Wahyu vs Mushaf (bag. 1)

mushafTolong disebarkan kepada teman2 yang mau 28:56.

Silahkan bergabung dengan mailing groups bahasaquran di groups.yahoo.com

 

Allah menciptakan manusia di bumi ini dengan sebuah sistem yang tertata rapi dan tidak akan pernah berubah sejak pertama kali penciptaan makhluk. Sebelum Allah menciptakan makhluk, terlebih dahulu Allah menciptakan aturan yang akan menjadi pegangan dari seluruh makhluk Allah. Aturan itulah yang dinamakan sebagai al Quran atau cahaya yang tertinggi atau terpuji atau disebut pula sebagai Cahaya Muhammad (Muhammad dalam bahasa Arab berarti tertinggi, terpuji dan termulia). Aturan ini yang disebutkan dalam al Quran sebagai aturan main atau peringatan bagi semesta alam, sebagaimana disebutkan dalam:

 

Surat 81:27, Al Qur’an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam.

Surat 38:87, Al Quran ini tidak lain hanyalah peringatan bagi semesta alam.

 

Setelah diciptakan alam semesta dan bumi yang menjadi infrastruktur kehidupan manusia, barulah kemudian Allah menciptakan manusia. Sebagai bagian dari alam semesta atau makhluk ciptaan Allah yang diatur oleh aturan main yang bernama al Quran, maka manusia pun diatur Allah dengan Cahaya Muhammad yaitu al Quran, sebagaimana disebutkan dalam Surat 45:20, Al Quran ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini.

 

Meskipun sama-sama diatur dengan aturan main al Quran, namun terdapat perbedaan antara jin dan manusia dengan makhluk Allah dalam alam semesta lainnya.                Bagi manusia, Allah memberikan pilihan, sebagaimana disebutkan dalam Surat 68:37-38, Atau adakah kamu mempunyai sebuah kitab (yang diturunkan Allah) yang kamu membacanya? bahwa di dalamnya kamu benar-benar boleh memilih apa yang kamu sukai untukmu.

 

Tidak seperti makhluk lain yang terpaksa karena tidak memiliki pilihan, manusia boleh memilih untuk ingkar kepada aturan atau tunduk patuh kepada aturan-Nya (dalam bahasa Arab tunduk patuh berarti Aslam atau Islam), sebagaimana disebutkan dalam Surat 3:83, Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri (ASLAMA) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.

 

Al Quran yang menjadi aturan Allah untuk seluruh semesta alam inilah yang disebut sebagai al Quran yang tersimpan dalam Lauhul Mahfuzh, sebagaimana disebutkan dalam Surat 56:77-78, Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh)Al Quran yang menjadi aturan main seluruh makhluk Allah yang tersimpan di Lauhul Mahfuzh inilah yang disebutkan dalam al Quran sebagai ayat-ayat Allah yang tidak sanggup dituliskan manusia, sebagaimana disebutkan dalam Surat 31:27, Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

 

Dalam perjalanan penciptaan makhluk, Allah kemudian menurunkan al Quran yang tersimpan dalam Lauhul Mahfuzh ini kepada makhluk-makhluk-Nya sesuai dengan tujuan penciptaan dan deskripsi kerja masing-masing. Pemberian petunjuk dengan menurunkan al Quran yang tersimpan di Lauhul Mahfuzh inilah yang disebutkan sebagai wahyu. Wahyu adalah petunjuk Allah yang diturunkan sebagai aturan main.

 

Wahyu tidak hanya diturunkan kepada manusia, tetapi kepada setiap makhluk Allah karena makhluk Allah juga harus mengikuti aturan main Allah. Sebagai contoh, di dalam al Quran disebutkan bahwa lebahpun mendapatkan wahyu, sebagaimana disebutkan dalam Surat 16:68, Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia”.

 

Di dalam ayat yang lain juga dikatakan bahwa Allah menurunkan wahyu al Quran kepada langit agar langit tahu akan aturan main hukum sunnatullah, sebagaimana disebutkan dalam Surat 41:12, Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa. Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

 

Malaikat pun sebagai makhluk  Allah juga mendapatkan wahyu untuk dirinya sendiri yaitu memiliki tugas dan fungsi untuk meneguhkan hati orang-orang yang beriman, sebagaimana disebutkan dalam Surat 8:12, (Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman.” Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka.

 

Mengingat setiap makhluk Allah memiliki tugas dan fungsi yang berbeda-beda, maka wahyu yang diturunkan Allah kepada satu jenis makhluk dengan jenis makhluk lainnya juga berbeda-beda. Meskipun substansi wahyu dari masing-masing jenis makhluk berbeda-beda, namun cara Allah menurunkan wahyu adalah sama yaitu melalui malaikat, sebagaimana disebutkan dalam Surat 16:2, Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, yaitu: “Peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka hendaklah kamu bertakwa kepada-Ku.”

 

Sebagai bagian dari makhluk Allah, manusia pun mendapatkan wahyu dari Allah. Perbedaan manusia dengan makhluk Allah yang lain adalah manusia mendapatkan wahyu Allah dari al Quran tidak melalui sembarangan malaikat, namun melalui malaikat Jibril. Marilah kita perhatikan Surat 72:26-28, Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan.

 

Memang Allah tidak menurunkan wahyu-Nya kepada seluruh manusia, tetapi hanya kepada manusia yang memenuhi persyaratan aturan main, karena wahyu Allah adalah cara Allah berkomunikasi dengan manusia, sebagaimana Dia berkomunikasi dengan lebah, langit dan malaikat di atas. Marilah kita perhatikan Surat 42:51, Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.

 

Perbedaan antara manusia biasa dan para Nabi adalah para Nabi diturunkan wahyu langsung dari Lauhul Mahfuzh, sedangkan manusia biasa mendapatkan wahyu yang dahulu pernah diturunkan kepada para Nabi. Al Quran yang tersimpan di Lauhul Mahfuzh diturunkan sejak Nabi yang pertama atau Nabi Adam, sampai dengan Nabi Muhammad. Sebagai fungsi untuk mengatur manusia, al Quran diturunkan Allah perlahan-lahan sesuai dengan kebudayaan dan cara berpikir manusia yang terus berkembang, sebagaimana disebutkan dalam Surat 17:106, Dan Al Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.

 

Al Quran ini kemudian disempurnakan turunnya pada masa Nabi Muhammad dimana ayat terakhir yang diturunkan adalah Surat 5:3, Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

(bersambung)

 

Catatan:

1. Angka diatas berarti referensi ayat al Quran, 28:56 berarti surat ke-28 ayat ke-56, mohon dibaca langsung al qurannya sebagai sumber kebenaran.

2. Mohon dicek kalau ada kesalahan dalam no. ayat al Quran nya Dan mohon ditambahkan unt kesempurnaan

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: