Wahyu vs Mushaf (bag. 2)

Tolong disebarkan kepada teman2 yang mau 28:56.

Silahkan bergabung dengan mailing groups bahasaquran di groups.yahoo.com

 

Nabi Muhammad di dalam menerima wahyu Allah tidak sekaligus, tetapi disebutkan melalui proses selama 22 tahun, 2 bulan dan 22 hari. Mengingat tunduk dan patuhnya Nabi Muhammad kepada aturan Allah, maka Nabi Muhammad tidak pernah mau menulis wahyu yang telah diterimanya, tetapi memerintahkan para sahabat untuk mendokumentasikannya, sebagaimana disebutkan dalam Surat 29:48, Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al Quran) sesuatu Kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu). Jikalau Nabi Muhammad menulis wahyu yang telah didapatkannya dari Allah, maka akan muncul tuduhan bahwa apa yang didapatkannya itu berasal dari dirinya dan bukan dari Allah.

 

Ketika Nabi Muhammad mendapatkan wahyu, malaikat Jibril menjelaskan aturan Allah tersebut dengan berdasarkan empat prinsip.

 

Pertama, malaikat Jibril menjelaskan wahyu yang diterima Allah dengan sangat jelas, sebagaimana disebutkan dalam Surat 12:111, Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.

 

Kedua, penjelasan yang diterima juga berbentuk dialog sehingga Nabi Muhammad mendapatkan penjelasan yang sempurna, tidak ada pertanyaan lagi, karena beliau harus menyampaikannya kepada umatnya, sebagaimana disebutkan dalam Surat 14:52, (Al Quran) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan-Nya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.

 

Ketiga, penjelasan yang diterima juga runtut dan urut atau dalam bahasa Arab disebut dengan tartil, sebagaimana disebutkan dalam Surat 11:1, Alif laam raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha TahuSeringkali orang mengartikan tartil sebagai membaca dengan tajwid yang benar, padahal makna tartil sebenarnya adalah urut dan runtut sesuai dengan alur penjelasan Allah melalui malaikat Jibril, sebagaimana disebutkan dalam Surat 25:32, Berkatalah orang-orang yang kafir: “Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?”; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar).

 

Keempat, penjelasan yang diterima Nabi Muhammad dari malaikat Jibril juga bersifat bagian-demi-bagian, sebagaimana disebutkan dalam Surat 17:106, Dan Al Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian. Mengingat sifatnya yang bagian-demi-bagian ini maka diskusi Nabi Muhammad dengan malaikat Jibril selalu fokus kepada satu masalah tertentu, terkadang tidak boleh interupsi kalau itu menjadi tidak fokus, sebagaimana disebutkan dalam Surat 5:101, Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al Quran itu diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu, Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.

 

Setelah ayat-ayat yang merupakan bagian dari penjelasan ini diturunkan kepada Nabi Muhammad, maka kemudian para sahabat diperintahkan untuk mendokumentasikan ayat-ayat tersebut baik melalui tulisan di pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit atau daun kayu, pelana, potongan tulang belulang binatan dan juga melalui hafalan   al Quran yang selalu di cek beliau, misalnya ketika shalat tarawih berlangsung. Proses pendokumentasian dalam bentuk tulisan dan buku ini berlangsung terus sampai dengan Nabi Muhammad wafat dan turunnya ayat yang terakhir. Salah satu sahabat Nabi yang ditugasi untuk menghafalkan al Quran karena kecerdasannya adalah Zaid bin Tsabit.

 

Setelah Nabi Muhammad wafat, barulah dimulai proses mengumpulkan ayat-ayat al Quran tersebut menjadi sebuah kitab atau mushaf. Proses pengumpulan ayat hingga menjadi mushaf yang lengkap ini membutuhkan waktu sekitar lima puluh tahun atau selama khalifah Abu Bakar, khalifah Umar bin Khattab dan khalifah Usman bin Affan. Proses pengumpulan ini selesai pada khalifah Usman bin Affan, karena itu meskipun ada empat jenis mushaf, namun mushaf yang kita baca secara umum disebut sebagai mushaf Usmani.

 

Terdapat hal menarik ketika kita membaca al Quran yang telah dibukukan dalam bentuk mushaf dan perbedaannya dengan al Quran yang pada saat itu diturunkan oleh malaikat Jibril dalam bentuk wahyu. Al Quran dalam bentuk mushaf ini merupakan urutan ayat dimana urutannya tidak didasarkan kepada empat prinsip diatas.

 

Pertama, ketika membaca satu ayat saja, kita tidak akan mendapatkan penjelasan atas suatu masalah, karena ketika malaikat Jibril menjelaskan suatu masalah, beliau tidak menggunakan hanya satu ayat.

 

Kedua, ketika membaca al Quran dengan urutan Mushaf Usmani, kita juga mendapatkan penjelasan yang tidak urutan, karena itu tidak ada kemudharatan jika kita membaca al Quran tidak sesuai dengan urutan mushaf Usmani, sebagaimana disebutkan dalam Surat 41:41:42, Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari Al Quran ketika Al Quran itu datang kepada mereka, (mereka itu pasti akan celaka), dan sesungguhnya Al Quran itu adalah kitab yang mulia. Yang tidak datang kepadanya (Al Quran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.

 

Ketiga, karena tidak urutan, maka penjelasan yang kita terima dari mushaf Usmani juga tidak menjelaskan bagian-demi-bagian.

 

Oleh karena itu, pantas saja jika kita membaca al Quran sesuai urutan dari mushaf Usmani, kita tidak akan memahami al Quran sesuai dengan pemahaman yang diterima Nabi Muhammad dari malaikat Jibril karena pada akhirnya yang menentukan urutan Surat dan ayat dalam al Quran adalah melalui proses pembukuan di jaman Khalifah Usman.

 

Melihat penjelasan tentang apa itu wahyu dan apa itu mushaf, dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat empat prinsip utama yang membedakan antara wahyu dengan mushaf.

 

Sampai kapanpun kita memahami al Quran jika dengan membaca sesuai dengan urutan mushaf Usmani, kita tidak akan dapat memahami al Quran sesuai dengan pemahaman yang diterima Nabi Muhammad dari malaikat Jibril, karena pemahaman yang diterima dari malaikat Jibril adalah dalam bentuk wahyu, sementara yang kita baca adalah mushaf yang tidak urut, tidak merupakan penjelasan bagian-demi-bagian, tidak merupakan penjelasan yang sempurna dan menjelaskan segala sesuatu yang merupakan urusan manusia.

 

Menjadi pertanyaan, lalu bagaimana menjadikan al Quran dalam bentuk mushaf ini menjadi penjelasan seperti yang didapatkan Nabi Muhammad melalui malaikat Jibril?

(bersambung)

 

Catatan:

1. Angka diatas berarti referensi ayat al Quran, 28:56 berarti surat ke-28 ayat ke-56, mohondibaca langsung al qurannya sebagai sumber kebenaran.

2. Mohon dicek kalau ada kesalahan dalam no. ayat al Quran nya Dan mohon ditambahkan untuk kesempurnaan

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: