2. Mohon dicek kalau ada kesalahan dalam nomor ayat al Quran nya dan mohon ditambahkan untuk kesempurnaan.

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: